Apa yang saya tahu soal ayah?


Salah satu bab favorit dalam Wind-Up Bird Chronicle karya Haruki Murakami dibuka dengan:

"Is it possible, in the final analysis, for one human being to achieve perfect understanding of another?

We can invest enormous time and energy in serious efforts to know another person, but in the end, how close can we come to that person's essence? We convince ourselves that we know the other person well, but do we really know anything important about anyone?"

Seberapa jauh kemampuan kita mengenal orang setelah kita menginvestasikan waktu dan tenaga bertahun-tahun, atau bahkan puluhan tahun? Seperti sebuah gedung besar, apakah sampai mati kita cuma bisa menyambangi satu-dua ruangan di dalamnya, ataukah pada akhirnya kita berhasil mengenali setiap sudut, setiap ruang rahasia, setiap sarang laba-laba di dalamnya?

Beberapa edisi cover wind-up bird chronicle.
Yang masih edar Indonesia yang vintage kayaknya
(kanan atas).

Kemarin Ayah harusnya berulang tahun, entah yang kelima-puluh berapa.

Ulang tahun ayah dan tanggal wisuda saya sama, 19 November. Kata ibu, wisuda kemarin itu adalah hadiah untuk ayah. Saya sudah berusaha sekuat tenaga untuk berwisuda sebelum dia meninggal. Skripsi saya selesaikan secepat kilat, 3 bulan atau 4 bulan saja.

Namun pada akhirnya wisuda juga saya setelah tanah merah digali dan tubuh mati ayah ditanam di dalamnya.

Akan tetapi, toh ayah juga tidak menyukai saya berkuliah di tempat ini. Dia ingin saya masuk UI, lalu keluar dengan tambahan sarjana hukum di belakang nama. Yah, bolehlah UGM, asal Fakultas Hukum. Sayang sekali embel-emebal di belakang nama saya adalah sarjana ilmu politik.

Sebab itu rasanya kelulusan saya  tidak juga terlalu berpengaruh bagi ayah. Jadi kesamaan tanggal lahir dan tanggal wisuda hanyalah sesuatu yang dibuat-buat seolah berhubungan.

Setelah ayah meninggal, tentu lebih mudah mengklaim bahwa ayah begini-begitu, lalu sajikan fakta sepotong-sepotong yang teringat. Maka jadilah ayah yang seperti itu. Setidaknya dalam pikiran saya, dan dalam pikiran orang yang saya ajak bicara--itu pun kalau dia terpengaruh.

Seperti yang barusan saya klaim soal pilihan jurusan dan wisuda.

Namun, sesungguhnya, apakah benar begitu? Atau itu cuma ingatan kabur soal ayah? Seberapa saya kenal ayah? Seberapa saya memahaminya?

Jangan-jangan saya memang tidak pernah mengenal ayah. Dan mungkin saya juga tidak memberi cukup banyak ruang bagi ayah untuk mengenali anaknya.

Ada banyak soal diri saya yang saya yakini tidak diketahui ayah. Juga pasti banyak soal diri ayah yang dia yakini tak pernah saya ketahui.

Misalnya ayah pasti tidak tahu kalau saya ini pemabuk kacangan yang pernah mengoleh-olehi 3 liter arak pisang dari Karimun Jawa untuk adik. Kalau dia tahu mungkin saya sudah dikejar-kejar dengan parang. Haha...

Tapi, apa iya benar akan begitu? Apa yang saya tahu tentang ayah?

Saya bahkan tidak tahu apa yang sesungguhnya dia kerjakan. Kenapa dia begitu membenci PKI, juga membenci Greenpeace? Kenapa dia tidak suka makan tempe dan begitu lahap menyantap pindang patin? Kenapa dia berselingkuh? Apakah dia punya anak-anak lain selain kami? Juga ribuan hal lain yang saya tidak tahu.

Hingga akhirnya yang tersisa adalah opsi pertama, ayah meninggal sebelum menjelajahi ruangan lainnya. Sebelum saya, atau dia benar-benar mampu menjelajahi masing-masing ruang yang tersisa. Saya pikir dia juga tidak punya waktu. Terlalu banyak yang harus dia lakukan pada saat bersamaan.

Ketika ayah meninggal, beberapa ruangan sudah ditutup. Saya hanya bisa mendobrak beberapa ruangan, melaui ingatan-ingatan orang lain, dan fakta-fakta (atau hal-hal yang dianggap fakta) yang tertinggal.

Dengan demikian ayah yang saya pahami bukanlah sungguh-sungguh ayah. Namun konstruksi mengenai ayah yang dibentuk oleh kenangan dan potongan ingatan.

Ah, mungkin itu gunanya ingatan. Membuat orang-orang yang tidak ada agar tetap ada. Setidaknya dalam ingatan.

Comments

  1. Ayahmu ulangtahunnya sama dengan papaku. 19 November.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Karena usia cuma deretan angka-angka!

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual