seorang lelaki senja yang membawa cinta di balik punggungnya


Dia muncul dari senja. Mengada begitu saja, tanpa pernah diketahui bagaimana caranya. Dia ada, dan tak ada yang mempertanyakan mengapa dia ada. Dia ada, dan semua menyadari ke-ada-annya.

Tak ada yang tahu sudah berapa lama dia ada, atau senja yang mana yang menghidupinya. Sorot matanya terkadang seperti bapak, terkadang seperti anak tetangga, tak ada yang tahu sepantar siapakah dia. Wajahnya tak menyiratkan usia tertentu.

Jenis wajah yang tampak bijak dengan senyum memesona. Tampak berkelas tapi bukan perlente kaya penggoda. Bukan juga lelaki yang membuatmu berhasrat untuk melucuti pentalonnya lalu berhubungan seks dengan penuh gairah.

Dia  sejenis lelaki kau ingin tuk memelukmu dari belakang. Mencium lembut daun telingamu, membisikan cinta, lalu memberi kecup ringan di leher, dan tanpa kau ketahui semuanya terjadi begitu saja. Lembut, tanpa erang berlebihan. Seperti kenikmatan saat dipeluk dan menghisap lembut puting ibu, sampai kau tertidur.

Dia lelaki yang kau inginkan cintanya, apa adanya, tanpa kau tahu kenapa.

Namun, sebenarnya dia hanyalah seorang lelaki senja yang membawa cinta di balik punggungnya. Tak ada yang istimewa. Tak banyak lelaku atau bicara, tapi kau tak akan kehabisan bahan obrolan meski harus bersamanya 24 jam penuh.

Tak ada yang dia punya selain cinta di balik punggungnya.

Dan ibuku berkata, cinta saja tak akan pernah cukup. Cinta tak pernah berhasil mengubah dunia tanpa dana dan tenaga. Tak ada yang makan cinta dewasa ini. Sapi-sapi saja tetap butuh rumput segar, dan tikus masih menghama di lumbung padi. "Kurasa mereka tak peduli pada cinta," ujar ibu.

Perlahan ia tanggalkan cintanya, lalu bergegas menuju senja terakhir kala magrib menderas.

Maka itu kali terakhir aku melihat lelaki senja. Kali di mana ia berlalu tanpa cinta di balik punggungnya.

==========

Ah, magrib ini aku masih menatap semburat jingga dari kursi panjang di bibir pantai. Dengan cinta di balik punggung, menunggu kabar si lelaki senja.

Comments

  1. wohoo! mantap kak! sepakat dengan kalimat..'cinta saja takkan pernah cukup.. ' ;)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual