Sepasang Pemulung Baru


Ada sepasang pemulung baru di dekat tempat tinggalku. Pertama ku melihatnya tiga hari lalu, saat membawa kantong plastik berisi dua kaleng bir dalam perjalanan ke monas.

Sepasang pemulung baru itu betempat tinggal di trotoar Setiabudi Building yang baru saja selesai dibongkar karena galian gorong-gorong.

Pemulung baru itu adalah seorang lelaki paruh baya dan anak laki-laki usia sekolah dasar. Tak ada bukti yang menguatkan bahwa mereka adalah ayah dan anak. Namun aku memutuskan untuk berasumsi bahwa mereka adalah ayah dan anak.

Juga tak ada bukti bahwa sepasang lelaki itu adalah pemulung. Aku hanya mengasumsikannya dari kantong besarnya yang berharga, atau setidaknya, nampak berharga bagiku. (Aku yakin si lelaki tua menjaga betul kantong besarnya yang berharga.) Saking besarnya, aku yakin aku bisa masuk ke dalamnya.

Ada kemungkinan anak itu adalah seorang anak yang dibeli (atau dicuri) untuk dipekerjakan sebagai pengamen. Masalahnya, aku yakin mereka tidak mengamen. Lagi pula pengamen biasanya tidak tinggal di sembarang tempat, mereka memiliki wilayah kekuasaan.

Pun aku rasa tak ada pengamen yang membawa karung.

Lagi pula, tak ada satu matapun yang dapat menjejak kata pada kasih si lelaki tua.

Malam tiga hari lalu anak lelaki itu tidur dengan gelisah (pula hanya asumsiku bahwa si anak gelisah). Keningnya seperti dikompres, tubuhnya dibalut sarung. Mungkin sakit.

Seketika aku menyesal mengapa kantong plastik itu membawa bir dan potongan kegundahan. Kalau saja 15 menit sebelumnya aku memutuskan untuk membeli dua kaleng milo, kantong plastik beserta isinya bisa berpindah tangan ke lelaki tua yang masih terjaga.

Lalu maghrib tadi, mataku bertumbukan dengan mata lelaki tua. Di sebelahnya adalah sekotak makan malam, entah apa isinya, disantap dengan lahap. Bukan dia yang melahap, tapi si anak yang tak sempat kutraktir sekaleng milo tiga malam lalu.

Sudah sehat rupanya.

Tunggu di situ sebentar, pelan-pelanlah habiskan makan malam. Biar aku pergi 15 menit saja. Aku kan kembali dan merayakan pertemuan kita dengan kaleng-kaleng milo, serta sepotong roti untuk esok sarapan.

Comments

  1. gimana ya rasanya jadi bapak pemulung yang anaknya (kalau itu anaknya) demam. kekhawatiran yang sama dengan bapak-bapak lain yang punya rumah dan tak menggelandang.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual