when we were fine

Ini adalah hari yang buruk. Tepatnya saya membuat weekend ini buruk. Discovery channel dan national geographic menjadi tidak menarik, pacar pulang ke bogor, dan saya baru saja membanting motor mantan pacar (kekuatan kemarahan memang mengerikan). Maka menggambarlah saya.


Saat sketsa pensil hampir selesai, saya baru sadar tidak ada ruang untuk menambahkan kepala. maka lagi-lagi hasilnya adalah gambar tanpa kepala. Setelah sebelum-sebelumnya selalu hanya menggambar kepala.

Saya menggambar di atas kertas HVS bekas. Dengan jelas masih bisa dibaca, dibalik gambar adalah siaran pers salah satu bank asal Australia yang ingin menangkap devisa hasil ekspor melalui layanan terbarunya.

Menggambar menggunakan soft pastel di atas kertas HVS bekas, kurang menyenangkan. Kertas tanpa gigi jelas-jelas tidak mau menangkap pastel. Tapi ya namanya juga gambar tak terencana dikala galau.


Saat kepala saya masih memikirkan kerusakan motor mantan pacar, tiba-tiba gambar selesai.



When we were fine
soft pastels on used paper
(a little editting in color in order to make it as similiar as the drawing, but not work that much)

Comments

  1. waaah, jadi inget komunitas gambar pastelnya wuri.. jadi pengen beli pastel.. eaaaa... keren cuy! emosi memang punya cara ajaib untuk keluar dari kepala kita (opooo...)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Karena usia cuma deretan angka-angka!

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual