Mati itu relatif, sakit itu absolut


Dalam salah satu cerita pendeknya, Haruki Murakami pernah mengatakan ada masanya kita akan sering bertemu kematian. Saat satu kali kematian penarik datang, maka kematian-kematian lain akan menyusul.

Banyak teman selalu berkata ada harapan. Namun saya lebih tega membayangkan kematian dari pada kesakitan. Bagi saya, sakit itu absolut sementara kematian lebih relatif.

Lagi-lagi mengutip Haruki Murakami: pain is inevitable, suffering is an option.

Saya tak tahan membayangkan diri saya, ataupun orang lain berada dalam kesakitan sangat yang tak terelakan. Dalam doa-doa saya, tak ada satupun permintaan umur panjang atau penghindaran dari kematian yang begitu cepat. Saya hanya minta, hindarkan kami dari kesakitan, mudahkanlah setiap proses kematian.

Kematian sebagai keadaan memang absolut, tak pernah saya dengar keberhasilan ramuan abadi. Namun kematian itu sendiri sangat relatif.

Kematian dapat ditafsir melalui banyak hal. Banyak ajaran agama bahwa kematian adalah gerbang menuju hidup lain, kematian adalah jalan menuju abadi, matia dalah cara untuk menjadi lebih hidup, atau apalah itu, you named it.

Seperti dalam catatan saya sebelumnya, bisa saja kita ini sedang hidup dalam dunia kematian, dan kematian itu sendiri ada beberapa lapis, maka kita masti sekadar untuk memasuki level kematian lainnya. Atau, bisa saja kematian hanyalah perpindahan jiwa kita untuk menuju kehidupan lainnya.

Maka mati adalah relatif. Sakit adalah absolut.




Dear Mb Femi,

Tak sekalipun aku ingin mempercayai kalau kamu sudah melangkah ke gerbang itu. Tidak sampai aku melihat ada dirimu dalam apapun bentuknya itu.

Pembicaraan terakhir kita adalah permintaanmu agar aku menghubungi kembali lewat sms, untuk merealisasikan rencana menyesap bir bersama, ahahah... sayangnya bahkan mengerim sms saja belum kulakukan sampai saat ini. Aku mengulur waktu, sampai hampir kehabisan waktu itu. Semoga belum benar-benar habis, ya mb.

Pulang ya Mb, entah ke rumah Bapak, atau kembali pada kami. Apapun itu, pasti jadi yang terbaik.

Ah, aku kehabisan kata-kata, bahkan tak tahu doa apa yang terbaik yang harus kurapal kali ini. Berbahagialah mb.

Comments

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual