Kapan Kawin?

Menjelang idul fitri, izinkanlah saya menghaturkan cara-cara yang dapat digunakan untuk ngeles saat menghadapi hari raya "kapan nikah" kepada sidang pembaca yang budiman.


1. Hindari bertemu sanak saudara yang ceriwis dan banyak tanya

Bisa dengan cara menghindari ajakan ayah-ibu untuk ke rumah kakek/ nenek/ saudara/ teman atau siapapun yang suka sekali bertanya kapan kawin, atau suka beranggapan belum menikah hingga umur tertentu adalah berarti tak laku atau perawan tua. Hindari bertemu, bersinggungan, dan bertatapan. Kalau pun tidak sengaja bertemu, sebaiknya pura-pura tidak lihat atau tidak kenal.

Jikalau pada kesempatan berikutnya kita tidak bisa menghindar dan dia bertanya "kemarin kok menghindar?" cukup jawab "loh? Masa sih? Emang kamu ada di situ juga? Oh, jangan-jangan kamu yang pake baju ijo ya? Ya ampun, cantik banget kamu pas hari itu, aku sampe pangling." Puji dia, atau alihkan percakapan ke hal-hal lain yang lebih menarik perhatian.

Namun, apabila saran ini terlalu sulit untuk direalisasikan, ada baiknya menuju saran berikutnya.

2. Mepet sodara yang lebih tua dan belum nikah juga

Agar dapat melaksanakan ini, kamu harus terlebih dahulu punya sanak saudara yang lebih tua dan belum menikah. Dengan demikian 'kesalahan' dan pusat perhatian akan terlimpah padanya. Ingat, saat bersama keluarga besar, jangan sekali-kali tinggalkan saudara yang satu ini.

Akan lebih baik jika saudara yang tak kunjung menikah ini cukup berusia matang, berkarir baik, serta dihormati sejagat keluarga. Dengan demikian keluarga akan segan dan enggan menanyakan hal-hal demikian.

Namun, kalaupun masih ditanya-tanya juga sebaiknya loncat ke saran berikutnya.

3. Jawab seenak udel, jangan lupa senyum. Usahakan jawab membuat percakapan terhenti.

"Kapan ni?"
"Doain aja ya tante"

"Kok belum kawin sih?"
"Belum minat ah"
"Nanti nyesel loh ga buru-buru"
"Lagi nyari temen ya? Kamu nyesel karena buru-buru?" *jangan lupa nyengir*

"Undangannya kapan ni?"
"Loh, emang belum terima?"
"Beluuum, emang mau kapan?"
"Ya tungguin aja undangannya"
"Dikirim ke rumah ya?"
"Maunya dikirim ke mana?"
"Lah kemaren kirim ke mana?"
"Emang belum dikirim kok" *sambil senyum kalem*

"Kamu workaholic sih, sibuk kerja terus, jadi lupa cari jodoh"
"Sibuk kerja dapet duit tau, dari pada kamu, sibuk nanya-nanya, cuma dapat gosip," *ditutup dengan senyum lalu ngeloyor*

"Kapan mau kawin?"
"Eciye nanya-nanya, mau ngebiayain kawinan eyke ya?"

"Pacarnya kok ga dibawa?"
"Duh, pacarku ganteng banget soalnya. Ga tega sama kalian kalo ngajak pacar, ntar pada naksir tapi ga kesampean. Kasian aja sih, takut banyak yang iri."

"Mana ni jodohnya, uda ada belum? Sini aku kenalin..."
"Aiiih, sekarang buka usaha biro jodoh? Dapet fee berapa per-orang yang daftar?"

4. Jawab serius melalui pendekatan, ekonomi, antropologi, kesehatan reproduksi, keagamaan, maupun sosial-politik. Niscaya si penanya jadi sewot atau bahkan trauma, dan malas tanya-tanya lagi dalam kesempatan berikut.

"Kok belum kawin?"
"Emang kenapa kalo belum kawin?"
"Yaaa kan uda umurnya."
"Emang berapa sih umur yang tepat untuk kawin? CMIIW, secara biologis, rahim dan vagina itu bukan begitu saja siap menerima "benda asing" lantaran kita sudah menstruasi. Rahim dan leher rahim misalnya, baru siap dibuahi di usia 20an, itu pun rentang usianya bisa beda-beda untuk setiap orang. Kalau kita sudah menikah di usia yang mana leher rahim tidak siap, itu bisa memicu risiko kanker serviks 4 kali lebih banyak loh. Emangnya mau kawin tapi ga have seks? Ogah juga kan? Jadi terus, kenapa harus buru-buru? Uda umurnya tuh gimana maksudnya? Dari mana kamu tau rahimku uda siap?... Bla... Bla..."

"Kamu ga mau nyusul aku?"
"Nyusul apa?"
"Nikah dong"
"Lah, kamu uda nikah tapi ga tau ada 12 hak kesehatan reproduksi? Pasal 9 dari hak kesehatan reproduksi adalah hak atas kerahasiaan pribadi dalam menjalankan kehidupan dalam reproduksinya. Hehe... Kamu sedang melanggar hak-ku di pasal 9, loh..."

"Biar halal, ikut ajaran Islam, sunah nabi, cepetan nikah muda!"
"Setahuku hukum menikah dalam islam itu ga melulu wajib atau sunah. Di pelajaran SMA, nikah itu bisa jadi makruh atau haram hukumnya. Tergantung kondisi masing-masing. Kalau kondisinya belum siap, bisa jadi haram. Lagian Islam tidak mengajarkan nikah muda. Bahkan juga tidak ada teks yang menyuruh nikah muda. Hadits yang paling populer soal nikah bilangnya juga: man istata'a minkum al-ba'ah fa l-yatazawwaj. Penekanannya pada BA'AH, kesiapan. Jadi kalau diartikan secara bebas, kurang lebih artinya: "Wahai anak muda, menikahlah kalau kalian sudah siap!" Jadi, kenapa harus nikah muda? Kalau merasa belum siap kenapa harus dipaksa siap?"

"Ih makanya cepetan punya suami..."
"Hubungan pernikahan adalah institusi sosial yang melanggengkan patriarki dan dominasi laki-laki terhadap perempuan, terutama perempuan dalam konteks hukum perkawinan Indonesia di mana berdasarkan undang-undang laki-laki berhak untuk memiliki istri sampai empat, dapat menolak keberadaan anak hanya jika ketahuan istri selingkuh, dan perempuan sulit mendapatkan akses terhadap banyak hal tanpa izin suami. Saya sih nggak mau terjebak dalam sistem yang merendahkan perempuan semacam itu."

5. Berdoa

Bagi yang sebenarnya kepingin cepat menikah, banyak-banyak berdoa dan berikhtiar dalam mengenal lawan jenis ataupun sesama jenis. Atau ya sekalian saja minta dijodohin sama tantenya. Siapa tahu dia nggak sekadar bertanya tapi memang punya stok lakik ganteng yang bertanggung jawab, percaya pada kesetaraan, dan tidak senang melakukan kekerasan.

Namun, bagi yang memang belum atau tidak ingin menikah, didoakan saja semoga tante-tantenya punya kesibukan lain sehingga punya hal lain untuk dipedulikan selain urusan percintaan ponakan.



Terakhir, sebelum sidang ditutup, mari memanjatkan harapan semoga tante-tante yang terlalu perhatian dengan urusan pernikahan kita dapat segera insaf dan lebih fokus pada tindak-tanduk anaknya yang ga lebih bener juga dari kita, atau lebih fokus pada hidupnya sendiri.

Comments

  1. hahaha saran bagus. Anyway, selamat idul fitri ya.. maaf lahir batin :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sudah dipraktekan belum?

      Aku sudah 2!

      Ahahahhaha... Aku pun mohon maaf lahir batin yaaaa

      Delete
    2. Udah praktek 2 yang mana aja? Hahahha.
      Kalo aku mraktekin solusimu ini, bisa panjang omongannya sama sodara2, duh malas aku...
      Akhirnya udah ada jawaban, "InsyaAllah 9 Rabiul Awal." "taun kapan tuh?"
      "taun depan." "Ah, sama siapa? Orang mana?" "Tanya ibu deh... Tuh ibu di situ (di gerombolan orang yang susah di jangkau), minat dan niat banget ya mau ke sana-ke sana cuma nanyain calon guwek? Eh itu anakmu pipis di pohon tuh... *kabur"

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual