Utang Luar Negeri Industri Perbankan Capai US$19,6 miliar

JAKARTA-- Data Bank Indonesia mengungkapkan paparan utang luar negeri industri perbankan per April 2012 mencapai US$19,6 miliar atau 8,34% dari total utang luar negeri swasta US$235 miliar.

Deputi Gubernur bidang Pengaturan Perbankan Bank Indonesia Muliaman Darmansyah Hadad mengungkapkan nilai tersebut tidak signifikan jika dibandingkan dengan total aset industri perbankan yang telah mencapai Rp3,63 kuadriliun.

"Exposure neraca perbankan kita sangat terbatas terhadap utang luar negeri. Dari total utang luar negeri tersebut perbankan justru lebih besar exposure ke Amerika Serikat dari pada ke Eropa. Saya tidak punya rinciannya, tetapi cukup mild, tidak signifikan" ujarnya, Kamis (21/6).

Dia menambahkan industri perbankan menyebar risiko utangnya dalam berbagai bentuk, antara lain sudat berharga dan trade finance.

Selain itu meski optimistis keadaan tidak akan menajdi buruk bagi industri perbankan lantaran persoalan utang luar negeri, tetapi dia mengaku saat ini bank sentral terus memantau keadaan utang luar negeri perbankan.

"Sudah ada persiapan kalau sampai tidak terealisasi," tegasnya.

Muliaman melanjutkan fundamental perbankan nasional saat ini sangat baik. Bahkan ketika bank sentral melakukan stress test, terbukti industri perbankan cukup tahan terhadap krisis.

Dia juga optimistis industri keuangan tidak akan mengalami guncangan signifikan meski terjadi gejolak di eropa. Dia memastikan kualitas aset juga tidak akan turun signifikan karena rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/ CAR) masih mampu menahan gejolak. Adapun per April 2012 rerata CAR industri berada di level 17,97%.

Sementara itu Direktur Korporasi PT Bank Negara Indonesia Krisna Suparto mengungkapkan perseroan hampir tidak memiliki paparan utang kepada Eropa, baik dalam obligasi dolar maupun obligasi rupiah.

"Pinjam ke perusahaan Eropa juga hampir tidak ada. Untuk merebut pasar mungkin hanya trade finance, itus aja yang dibiayai. Itu juga relatif kecil hanya sekitar US$20 juta," ungkapnya.

Berdasarkan data bank sentral sektor keuangan dan jasa keuangan menjadi salah satu yang paling tinggi paparannya terhadap utang luar negeri, yaitu 26,8% dari total utang luar negeri atau US$94,36 triliun.

Utang Luar Negeri Swasta
Sektor lain yang paparannya mencapai 20,8% adalah manufaktur, disusul pengeboran dan penambangan sebanyak 15,5% dan sektor lain-lain 15,3% dari total utang luar negeri swasta.

Sementara itu jumlah total utang swasta nasional yang tercatat dalam mata uang euro hanya mencapai US$7,22 miliar atau 0,7%. Paparan utang paling banyak tercatat menggunakan mata uang dolar Amerika Serikat sebanyak 86,5% atau US$146,41 miliar.

Meski demikian paparan utang swasta nasional paling banyak masih kepada Singapura 38%, disusul kepada Jepang 13,4% dan Belanda 12,1%.

Adapun paparan utang swasta nasional kepada Eropa mencapai US$21,69 miliar. Dari dana tersebut utang kepada Belanda tercatat paling banyak mencapai US$12,42 miliar, disusul utang dari Inggris US$2,32 miliar dan Jerman US$1,38 miliar.

-----

Ditulis pada Kamis, 21 Juni 2012

Comments

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual