5 cm


5 cm ini adalah film yang lucu dengan joke segar dan tingkah konyol yang tampak alami. Semua karakter mudah sekali dicintai. Rasanya dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Sampai di gerbang Tengger-Bromo-Semeru kita pasti iri sama mereka. Yudi Datau jago betul melempar warna-warna cantik dari gunung. Siapapun yang nonton pasti jadi pengen naik gunung juga.

Sayang gambar supercantik itu ga sejalan dengan pengolahan cerita yang apik paska melewati gerbang. Jalan cerita tidak berkembang, dan konflik terkesan dipaksakan. Jadinya sejak mereka sampai di gunung hingga pendakian berakhir, berasa sedang nonton advertorial wisata Indonesia dengan pesan-pesan propaganda cinta tanah air.

Perubahan di sini drastis betul. Kayak ada mobil di samping kanan yang tetiba belok kiri tanpa ngasih lampu sen. Film yang tadinya konyol dan bernuansa cinta-cintaan, langsung ganti tema jadi cinta tanah air.

Persoalan tema sih ga akan jadi masalah kalau berjalan mulus dan pelan-pelan, yang bikin perubahan jadi terkesan drastis adalah dialog yang langsung berubah 100%. Seperti film Indonesia masa Suzanna dan Barry Prima, semua pesan moral dalam film diucapkan secara verbal.

Dialog-dialog jadi terlalu dramatis, bahkan diucapkan dengan nada deklamasi (tanpa menghitung tingkah Zafran yang emang uda cetakannya begitu).

Walaupun waktu tetangga kami, kelompok pecinta alam di sekretariat bersama kampus, sering tetiba puitis dan teriak-teriak membacakan puisi di kala mabok, aku cukup yakin mereka tidak bercakap-cakap dengan nada dan pilihan kata seperti itu kala mendaki gunung.

Belum selesai kaget karena mobil di kanan tetiba belok kiri tanpa sen, mobil yang sama ujug-ujung memotong jalurku. Sekejap dia sudah berada di depanku.

Ya, setelah seluruh adegan dramatis, puitis, penuh tema nasionalisme, setelah pendakian usai, tema tetiba balik lagi soal cinta-cintaan. Aku bilang sih ya gapapa pindah-pindah gitu, selama perlahan. Persoalannya eksekusinya terlalu cepat. Kayak mobil yang jalannya zig-zag tadi.

Hal lain yang mengganggu adalah persoalan sound. Mungkin ini masalah di bioskop tempat aku saja, atau di semua bioskop? Ada sesuatu yang agak mengganggu dengan efek suara dari film ini. Aku ga ngerti istilah perfilman, intinya pengisian suara terasa janggal. Seperti efek suara di sinetron atau FTV. Belum lagi persoalan kecil seperti suara yang kadang tidak pas dengan gerak bibir.

Oya, Tante Karen kirim salam dari film ini. Jangan lupa beli pertamax ya!



Nb: Please siapapun jangan tiru cara genta ngasi pertolongan pertama. Inget ga waktu SMA diajarin ngasi nafas buatan itu kepalanya harus didongakin (pegang kening dan angkat dagu), untuk buka jalan nafas? Di adegan itu kepala Ian tidak mendongak. Dan yang paling parah, dari mana rumusnya ngasi nafas buatan mulut orang masih penuh pasir?!

---------------------------------------------------------

Sutradara: Rizal Mantovani
Produser: Sunil Soraya
Penulis Naskah: Donny Dirgantoro
Pemeran: Herjunot Ali, Raline Shah, Fedi Nuril, Pevita Pearce, Igor Saykoji, Denny Sumargo
Tanggal Edar: Rabu, 12 Desember 2012
Musik: Nidji
Sinematografi: Yudi Datau
Studio: Soraya Intercine Film
Durasi: 130 menit
Bahasa: Indonesia

Comments

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual