Ibuku Gandari


"Kalau mama mati, kamu mau gimana? Adik-adik mau kamu bawa ke mana?" ujar ibu sebelum aku kembali ke Jakarta.

Hatiku tertegun, namun otakku tidak. Tak ada yang ingin ibu tiada, tetapi ayah selalu mengajarkan untuk memikirkan hal-hal terburuk agar bersiap sedia sehingga tak luluh lantak kala yang terburuk benar-benar menyapa. Sejak ayah tak ada, ratusan kali lipat otak lapat-lapat memutar berbagai skenario yang harus dilakukan jika ibu harus pergi mendahului kami.

Namun, tak ada satupun skenario yang sanggup kuselesaikan. Siapa yang sanggup?

Meski anaknya tak sebanyak Kurawa, tetapi bagiku, ibu adalah Gandari, menutup mata, membuka hati. Mengabdi pada kesetiaan yang melebihi kematian*.

Kesetiaan yang telanjang dan diam-diam. Kesetiaan dalam daki pada kerah baju dan lantai-lantai yang minta disapu. Kesetiaan pada anak-anaknya yang tak tahu malu, kesetiaan pada suami yang merangkul 2-3 perempuan sekaligus. Kesetiaan yang menutup mata dari melaratnya dunia, kesetiaan yang menjejak pada sabar yang tak ada habisnya.

Terkadang aku lupa pada uban dan keriputnya, pada mata lelahnya, pada ringkih tubuhnya, pada tengik hidup yang menggerogoti kebahagiaannya.

Ibu bilang aku anak yang berulang kali hampir mati. Anak yang begitu sulit disuruh hidup. Anak yang lahir cuma sebesar botol kecap. Anak yang dicubit setiap malam agar menangis dan mengambil nafas. Harus dijemur pada sinar matahari, atau pada kotak lampu neon. Aku, anak yang menyusahkan ibu.

Namun, seperti ayah, pada akhirnya aku menghianati kesetiaan ibu. Tak ku pedulikan rapalan doanya, tak acuh pada tiap busa nasihatnya. Menyesalkah kau, bu? Pernahkah terpikir untuk menyesal, bu?

Dan ibu, tak pernah meminta apapun. Seperti kalimat terakhir ayah padaku menjelang kematiannya: jaga adik baik-baik. Hanya itu satu-satunya.

"Kamu harus pikir betul-betul dari sekarang. Adek mau dibawa ke mana, kamu harus cari orang yang sayang sama adek. Jadi kalau kamu kerja ada yang urus adek."

Ah, ibu, apa yang harus aku lakukan jika tak lagi ada ibu?




*mengutip mas didik

Comments

  1. Papaku waktu sakit parah juga bilang: Kalau aku mati, jaga adik-adik. Dan tanam melati di kuburanku.

    ReplyDelete
    Replies
    1. andaikan jaga adik ki semudah melihara anjing kampung yg cukup dikasi makan aja ya. ahahhahaha *kakak yg tidak baik*

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual