Posts

Showing posts from May, 2012

seorang lelaki senja yang membawa cinta di balik punggungnya

Image
Dia muncul dari senja. Mengada begitu saja, tanpa pernah diketahui bagaimana caranya. Dia ada, dan tak ada yang mempertanyakan mengapa dia ada. Dia ada, dan semua menyadari ke-ada-annya.

Tak ada yang tahu sudah berapa lama dia ada, atau senja yang mana yang menghidupinya. Sorot matanya terkadang seperti bapak, terkadang seperti anak tetangga, tak ada yang tahu sepantar siapakah dia. Wajahnya tak menyiratkan usia tertentu.

Jenis wajah yang tampak bijak dengan senyum memesona. Tampak berkelas tapi bukan perlente kaya penggoda. Bukan juga lelaki yang membuatmu berhasrat untuk melucuti pentalonnya lalu berhubungan seks dengan penuh gairah.

Dia  sejenis lelaki kau ingin tuk memelukmu dari belakang. Mencium lembut daun telingamu, membisikan cinta, lalu memberi kecup ringan di leher, dan tanpa kau ketahui semuanya terjadi begitu saja. Lembut, tanpa erang berlebihan. Seperti kenikmatan saat dipeluk dan menghisap lembut puting ibu, sampai kau tertidur.

Dia lelaki yang kau inginkan cintanya, a…

Secangkir kopi

Aku ingin mati di depan stasiun gambir,
di galeri nasional,
di sebuah kafe,
di hadapan secangkir kopi,
sembari ditatap secarik puisi.

Saat itu aku hanya jadi kumpulan kata-kata
serupa bias cahaya
yang menatapmu dengan seluruh makna

Lalu sepasang anak muda bertatap sembari menjual cinta
karena cinta itu buta, mereka menyiagakan indra yang tersisa
biasanya peraba, penciuman dan pengecap, kurasa.

Aku masih ingin mati,
ini bukan urusan cinta atau sakit hati.
serupa gelombang usai mabuk whiski
kadang keras menusuk, lalu lunak meresap mimpi

Maka, aku ingin mati
lalu menjelma puisi,
yang menumpahkan cairan serupa pelangi

Ah puisi,
sepotong cerita yang menatap mati.

Mati itu relatif, sakit itu absolut

Dalam salah satu cerita pendeknya, Haruki Murakami pernah mengatakan ada masanya kita akan sering bertemu kematian. Saat satu kali kematian penarik datang, maka kematian-kematian lain akan menyusul.

Banyak teman selalu berkata ada harapan. Namun saya lebih tega membayangkan kematian dari pada kesakitan. Bagi saya, sakit itu absolut sementara kematian lebih relatif.

Lagi-lagi mengutip Haruki Murakami: pain is inevitable, suffering is an option.

Saya tak tahan membayangkan diri saya, ataupun orang lain berada dalam kesakitan sangat yang tak terelakan. Dalam doa-doa saya, tak ada satupun permintaan umur panjang atau penghindaran dari kematian yang begitu cepat. Saya hanya minta, hindarkan kami dari kesakitan, mudahkanlah setiap proses kematian.

Kematian sebagai keadaan memang absolut, tak pernah saya dengar keberhasilan ramuan abadi. Namun kematian itu sendiri sangat relatif.

Kematian dapat ditafsir melalui banyak hal. Banyak ajaran agama bahwa kematian adalah gerbang menuju hidup lain,…

Colorfully Dead!

Image
Selalu ada masa-masa paling sulit dalam hidup. Bagi saya, masa-masa semacam itu sering kali persoalan diri.


Dan dari seluruh masa terberat itu, melawan diri sendiri, melawan keinginan untuk mati selalu jadi yang terberat dalam 24 tahun belakangan.


Saya tahu saya akan menang, untuk satu hari lagi.






Apologize
soft pastel on used paper


Ayah dan Anita

"Kakak, sebentar ya, aku belum bisa berangkat, ayah lagi marah-marah."

Hampir satu jam sudah saya duduk di pelataran rumah singgah, sambil berkipas dengan buku tipis di tangan, mengusir gerah, mengusir lalat. Dan hanya pesan singat itu yang didapat.

Di halaman depan rumah kami, bising kereta membuat permainan bola terhenti sementara. Anak laki-laki memecah diri, ke sisi-sisi rel, diikuti getar dinding rumah singgah.

Keringat masih mengalir di punggung. Perjalanan dari stasiun Senen, berlarian membelah rel, di tengah panas dan polusi di sekitar Tanah Tinggi tentu saja menghasilkan simbahan keringat. Kaos abu-abu yang melekat di badan sudah setengah basah maksimal.

Dua bulan lalu, Anita masih datang diantar oleh ayahnya. Saya mengenal Ayahnya sebatas sebagai seorang pria Jawa yang rajin mengantarkan anaknya. Dia sangat kooperatif, mendukung sekolah Anita dan, setahu saya, tak pernah menyuruh Anita mengamen.

Satu-satunya yang saya ketahui soal ayah Anita adalah dia menjalani p…

wake up early

Image
Balada hari ini: bangun pagi dan berencana menulis berita secepat mungkin.
Harapan: berita selesai sebelum siang, maka sisa waktu bisa dihabiskan menyelesaikan dua karya Homer yang dibeli pekan lalu Illiad dan Odyssey.

Masalah: kebiasaan membuka jejaring sosial sebelum menulis berita.

Realisasi balada:

Alih-alih menulis berita, pagi tadi kali ini saya mendapat berita: seorang karib akan menikah!

Mood berubah girang, sekaligus terkejut. Keinginan menulis berita menguap. Segera perangkat genggam menempel di daun telinga. Usai nada sambung dan kata halo dari seberang sana, saya langsung menyerang: YOU OWE ME A LONG DETAIL STORY! Teriakku pada si karib.

Berita terbengkalai.
Usai menelepon karib, saya lanjut menelepon ibu.
Mengobrol dengan ibu kala senggang biasanya menghabiskan setidaknya satu jam. Cukuplah untuk mencoret-coret sebentuk tubuh, yang juga ga jelas sebenarnya.


Lalu kertas itu terbengkalai hingga sore. Konsentrasi penuh pada berita untuk koran Senin. Tekad saya, berita harus …

when we were fine

Image
Ini adalah hari yang buruk. Tepatnya saya membuat weekend ini buruk. Discovery channel dan national geographic menjadi tidak menarik, pacar pulang ke bogor, dan saya baru saja membanting motor mantan pacar (kekuatan kemarahan memang mengerikan). Maka menggambarlah saya.

Saat sketsa pensil hampir selesai, saya baru sadar tidak ada ruang untuk menambahkan kepala. maka lagi-lagi hasilnya adalah gambar tanpa kepala. Setelah sebelum-sebelumnya selalu hanya menggambar kepala.

Saya menggambar di atas kertas HVS bekas. Dengan jelas masih bisa dibaca, dibalik gambar adalah siaran pers salah satu bank asal Australia yang ingin menangkap devisa hasil ekspor melalui layanan terbarunya.
Menggambar menggunakan soft pastel di atas kertas HVS bekas, kurang menyenangkan. Kertas tanpa gigi jelas-jelas tidak mau menangkap pastel. Tapi ya namanya juga gambar tak terencana dikala galau.

Saat kepala saya masih memikirkan kerusakan motor mantan pacar, tiba-tiba gambar selesai.


When we were fine soft pastels…

Mati

Saya ini manusia yang tidak punya semangat hidup. Sebentar-sebentar berpikir ingin mati, sebentar-sebentar mencari metode mati yang paling tidak sakit dan sedikit mudaratnya.

Padahal praktis saya tidak memiliki masalah besar atas hidup saya. Baik urusan keuangan, hubungan, atau apapun itu. Saya pernah punya pacar brengsek, tapi siapapun juga pasti pernah mengalami hal ini. Saya pernah dalam kesulitan keuangan, tetapi tidak juga sampai membuat saya harus makan nasi aking. Saya pernah kehilangan teman-teman, tetapi hal itu adalah bagian dari pendewasaan.

Sebenarnya tak ada alasan untuk memburu mati. Tak ada kesulitan yang harus segera saya hindari.

Pekerjaan saya saat ini adalah cita-cita yang saya tulis besar-besar di buku harian saat sekolah menengah: WARTAWAN. Tulis saya kala itu. Pemilihan cita-cita ini salah satu tikungan tajam dari hidup saya setelah sebelumnya saat sekolah dasar saya berkeras ingin jadi dokter.

Sebagai reporter bau kencur, tentu tak menghasilkan puluhan juta rup…