Ibu, Musim Haji, dan Anak Perempuan yang Egois


Musim haji sudah tiba, kloter pertama jamaah asal Indonesia sudah tiba di Mekah. Sedih rasanya.

Setiap kali membaca berita mengenai haji, keteringatan mengalir pada Ibu. Dia harusnya sudah ke sana bertahun lalu, tapi Ayah tak pernah mau. Ayah bilang, biar orang tuanya dahulu, lalu mereka berdua kemudian. Belum lagi terlaksana Ayah keburu tak ada.

Ibu bukannya tak punya uang. Dia menyimpan dananya sendiri. Untuk naik haji, dia bilang. Dia sudah mendaftar bertahun lalu. Seharusnya dia pergi tahun ini, atau tahun kemarin. Ah, aku tak tahu, karena dulu aku tak pernah mau tahu.

Bahkan, aku pernah berfikir Ibu egois, hanya memikirkan dirinya, padahal akan banyak biaya dibutuhkan untuk empat adiku bersekolah, mengingat adik lelaki tertuaku tak juga rampung D3-nya bahkan hingga hampir menginjak tahun ketujuh.

Padahal, akulah segala biang keegoisan.

Ada banyak cerita jamaah yang pulang jadi jenazah. Aku tidak sanggup membayangkan hal itu terjadi pada Ibu. Aku memang anak yang paling mirip dengan Ayah, mengkhawatirkan segala hal. Namun, berasalan bukan kalau aku tidak ingin adik-adiku kehilangan Ibu setelah kehilangan Ayah?

Aku khawatir pada tanggung jawab menjaga empat adik sendirian. Kekhawatiranku soal kehilangan Ibu bukanlah mengenai Ibu atau rasa kehilangan itu sendiri, melainkan ketakutan atas tanggung jawab yang hanya bisa diusahakan menjadi baik, tanpa pernah bisa benar-benar menjadi baik.

Aku cuma anak perempuan 24 tahun yang ketakutan pada banyak hal.

Pada akhirnya berkurang juga ketakutan itu. Ibu memutuskan untuk mencairkan tabungannya. Tabungan pamungkas itu digunakan untuk mengurusi adik laki-lakiku yang lain, yang harus pindah sekolah hingga tiga kali saat SMA. Pindah sekolah bukanlah sekadar urusan administrasi surat menyurat, tapi juga urat-mengurat yang berujung pada ketersediaan dana segar. Syukurlah lulus juga dia, tak sia-sia tabungan haji Ibunya.

Sekarang, musim haji sudah tiba.

Subuh nanti, saat ibu terbangun, hal yang pertama dilakukannya adalah solat subuh. Lalu ibu pasti menyalakan kotak cahaya di ruang tengah, menyetel siaran televisi Arab Saudi dari saluran yang aku tak tahu apa namanya.

Ibu mendengarkan pengajian dari televisi sambil menyiapkan sarapan dan pakaian sekolah adik-adik perempuanku.

Namun, aku hampir yakin bahwa imajinya berada di Arab Saudi, melempar jumrah, atau mengelilingi Kakbah.

Maaf Ibu, atas kelancanganku menuduhmu egois. Aku sudah tahu rasanya menjadi anak, tapi aku tak pernah tahu kesulitan dan kelelahan seorang Ibu. Aku tak pernah tahu kerumitan persoalan seorang Ibu, apalagi ibu rumah tangga biasa yang sudah janda.

Apapun itu, Ibu, tak lagi-lagi aku akan berani lancang mengira kau egois, meski hanya dalam pikiran.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Karena usia cuma deretan angka-angka!

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual