Aku Tinggal dalam Negara Kembang Api

Tulisan ini ditempel di jalan Rasuna Said
dengan menggunakan isolasi cokelat.
Foto oleh Superpiko
Negara ini, sayang, seperti kembang api. Berkilau, menarik perhatian, memercik kemana-mana, menghabisi dirinya dalam satu sulutan.

Jikalau ada yang bertanya seberapa ku mencintai negara ini, aku tak tahu. Tentu aku mencintai Indonesia sebagai tanah air, bagian dari diriku, tempat kembali. Namun, sebagai sebuah negara, apakah aku mencintai negara ini? Aku tak tahu.

Keluarga kami, banyak disakiti Indonesia sebagai negara. Aku, misalnya, tak memiliki akta lahir yang sesuai dengan tanggal kelahiranku, hanya karena Ibu mengandung aku sebelum hubungannya dengan ayah direstui negara.

Nenekku adalah seorang tionghoa, beberapa sepupu harus mengungsi, atau minimal menggantungkan sejadahnya sepanjang kerusuhan 1998, hanya karena kulitnya langsat dan matanya sempit.

Ibu juga pernah bercerita kalau dahulu Ibu harus pindah sekolah, hanya karena ibu berkerudung, dan kakek sepaham dengan sebuah partai, sementara sekolah ibu, dan sisanya adalah termasuk kelompok partai lain.

Dan ayah, seorang pegawai negeri bergaji kecil. Aku tak pernah pastikan apa jabatannya, yang aku tahu, gajinya selama 20 tahun bekerja pada negara, sama dengan gajiku yang baru 2 tahun ini bekerja pada kesenanganku.

Belum lagi teror pembunuhan, yang bukan hanya ditujukan pada ayah. Tak sekali-dua aku menerima telepon teror, pun ibu, atau adik laki-laki. Kami sudah sampai tingkatan tak lagi menganggap serius teror tersebut.

Bertahun lalu, mungkin tahun 2001, saat aku baru mendapat seragam sekolah menengah, ayah mendapat surat panggilan. Dia bangga betul saat itu. Surat itu dari Presiden kalau tidak salah. Pada saat itu Megawati yang menjabat. Isi surat itu, meminta ayah untuk bergabung dengan Komisi Pemberantasan Korupsi. Ayah sangat bangga.

Pagi-pagi ayah berseragam lengkap, dengan pangkat di pundak. Entah dia mengikuti berapa tes, sampai akhirnya digagalkan oleh surat yang mengatakan ayah terlibat kasus suap.

Yang mereka sebut kasus suap berkaitan dengan tindak pidana pemerkosaan oleh empat pemuda anak pejabat dan orang berduit, terhadap seorang gadis desa. Seperti cerita-cerita di film masa Achmad Albar berjaya.

Aku ingat, anak-anak pejabat itu mengirim ayah mereka ke rumah. Saat itu mereka membawa kantong plastik kresek, dan mobil kijang inova. Saat aku SMA, jangankan kijang kapsul, kendaraan ayah adalah kijang kotak tahun 1991 seharga Rp20 jutaan yang sangat dia banggakan.

Namun ayah adalah orang Sumatera yang tinggi hati. Terluka hatinya dibawakan kijang keluaran anyar itu. Katanya ia sakit betul menerima itu. Dia punya tiga anak perempuan, dan orang dihadapnya meminta dia mengorbankan kembali anak perempuan yang telah menjadi korban perkosaan, bergiliran pula, oleh empat laki-laki.

"KAMU PIKIR SAYA NGGAK PUNYA OTAK APA?!" kalimat pamungkas ayah menggelegar hingga ke atap rumah. Dan tamu tak diundang itu menghilang tanpa disuguhi minuman.

Tentu saja keempat anak laki-laki tersebut bebas. Hakim memutuskan begitu rendah, sehingga mereka bebas begitu saja setelah dipotong masa tahanan.

Kasus ini membuat ayah diperiksa. Dulu tak ada KPK, entah siapa yang memeriksa ayah, aku masih SMA dan tak ambil pusing soal nama-nama dan jabatan. Yang aku tahu, ayah terlibat masalah.

Meski saat itu ayah terbukti tak bersalah, tetapi hal tersebut terlanjur jadi penyakit, memperlambat kenaikan pangkat dan menghambat karir ayah. Dan pada saatnya, menghancurkan kebahagiaan ayah untuk menjadi bagian dari KPK.

Maka aku tak pernah peduli pada perasaanku terhadap negara ini. Aku tak pernah memikirkan apakah aku mencintai Indonesia sebagai negara, atau sekadar sebagai rumah, siapapun yang pada akhirnya menjadi negara.

Namun, malam tadi, aku lihat manusia berduyun memenuhi gedung KPK, yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari tempat tinggalku. Orang-orang itu, datang untuk membela KPK, lembaga terakhir yang menjadi harapan atas perbaikan.

Terharu rasanya.
Mata lekat pada kotak kaca di kamar hotel, tetapi airnya mengalir melewati pipi. Andai Solo-Jakarta hanya sekedipan mata, aku ingin datang ke sana, meski tampak tak berguna.

Ah, pada titik ini aku merasa cinta negara ini, bukan sekadar sebagai tanah air, tapi negara. Pada titik ini menguap kesedihan dalam hidup yang terjadi lantaran negara yang ditunggangi pemerintah tak cakap.

Aku tak bisa ke KPK, maka aku akan menulis berita moneter dan perbankan dengan baik, membayar pajak, mengurangi limbah, menaati peraturan, atau menulis cerita ini, sebagai bagian dari bentuk kecintaan.

Seperti bibik yang mencuci pakaian dengan bersih, atau adik-adik yang berangkat ke sekolah dengan bersemangat.

Bertindak baik, menjadi warga baik, sambil terus mengritik tanpa jadi skeptik.

Waktu lain, boleh juga turun ke jalan, atau mengritik negara melalui surat kabar. Apa saja boleh, apa saja sama baiknya. Karena kita mencintai negara ini dengan tujuan baik, dalam proses yang baik pula.

Comments

  1. :)

    aku setuju, tindakan baik apa saja boleh, nggak harus selalu ikut turun ke jalan karena kita semua punya peran masing-masing.

    (ps: i love this blogpost!!)
    (ps lagi: and i hate captcha)

    ReplyDelete
  2. yups.. cintai negeri ini dengan caramu..

    ReplyDelete
  3. "bertindak baik." :]

    tulisannya bagus banget.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual