Secangkir kopi



Aku ingin mati di depan stasiun gambir,
di galeri nasional,
di sebuah kafe,
di hadapan secangkir kopi,
sembari ditatap secarik puisi.

Saat itu aku hanya jadi kumpulan kata-kata
serupa bias cahaya
yang menatapmu dengan seluruh makna

Lalu sepasang anak muda bertatap sembari menjual cinta
karena cinta itu buta, mereka menyiagakan indra yang tersisa
biasanya peraba, penciuman dan pengecap, kurasa.

Aku masih ingin mati,
ini bukan urusan cinta atau sakit hati.
serupa gelombang usai mabuk whiski
kadang keras menusuk, lalu lunak meresap mimpi

Maka, aku ingin mati
lalu menjelma puisi,
yang menumpahkan cairan serupa pelangi

Ah puisi,
sepotong cerita yang menatap mati.

Comments

Popular posts from this blog

Karena usia cuma deretan angka-angka!

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual