Asu


"Aku akan mati saat usia 24," ujarnya mantap.

Kali ini aku tidak mengerti maksud ucapannya. Bukan berarti aku selalu mengerti maksud ucapannya. Namun kali ini aku tidak mengerti sampai malas bertanya.

Kuhirup dalam-dalam rokokku, lalu menenggak bir ketiga kami. Maghrib yang begitu deras baru saja berlalu, suasana kini menjadi tenang, sedikit benderang di bawah lampu jalan.

"Aku selalu tahu aku akan mati saat usiaku 24 tahun. Artinya hidupku hanya tersisa 7 bulan, atau kurang dari itu. Karena saat bulan ketujuh aku akan menjadi 25 tahun. Berarti aku sudah mati saat itu."

Usai berkata, ia menghabiskan botol ketiganya. Dia selalu menyatakan ketidaksukaannya terhadap bir. Lebih tepatnya tak menyukai efek samping bir yang selalu membuatnya ke kamar mandi setiap 20 menit. Tapi tak pernah juga ia menolak jika kubelikan, sampai botol ketujuh, dia akan merasa cukup.

"Biasanya rock star akan mati saat berusia 23 tahun. Maka para pecinta hidup akan mati saat usia 24 tahun."

Argumen yang jelas-jelas kontradiktif, tak berdasar dan tak cukup kuat untuk diperdebatkan. Namun aku menyukai caranya berbicara. Saat baru mengenalnya, aku pikir cara bicaranya yang menggebu-gebu dan idenya yang tak tertebak adalah salah satu jenis keseksian yang bisa dimiliki perempuan, namun tak bisa kujabarkan.

Jadi kubiarkan saja ia berbicara. Penasaran ingin mendengar argumen serta alasannya.

Namun kali ini dia berhenti. Lalu membeli koran lokal dari asongan yang lewat. Karena hari sudah menjelang malam, koran tersebut hanya Rp1.000 saja. Head line hari ini adalah mengenai lima ekor anjing yang memakan tuannya, setelah sebelumnya menjadi kanibal karena memakan dua ekor rekannya.

"Saat anjing memakan manusia, maka itu akan menjadi berita besar. Karena dalam kitab suci dua agama terbesar di negara kita ini, manusia adalah pemimpin dunia, manusia berhak mengurus dunia ini, termasuk mengurus anjing-anjing. Lalu manusia boleh jadi kelompok besar yang menguasai dan merusak dunia. Dan kelompok anjing-anjing tidak boleh lebih besar dari manusia. Setiap hari, ada berapa ribu anjing yang disembelih untuk dijadikan makanan. Ada berapa ribu anjing yang menjadi tongseng, menjadi sate, atau jadi sosis."

Perempuan di hadapku ini bukan pejuang lingkungan ataupun aktivis hak-hak binatang. Namun dia selalu resah pada kuasa manusia atas alam yang harusnya dibagi-bagi bersama ini. Meski tak ada juga yang kongkrit ia lakukan.

"Ah, koran-koran ini selalu saja bercerita tak tuntas. Hanya menceritakan garis besar, dan tidak pernah menjawab apa yang sebenrnya diinginkan pembaca," kali ini ia melipat koran dan beranjak ke gerai ritel terdekat.

Koran itu mengungkapkan, seorang kakek tua ditemukan tewas, dengan daging yang compang-camping disantap kesembilan anjing peliharaannya. Dikabarkan sisa tubuhnya ditemukan terpisah-pisah, dengan tengkorak kepala yang ditemukan di dapur, dan tersisa paha kiri.

Anjing-anjing tersebut sudah terkurung selama dua minggu selama pemiliknya meninggalkan rumah. Setelah menyantap dua rekannya, lima ekor anjing yang tersisa juga menyerang lalu menyantap sang majikan begitu dia membuka pintu rumah.

"More beer?" tanyanya.

Aku mengangguk.

Ia kembali dengan dua botol kecil bir. Katanya, bir yang sudah tidak dingin, tidak enak rasanya. Sebab itu, alih-alih membeli botol besar, dia lebih memilih bolak-balik membeli botol-botol kecil.

"Lalu, diapakan anjing-anjing yang kanibal itu? Mengapa koran ini tidak menjelaskan diapakan anjing-anjing itu? Apakah warga, atau pemerintah daerah lantas membunuh kelimanya karena ngeri atas kesadisannya. Ataukah anjing-anjing itu dilepas begitus aja? Atau bisa juga dikarantina? Bisa juga-anjing-anjing itu sudah kabur. Koran memang tidak pernah memberi berita yang memuaskan."

"Di Indonesia tidak ada karantina hewan, Ca. Kecuali di bandara, karantina hewan dan tumbuhan," tukasku. Namun dia tak tersenyum, ataupun tertawa mendengarnya.

"Ya sudahlah, lapar nih. Sengsu yuk!"



Catatan:
*Anjing yang memakan tuannya sendiri terjadi di Batam. Beritanya bisa diunduh di sini.

**Sengsu adalah tongseng asu, atau tongseng anjing dalam Bahasa Indonesia.

Comments

Popular posts from this blog

Karena usia cuma deretan angka-angka!

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual