Semoga Tak Hujan


Segerombolan udara menyeruak ke dalam gendang telingaku. Namun gelombang itu tak dapat kuartikan, hanya bunyi yang numpang lewat. Lalu tak kuhiraukan.

Hujan masih membawa semerbak bau tanah, berjalin dengan harum rumput di halaman yang baru saja dipangkas. Hujan tanpa angin tanpa petir begini, membuat ingin berlama-lama duduk di samping jendela. Memandangi hujan seolah dia adalah gadis tetangga yang baru berkembang, kenes dan mencuri perhatian.

Sekali lagi satu set gelombang udara memasuki lubang telinga. Kali ini otakku meminta respon. Menoleh juga aku pada sumber suara, meski tak yakin pada apa yang disampaikannya.

"Eh?"

"Apakah kamu selalu melakukan itu?" Ketiga kalinya gelombang yang sama menerpa.

"Melakukan apa?"

"Berlama-lama meratapi hujan."

Meratapi hujan katanya. Ah, siapa yang meratapi hujan? Aku? Mengapa aku harus meratapi hujan? Mengapa pula hujan harus diratapi? Apalagi ditambah kata selalu. Apa aku selalu meratapi hujan? Bukannya ini sekadar kebetulan bahwa interior rumah kami menempatkan kursi di samping jendela dan secara kebetulan aku masih menyesap sisa kopi terakhirku saat hujan membasuh halaman kami.

"Meratapi hujan?" ujarku menegaskan.

Perempuan dihadapku perlahan mendekat, lalu duduk dipangkuanku.

"Iya, meratapi hujan," jawabnya. Jawaban yang tak menjelaskan apapun. Ah, suka sekali dia menjawab tanpa jawaban. Namun aku juga tak ingin mendengar penjelasan. Aku sedang tak ingin banyak bicara. Kunikmati saja ciumnya, serta jemarinya yang menyisir pelipis hingga kudukku.

Kala itu, percakapan terhenti, berganti nafas kami yang saling memburu.

Bertahun aku mengenalnya. Mengenal tiap jengkal tubuhnya. Aku tahu betul, saat hujan datang, dia akan mengambil inisiatif yang berakhir pada persetubuhan. Ini salah satu misteri yang masih belum ku mengerti. Mengapa dia suka sekali bersetubuh saat hujan landai begini. Hujan yang tanpa gemuruh dan tanpa angin.

Jika hari-hari tidak hujan, inisiatif melulu datang dariku. Bukan berarti dia tidak pernah berinisitaif selama 6 bulan musim kemarau. Juga bukan berarti dia tidak pernah menolak. Namun hujan selalu membawa hal-hal yang tidak kumengerti dari perempuan ini.

Aku bukan penggemar hujan.
Ah, tentu saja aku bukan penggemar hujan. Mengapa harus menggemari hujan. Dia bukan semacam Barca atau Persija, meski aku juga bukan penggemar bola. Namun hujan juga tak sama dengan Maria Ozawa atau Tina Suzuki. Apalah hujan itu. Pikirku dalam-dalam, sembari menghela nafas yang juga dalam.

Belum lagi selesai aku berfikir, tetes pertama menyentuh keningku. Berjodoh betul aku dengan hujan. Atau kaukah itu yang memberi pertanda?

Kuletakkan seikat lili di samping marmer yang bertulisakan namamu. Kali ini, hujan yang memisahkan kita. Besok ku kan kembali lagi, dengan seikat lili, janganlah kau panggil hujan.

Comments

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual