impulsif di Ancol, berakhir di Sawarna

Jumat itu pacar mendapat perintah mendadak untuk memotret boyband asal Korea Selatan yang akan tampil dalam beberapa kali pertunjukan.

Masih berpakaian batik, sembari menggondol saya, dia bersegera meluncur ke Ancol. Jakarta menuju akhir pekan adalah kemacetan luar biasa. Ditambah kenorakan tersesat di tengah perumahan mewah, jelas kami terlambat. Pesan untuk memotret antrian ABG, menjadi perintah yang tak pernah terlaksanakan. Sesampainya di sana, jumlah calo sudah lebih banyak dari pada calon penonton yang berkeliaran. Sementara para ABG sudah jejingkrakan di dalam.

Maka kami memutuskan melipir makan, dilanjut bertingkah seperti orang pacaran masa kini: jalan-jalan dan duduk-duduk di pantai Ancol.

Iseng saya berkata: "Ayo ke mana kek! Sawarna apa mana gitu."

Tanpa disangka gayung bersambut: "Ayo! ngambil barang dulu ga?"

"Ga usah! AYO KITA BERANGKAT SEKARANG!"

Maka perjalanan menuju Sawarna dimulai, tanpa bekal pengetahuan apapun kecuali sebaris ucapan seorang teman: Sawarna itu di Banten tapi dekat Sukabumi, Pelabuhan Ratu masih terus lagi.

Satu-satunya yang tepercaya dalam perjalanan malam itu adalah GPS pada Iphone dan sinyal Telkomsel yang kembang kempis. Tol demi tol terlewati. Jalan antarprovinsi mulai tampak, maka kelangsungan perjalanan pun mulai gawat. Kami entah sudah di mana, tapi GPS masih saja menunjukan Bogor.

Akhirnya perjalanan dilanjutkan dengan cara primitif, percayakan saja naluri dan indra penciuman yang mengendus bau pantai. Gawatnya, perjalanan menuju Sawarna ternyata bukan hanya memakan waktu 3-4 jam. Melainkan sekitar 6-7 jam! Bukan gawat buat saya sih, gawat buat pacar sebenarnya.

Pacar tak percaya dengan kemampuan saya berkendara. Jangankan dia, saya saja tak percaya pada kemampuan saya berkendara. Rute berkendara terjauh saya hanyalah UGM-Bantul. Artinya, jika menemui kijang kapsul biru saya dalam perjalanan apapun yang lebih jauh dari itu, pasti bukan saya yang sedang berkendara.

Belum lagi ketidakmampuan saya menahan kantuk. Syaa perkirakan, dari 7 jam perjalanan, 3 jam diantaranya pacar berkendara sendirian sementara saya entah sedang memimpikan apa.

Naluri kami, naluri dia sebenarnya, merujuk jalan yang tepat. Usai melewati pelabuhan ratu, jalan semakin menyempit dan berkelok. Awalnya seperti perjalanan di wilayah Gunung Kidul, aspal lebar, mulus jalan berkelok, hutan di kiri kanan.

Semakin jauh, cahaya semakin ditelan bayangan, rumah dan perkampungan lenyap diganti padang atau pepohonoan dan jalanan... biarkan saya menarik nafas panjang terlebih dahulu, jalanan semakin mirip track offroad!

Aspal hancur, lubang, jalanan sempit, tanah merah. Jauh deh pokoknya dari kemulusan wajah Gubernur Banten yang makin tampak licin pada foto di billboard.

Dengan sinyal yang tak lagi bersahabat maka kami harus turun dan bertanya pada kakek-kakek yang sedang bakar bata tengah malam. Puji Tuhan kakek ini adalah kakek sesungguhnya, bukan jelmaan bukan jadi-jadian.

Menurut si kakek, Sawarna masih jauuuh. Seperti yang sudah kita ketahui, saat penduduk gunung mengatakan sudah dekat, itu artinya masih jauh banget. Artikanlah sendiri jika dia berkata masih jauuuh.

Jadi intinya, Sawarna itu jauh, apalagi kalo kalian hanya pergi berdua, dengan hanya berbekal sebatang flashdisc yang terus mengulang-ulang hand in my pocket-nya Alanis Morrissette sampai 18 kali.

Perjalanan kami mulai ada tanda-tanda kebahagiaan saat menemukan ini

Anda menuju Pantai Sawarna!

Kebahagiaan makin nyata dengan kemunculan ini

tertulis: Selamat datang di P. Manuk, Bayah

Lurussss saja dari situ, kebahagiaan kongkrit muncul kembali melalui tanda ini


Selamat datang di Desa Sawarna!
(Maaf, muka ganggu,  ga punya stok foto lain)
Mobil tidak bisa masuk desa. Karena mulut gerbang ini adalah jembatan gantung. Lagi pula, kalau mau berkendara lebih jauh, akan dicegat pemuda desa. Mereka keukeuh ini batas suci mobil. Saat itu jam 4 subuh, dan pemuda lokal begitu bersemangat menawarkan penginapan maupun ojeg ke pantai.

Namun tekad saya bulat: KITA JALAN KAKI!

Ini adalah satu-satunya keputusan saya yang dirutuki pacar, selain kenyataan bahwa saya sering kali tertidur di mobil.
jembatan gantung menuju Desa Sawarna

Perjalanan dari gerbang Desa Sawarna menuju pantai tanjung layar dekat sekali. Mungkin hanya 700 meter. Persoalannya, saat berjalan jam 4 subuh, perjalanan akan semakin gelap dan menyeramkan. Debur ombak yang terpecah karang, gesekan daun, dan bunyi serangga mengingatkan saya pada acara sialan bernama Dunia lain.

Sambil menikmati rutukan pacar yang kelelahan, sampai juga kami di tanjung layar 30 menit kemudian. Saya masih ingin menuju pantai Legon Pari, katanya itu tempat cantik untuk menonton matahari terbit. Sayang medannya tidak memungkinkan dilalui saat subuh dengan baju batik dan sepatu kerja.

Belakangan saya ketahui dari pemilik kios di Tanjung Layar, kalau ke Legon pari harusnya lewat jalan besar menggunakan ojeg. Tapi sudahlah, kami sudah kelelahan dan lebih tertarik pada indomie rebus.

jalan menuju legon pari


before sunrise

almost


Akhirnya, sunrise di tanjung Layar saja.


after sunrise

Saat matahari sudah terbit, baru terlihat kalau Tanjung Layar ini pantai landai berkarang. Naik sedikit dari bibir pantai, ada banyak warung dengan bale-bale yang menyediakan penganan. Ajaibnya, harga kelapa muda di sini, lebih murah dari pada harga 2 kali pipis. Sekali pipis Rp3.000, sebutir kelapa Rp5.000.


Jadi sebenarnya kelapa ini sekadar kacang gratis di meja bar. Saat seret karena makan kacang, kita tetep harus beli beer juga ujung-ujungnya. Sama aja, saat kebelet karena kebanyakan minum aer kelapa, kita bisa pipis tiga kali sesiangan yang mana uda bisa beli 2 butir kelapa muda.

Setelah tidur di bale-bale (lumayan hemat biaya penginapan). Sekitar jam 11 kami sudah berjalan kaki melintasi savana untuk kembali ke Desa Sawarna. Ya ga savana-savana amat seperti di baluran sih.

duduk di bale-bale

Vegetasi di Sawarna ini mirip dengan vegetasi di tebing-tebing pinggir pantai di wilayah Gunung Kidul. Bedanya, sepanjang perjalanan kami banyak bertemu pria setengah telanjang dengan papan selancar. Ternyata, di antara Tanjung Layar dan Desa Sawarna terbentang Pantai Pasir Putih. Sayang sekali kami datang berpasangan, padahal banyak bulai tampan hampir telanjang yang menggoda iman. Andaikan pacar biseksual, kami harusnya bisa berbulu bulai bersama. #eh

Etapi maaf ya, ga pepotoan di pasir putih.


ato di kursi pinggir pantai

Nah, ingat tadi tanda kebahagiaan pertama bertulisan P. Manuk & Bayah? Tanda kebahagiaan pertama itu terletak di muara sungai. Bagi adik-adik yang bolos pas pelajaran geografi kelas 3 SD, muara sungai adalah tempat bertemunya aliran sungai dengan lautan. Eh, bener ga sih? Ya itulah ya pokoknya.

muara sungai


Muara sungai ini ciamik. Adem di bagian sungai. Seriusan adem ampe pengen mandi-mandi. Bahkan emang banyak ade-ade yang mandi-mandi.



pantai yang di mulut sungai


ayo!



ade-ade mandi-mandi
Perjalanan pulang, ga kalah menyenangkan. Ternyata sepanjang perjalanan adalah pepantaian. Tapi berhubung saya banyak tidurnya, jadi ga banyak yang bisa diceritakan :D

Jadi, kesimpulannya, untuk sampai ke Sawarna kamu tidak memerlukan budget khusus, yang penting TEKAD dan KEBULATAN HATI. Oh ya, serta bensin yang full.

Karena menjadi impulsif adalah menyenangkan.



Comments

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual