Atambua 39' C, karena setiap tempat berpagar bisa berubah jadi negara*

Siang kemarin saya menulis di twitter: "Atambua 39 derajat celsius bagus banget!"

Beberapa menit kemudian saya mendapat dua reply dari seorang teman yang mempertanyakan dua hal: pertama dia tidak mengerti mengapa saya bilang itu film bagus banget. (Meski dia merasa film ini memiliki pesan bagus, agaknya dia tidak merasakan nikmat yang saya dapat.)

Kedua dia mempertanyakan apa hubungan 39 derajat celsius dengan film garapan Riri Riza itu.

Saya sih penonton bodoh yang serta merta menyebut suatu film adalah bagus ketika saya merasa nikmat, ya sudah begitu saja. Tidak usah dipikir lagi.

Namun, setelah ditanya, penasaran juga. Apa hubungannya 39 derajat celsius, dan kenapa saya bisa begitu nikmat menonton itu.

Pertama-tama, saya googling.
"what happen to you when your're body temperature is 39 degrees celsius"
dan
"what lays in 39 degrees celsius"

Jawabannya memuaskan, 39 derajat celsius adalah titik kritis demam tinggi sebelum mengalami kejang. Dan 39 derajat celsius adalah batas toleransi tubuh manusia saat bekerja luar ruang.

Maka 39 derajat celsius bercerita banyak.

Saya pikir secara denotatif angka itu bisa menunjukan panasnya suhu di Atambua, ibu kota Belu. Secara konotatif, mungkin itu suhu politik yang begitu panas, kondisi psikologis yang begitu kacau, dan emosi yang terkuras habis.

Saat film dibuka dengan pemandangan cantik lautan, rekaman suara, dan kesedihan yang intens, saya kira kita sudah mulai diajak masuk ke dalam trauma Ronaldo yang meninggalkan istrinya di Timor Leste.

Ronaldo bukan sekadar pria keras berlagak preman, tukang mabuk, dan tak sekalipun menunjukan kasih pada Joao. Dia adalah nasionalis yang merindukan istri dan anak-anak perempuannya. Laki-laki yang kebingungan berpegang pada janji, atau kembali pada kehangatan rumah.

"Laki-laki Timor, tidak boleh melanggar janji," katanya.

Lalu Joao tumbuh menjadi anak yang kehilangan rumah. Joao anak yang lugu lagi patuh. Tertutup, dan tidak bisa menunjukan rasa sayang. Joao itu seperti teman di SMA yang selalu duduk di pojok kelas, tidak banyak berinteraksi. Dia punya teman main, tetapi di "geng"nya dia adalah si anak pendiam yang lebih banyak memperhatikan alih-alih ikut menentukan.

Sampai seseorang dari masa lalu datang, Nikia. Dia meninggalkan Atambua menuju Kupang sebagai gadis kecil penuh trauma, yang pulang membawa trauma. Setiap scene berisi Nikia, juga berisi ketakutannya. Bagaimana dia datang ke desa, tanpa ingin terlihat. Bagaimana dia tidak berani mandi di sungai sendirian sampai akhirnya meminta Joao menemani. Bagaimana bayangan kakeknya terus menerus muncul, dan bagaimana dia menangisi tubuhnya sebelum tidur.

Teman yang sama juga bertanya kenapa saya bisa nikmat dalam alur yang begitu lambat.

Mungkin karena saya tidak merasakan kelambatan itu, karena sibuk menikmati keindahan Timor. Sibuk memperhatikan betapa cantiknya Nikia. Sibuk mengutuk betapa negara kita terlalu sibuk memperkaya Jakarta.

Rekaman kaset yang berulang didengar Joao, bukan sekadar unsur drama, tetapi menunjukan minimnya pendidikan. Alih-alih menulis, pesan-pesan dikirim dalam rekaman suara.

Saya fikir ini film yang kaya. Menyergap kita dengan kenyataan betapa rakusnya kita yang tinggal di Jawa. Padahal di Atambua, mereka cukup hidup dengan memperjuangkan cinta. Ya, ini film soal cinta. Cinta sempit antar pasangan, hingga cinta yang meluas dalam nasionalisme.

Kembali ke pertanyaan teman, mengapa saya tidak bosan?

Karena dia humoris, jujur, dan apa adanya.

Misal saat Joao berkata: ayah bilang sekolah tidak lagi penting setelah komuni pertama.
Atau saat Joao begitu gelisah ketika menonton film porno beramai-ramai. Ada gambar pastur di tembok yang mereka punggungi. Lalu adegan berikutnya mereka kembali menonton film porno, dengar foto pastur yang ditutupi koran.
Juga saat Ronaldo dikerubungi ibu-ibu tetangga yang penuh perhatian memijat. Preman juga butuh ibu-ibu tetangga!

Ha!

Adegan-adegan kecil itu natural betul.

Kenaturalan yang seolah bilang: Hei, ada manusia di sini, yang hidup seperti kita yang di Jawa. Ada mansuia yang harus diperhatikan perut, hati, dan kepalanya. Ada manusia yang berpuluh tahun menderita, tercerai-berai, kehilangan, atas nama negara.

Mengiritk negara, film ini diawali dengan satu dialog yang begitu luar biasa: "Tanah itu sekarang ditutup, tidak bisa dilewati. Padahal di tanah itu dulu saya berburu, saya tumbuh. Sekarang dipagari. mereka pikir mereka siapa!"

Dan ditutup juga dengan luar biasa: "Tidak ada bangsa atau negara apapun yang dapat mencabut akar asal-usul kita. Kita ini orang Timor, dan akan selalu menjadi orang Timor. Tempat kita di sini."

Sepanjang 80 menit saya seperti diajak pulang ke rumah nenek. Saya disambut seolah sebagai bagian dari Timor, seolah saya adalah tetangga Joao, saya adalah teman kecil Nikia, saya adalah bagian dari orang Timor yang ikut mengungsi, ikut kepanasan, ikut mengangkat batu, ikut mandi di sungai. Bahkan ikut kehilangan, bukan sekadar asing yang mengeksplorasi betapa cantiknya, betapa terlupanya Timor.


*Mengutip Melancholic Bitch dalam Mars Penyembah Berhala, "Setiap tempat berpagar bisa berubah jadi negara, melamun terbaik adalah lamun yang kedap tentara."

--------------------------------------------------------------

Produser: Mira Lesmana
Sutradara: Riri Riza
Penulis: Riri Riza
Pemeran: Gudino Soares, Petrus Beyleto, Putri Moruk
Tanggal edar: Kamis, 08 November 2012
Format syuting: HD
Warna: Warna
Sistem suara: Stereo
Bahasa utama: Tetun
Bahasa lainnya: Porto

Comments

Popular posts from this blog

Karena usia cuma deretan angka-angka!

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual