Keluh

Kelas 1 SMA, setelah membaca Ironi Satu Kota Tiga Tuhan: Deskripsi Jurnalistik dari Yerussalem, karangan T Taufiqulhadi, seketika saya ingin menjadi wartawan.

Buku itu mengubah cara pandang saya soal agama, dan beragama dalam kehidupan sehari-hari.

Saya jadi merasa apa-apa yang ditulis wartawan, dan dibaca banyak orang berdampak besar terhadap pengetahuan kolektif. Bahkan seorang pemikir yang saya lupa namanya pernah bilang: mayarakat pintar kalau mereka punya wartawan dan media yang cukup cerdas untuk mencerdaskan. Ga gitu juga sih omomgannya. Lebih-kuranglah.

Bukan cita-cita yang mulia kata ayah. Namun setelah 10 tahun sejak tercetusnya ide itu, jadi wartawan juga akhirnya.

Saya begitu suka jadi wartawan. Belajar banyak hal setiap hari, bertemu hal-hal baru setiap hari. Cari-cari data di internet dan perpustakaan (beberapa orang menggunakan kata riset, bagi saya ini terlalu cemen untuk disebut riset. Toh cuma mengumpulkan data ecek-ecek), konfirmasi ke narasumber, bertemu dengan banyak jenis manusia, menulis (dan berharap dibaca) seolah saya mengerti betul, dan bersiap menemui kejutan berbeda setiap harinya.

Meski tidak besar, gaji saya lumayan untuk ukuran seorang wartawan.

Tidak ada satu hal pun yang bisa dikeluhkan. Semuanya berjalan sesuai rencana. Meski saat SMA ingin jadi wartawan perang, dan akhirnya jadi wartawan perbankan, saya kira rencana saya tidak meleset terlalu jauh.

Saya pun jatuh cinta dengan pekerjaan ini, saya sudah menikahi dunia saya yang baru ini. Meski sempat khawatir setengah mati karena tidak bisa baca laporan keuangan yang rumit itu (terutama bank syariah), tidak mengerti logika fungsi moneter BI, tidak paham soal bisnis bank, toh saat ini saya justru semangat betul dengan isu-isu perbankan.

Sayang sekali 1 bulan-2 bulan belakangan, saya jadi sering mengeluh. Kemarin siang saya sampai muak sendiri ketika menyadari betapa seringnya saya mengeluh.

Sebenarnya saya tidak hanya menggerutu-gerutu sendiri. Keluhan saya sampaikan pada atasan, dan atasannya atasan. Hingga ke dua level di atas saya. Namun ini memang hal yang sulit diubah.

Keluhan kali ini memang bukan asal keluhan. Saya sampai mengiyakan tawaran seorang teman untuk magang di kantornya, dan serta merta membuat CV, dan langsung dikirimkan seketika. Bayangkan, saya sampai rela meninggalkan pekerjaan yang begitu saya cinta hanya untuk menjadi pegawai magang.

Namun sore tadi, saya pikir ini saatnya untuk berhenti menggali lubang yang tidak perlu. Maka saya mulai meminta maaf ke beberapa orang yang sering kali dijadikan tempat berkeluh kesah, dan berjanji akan berhenti mengeluh, karena tidak sehat untuk emosi dan mental.

Seluruh teman bilang keluhan saya masih dalam tahap wajar. Toh dua tahun saya tidak pernah mengeluh sampai begini, juga keadaannya memang tidak menyenangkan. Namun, siapa yang tahu kalau mereka bilang begitu cuma karena tidak enak untuk jujur mengatakan bahwa saya memang berisik dan ganggu sebulan belakangan.

Lalu saya pikir, yasudahlah. Dari pada mengeluh menghabiskan energi, baiknya saya fokus saja pada diri sendiri, tidak usah lagi mempedulikan masalah ini. Biar saja bos mau apa, maka saya kerjakan yang mau saya kerjakan, kumpulkan tugas tepat waktu, dan fcuk the rest.

Lalu pagi tadi rasanya seperti mendapat energi baru. Meski kemampuan menulis saya tidak serta merta menjadi baik dan tingkat kerajinan juga tidak melonjak jauh, tetapi rasanya hari ini jadi begitu cerah.

Seperti kata Tupac Shakur: It's not going to stop, until we stop it!

Comments

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual