The Lady: perempuan inspiratif dalam film yang kekurangan inspirasi


Alur film yang maju-mundur, judul yang mirip, dan sama-sama mengisahkan soal pemimpin perempuan, film ini sedikit mengingatkan pada Iron Lady. Namun, bagi saya, Iron Lady jauh lebih dinamis, sedangkan The Lady berjalan begitu lambat.

Film dibuka dengan setting rumah sakit, saat Michael Aris menerima vonis sisa umurnya bersama kanker prostat. Lalu mundur ke tahun 1988 saat Aung San Suu Kyi pertama menginjakan kaki kembali ke Burma.

Ini bukan biografi ataupun film politik. Tidak ada cerita signifikan mengenai karakter Suu Kyi maupun perkembangan karir politiknya. Tidak ada klimaks. Semua berjalan saja seperti dokumenter. Film ini lebih personal, meski tidak jelas arahnya.

Sampai pada akhirnya film ditutup dengan kematian Michael Aris, lalu dilanjutkan dengan para biksu mendatangi Suu Kyi, maka saya putuskan bahwa film ini lebih menekankan bahwa Suu Kyi, si anggrek baja, adalah juga Istri dan Ibu yang kesepian.

Dari semua bahan bacaan maupun kelas-kelas perkuliahan yang membahas Suu Kyi, sering terlupakan bahwa dia adalah seorang Ibu yang harus berpisah dengan anak-anaknya, dan seorang Istri yang harus menghadapi kematian suaminya--setelah bertahun rencana pertemuan mereka tidak direstui negara--seorang diri di benua yang begitu jauh terpisah. Sebab itu saya katakan ini adalah sebuah film yang personal.

Saya rasa, seluruh kru film ini bersepakat bahwa Suu Kyi adalah seorang tokoh yang penuh inspirasi dan seluruh dunia harus tahu. Saya tidak tahu seberapa keras mereka berusaha agar seluruh dunia mendapatkan isnpirasi yang sama dari Suu Kri. Sayang sutradara, penulis naskah, atau siapapun dalam film ini agaknya tidak tahu bagaimana cara mengartikulasikan tokoh perempuan inspiratif ini kepada dunia.

Inspirasi Suu Kyi kurang tersampaikan. Tidak ada karakter Suu Kyi yang cukup kuat sebagai tokoh politik dalam film ini. Hanya satu adegan yang menunjukan keteguhannya, saat Suu Kyi menghadapi moncong peluru sendirian.



Film ini menceritakan kisah panjang dengan alur yang lambat dan datar. Bagi mereka yang tidak mengikuti kisah Daw Aung San Suu Kyii pasti merasa ini film yang membosankan.

Namun, film ini mengharukan. Ada banyak momen di mana bulu kuduk saya sampai berdiri, merinding dan menangis.

Saya begitu terharu Suu Kyi pertama kali memberikan pidato politiknya. Itu adalah adegan luar biasa, disusul dengan kisah saat dia berkampanye keliling burma. Saat itu dia hanya seorang ibu rumah tangga yang belum menunjukan kapasitasnya selain bahwa dia adalah anak perempuan dari seorang founding father, jendral Aung San. Namun rakyat mempercayainya.

Sampai titik ini dia masih mirip Megawati, anak seorang founding father yang belum menunjukan kapasitasnya. Bedanya, dalam perjalannya Suu Kyi makin menunjukan integritas dan kapasitasnya sedangkan sepanjang perjalanan politiknya Megawati semakin membuka tabir ketidakbecusan dan kekacauannya.

Meski, saya akui, Suu Kyi pada akhirnya belum pernah menjadi perdana menteri, belum pernah memimpin bangsa, sehingga kita tidak tahu apakah ketika sudah menjadi pemimpin dia juga dapat sama luar biasa-nya dengan ketika dia menjadi pemimpin partai, memimpin revolusi di Myanmar.

Namun, saya rasa, belum pernah ada film yang dibuat mengenai seseorang yang masih berjuang. Kebanyakan film dibuat saat seorang tokoh sudah meninggal, atau setidaknya saat tak lagi berjuang. Suu Kyi memang pantas mendapat penghargaan ini.

Comments

Popular posts from this blog

Karena usia cuma deretan angka-angka!

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual