Mati


Saya ini manusia yang tidak punya semangat hidup. Sebentar-sebentar berpikir ingin mati, sebentar-sebentar mencari metode mati yang paling tidak sakit dan sedikit mudaratnya.

Padahal praktis saya tidak memiliki masalah besar atas hidup saya. Baik urusan keuangan, hubungan, atau apapun itu. Saya pernah punya pacar brengsek, tapi siapapun juga pasti pernah mengalami hal ini. Saya pernah dalam kesulitan keuangan, tetapi tidak juga sampai membuat saya harus makan nasi aking. Saya pernah kehilangan teman-teman, tetapi hal itu adalah bagian dari pendewasaan.

Sebenarnya tak ada alasan untuk memburu mati. Tak ada kesulitan yang harus segera saya hindari.

Pekerjaan saya saat ini adalah cita-cita yang saya tulis besar-besar di buku harian saat sekolah menengah: WARTAWAN. Tulis saya kala itu. Pemilihan cita-cita ini salah satu tikungan tajam dari hidup saya setelah sebelumnya saat sekolah dasar saya berkeras ingin jadi dokter.

Sebagai reporter bau kencur, tentu tak menghasilkan puluhan juta rupiah setiap bulannya, tetapi saya dibayar dengan layak. Dengan uang gaji itu saya masih mampu mengirimi ibu setiap bulan. Uang yang tak seberapa itu juga masih bisa disisihkan untuk simpanan berjangka, lalu saya juga menyimpan sebagian lainnya dalam reksadana.

Dengan gaji saya itu saya masih bisa makan layak meski tak mewah, masih bisa membayar keanggotaan pusat kebugaran dan membayar sewa kamar tinggal di pusat kota, atau kadang membelikan ini-itu untuk ibu, pacar, diri sendiri, atau untuk adik-adik yang hampir setengah lusin.

Tak lupa, perusahaan tempat saya bekerja juga membantu saya untuk memiliki asuransi juga tabungan pensiun meski tak premium.

Setiap orang tentu berharap penghasilan yang lebih besar, tak terkecuali saya. Namun, jelas saya tak memiliki masalah dengan penghasilan saya saat ini.

Saya baru saja putus dari hubungan saya yang berjalan 2 tahun belakangan. Hubungan kami tak direstui negara atas nama agama, lalu digelendoti permasalahan dengan pihak ketiga. Tentu saya sedih. Namun ini juga bukan alasan saya harus bersegera memburu mati. Toh tidak dalam waktu lama saya menemukan pria lain. Love kills love, ujar seorang teman.

Jelas masalah cinta-cintaan juga bukan alasan untuk bersegera mati. Saya sedang senang-senangnya bertemu pacar baru. Namun saya juga tak berkeberatan untuk tidak bertemu lagi jika saya mati.

Hubungan saya dengan manusia lain juga baik-baik saja. Meskid alam love-hate relation dengan Pak Bos, tetapi overall hubungan kami baik. Saya tak bermasalah dengan tetangga, juga rekan kerja.

Saat ini saya punya teman-teman yang bisa saya ajak bersenang-senang, juga teman-teman yang mau mendengar keluh kesah. Saya tak ada masalah dengan mereka, meski juga tak satupun yang saya akrabi berlebihan lalu menjadi sahabat sehidup semati. Tak saya percayai romantisme macam itu.

Saya juga tidak terjebak di kejamnya Jakarta sehingga membuat saya ingin mati. Saya selalu suka kota-kota yang pernah saya singgahi. Jakarta memang panas dan macet, tetapi saya bisa menemukan pemain biola atau saxophone di tengah jembatan penyebrangan, dan itu menyenangkan.

Saya bukan "event frenzy" yang mengunjungi tempat hip untuk menjadi eksis. Namun saya datang juga ke pertunjukan seni, saya tengok pameran, atau ke club sesekali. Saya kunjungi museum dan taman-taman kota. Saat luang dan banyak uang, saya pergi ke pantai atau menghadiahi diri dengan buku impor.

Tak ada yang salah dengan hidup saya. Maka urusan ingin mati ini semakin membingungkan.

"Ayo nonton film-film horor aja. Nyari gambaran negatif soal dunia setelah mati. Siapa tahu bikin jadi takut mati," ujar mantan pacar saat saya menceritakan keadaan depresif ini.

"Itu kan cuma film. Nggak akan mempengaruhi state of mind ku," ujar saya menerawang.

"Aku tau. Itu karena kamu kebanyakan merasionalisasi. Jadi ga ada yang menarik lagi. 'Ah itu kan film' gimana kalau ternyata beneran kayak gitu? Ternyata kalau mati emang ga ke mana-mana, gentayangan gitu doang. Bosan, pengen mati, tapi udah mati," jelasnya.

"Ya we'll never know till we get die. Bukannya terus efeknya aku malah jadi makin penasaran sama mati, Apa iya kalau mati beneran begitu? Maksudnya aku malah jadi penasaran pingin mati untuk buktikan apa iya begitu setelah mati. Kalopun ga begitu, gimana dong. Trus aku ga nemu jawabannya akhirnya makin berkeras mau mati," elak saya.

"Tapi ya gapapa to, bayangin doang. Sekedar memotivasi diri biar seneng masih hidup. Hidup itu cen kadang sedikit lebih mudah nek kitanya rodo pekok*. Kepinteren ki membosankan. Ga ada yang menarik lagi ngelihat apa-apa itu. Pekok membayangkan arwahmu gentayangan. Sakjane** kan ra mungkin," tegasnya.

"Ini tadi malam aku sudah beli cutter loh,"

"Cewek memang memilih cara-cara yang lebih halus untuk mati. Potong nadi, minum racun. Kalau cowok pilih loncat dari gedung, tembak diri,"

"Aku sebenarnya sempat consider untuk loncat dari gedung. Tapi mikir, kalo uda loncat, terus ga mati, malah patah kaki, kan repot," jawab saya.

"Aku belum mandi loh. Sebenarnya ada liputan, tapi aku malas bangun. Ah, jangan-jangan aku malah sudah mati?"

"Jangan jangan dunia kita sekarang sebenernya dunia sesudah mati. Lalu kematian ada beberapa lapis. Maka di dunia ini kita mati untuk menuju lapis kematian lainnya," entah dari mana ide ini meloncat begitu saja dari kepala.

"Aku meyakini begitu sih," tanpa diduga mantan pacar menyetujui argumen tak berdasar itu.

"Then I'm in a rush for the next level of death," balas saya.

Percakapan berakhir, tetapi saya masih belum menemukan jawaban. Mengapa saya tak bersemangat hidup. Mengapa saya ingin mati padahal hidup saya baik-baik saja dan masih banyak target yang telah saya tetapkan untuk diraih.

Ah, benar juga, bagaimana kalau kita bosan hidup dan ingin mati, tetapi tidak bisa mati karena sudah mati?



*Rodo: Agak
Pekok: konyol

**Sakjane: sebenarnya

Comments

  1. world suicide prevention day! happy that you're still alive now :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual