Ah, Pak Motivator, gitu aja kok repot!


Minggu lalu perusahaan tempat saya bekerja mewajibkan seluruh karyawannya mengikuti pelatihan motivasi. Bagi saya, ini adalah pelatihan motivasi yang sangat tidak memotivasi.

Saat saya memasuki ruangan, motivator sedang menjelaskan 3 kecenderungan bekerja. Pertama, menurut dia, kecenderungan untuk bekerja yang paling rendah adalah melihat pekerjaan sebagai tugas. Lalu kita menjalankannya sekadar untuk bertahan hidup, tanpa menentukan arah atau capaian yang kita inginkan. Hemat kata, lagi-lagi menurut sang motivator, pekerja tipe ini akan bekerja berdasarkan skenario orang lain.

Lalu ada yang bekerja dan melihatnya sebagai karir. Orang yang melihat pekerjaan sebagai karir, akan menjalankan hidup yang dia sutradarai sendiri, dia pula yang menuliskan skenarionya. Singkat cerita orang macam ini sudah jelas mau apa dan akan kemana.

Dan yang paling super menurut motivator dihadap saya kala itu adalah melakukan pekerjaan berdasarkan skenario Tuhan. Ini tidak konkrit menurut saya. Bagaimana kita tahu ini skenario Tuhan atau bukan? Apalagi tidak semua orang percaya Tuhan itu ada. Dan apa-apa yang tidak kita percaya, lantas biasanya menjadi tidak ada.

Saya tidak akan meperdebatkan Tuhan ada atau tidak. Saya hanya masih gemas dengan level yang diciptakan oleh motivator tersebut. Saya hanya merasa ini tidak konkrit, dan kontroversial dalam teorinya sendiri.

Dia bilang kita harus membuat skenario sendiri, bukannya mengikuti skenario dari entitas di luar kita. Itu yang terbaik. Namun kemudian dia berkata, yang super adalah jika kita bekerja dengan skenario Tuhan.

Padahal, Tuhan dalam agama di KTP saya mengatakan bahwa Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika kaum tersebut tidak berusaha mengubah nasibnya sendiri.

Pertanyaan ini dapat terjawab dengan mudah sebenarnya. Jika kita sebegitu dekat dengan Tuhan, maka kita tahu tuhan adalah apa yang ada di dalam diri kita sendiri. Lalu apa-apa yang kita lakukan adalah representasi dari Tuhan itu karena kita yakin apa-apa yang kita lakukan sudah sesuai dengan jalan Tuhan. Tuhan adalah apa yang ada dalam diri kita. Dalam diri kita ada Tuhan bagi kita masing-masing.

Blah.

Begitu saya kira si motivator akan menjawab.

Dan benar saja dia menjawab demikian.

Lalu saya masih gemas."Iya, saya percaya Tuhan. dan sebegitu relijiusnya saya, sampai-sampai saya yakin apa yang saya lakukan adalah pengejawantahan dari Tuhan. Namun skenario Tuhan adalah tetap sesuatu yang tidak konkrit. Bagaimana kita tahu itu skenario Tuhan, atau ide iblis yang mebisik? Apalagi tidak semua orang bertuhan, dan tidak semua orang bertuhan dengan cara yang sama dengan anda. Maka skenario Tuhan dalam pekerjaan sebagai sesuatu pilihan yang super tidak bisa dijeneralisasi" tegas saya kala itu.

Bukannya menjawab kebingungan saya soal jeneralisasi skenario Tuhan sebagai jawaban super. Si motivator malah mendebat soal ketuhanan. Katanya: Saya rasa sulit menjadi atheis kala seperti ini, saat tanda-tanda Tuhan sudah jelas ada.

Ah, motivator ini lupa kalau dunia ini beragam. Dia lupa variabel itu bukan hanya A dan B. Bahkan selain dari variabel yang kita ketahui keberadaannya, jika Tuhan yang dia percaya menginginkan, maka akan ada milyaran variabel lain.

Bagi dia, mungkin menjadi atheis adalah hal yang sulit, tetapi bukannya bagi orang lain beragama adalah bisa jadi sebagai pilihan lain yang sama atau bahkan lebih sulit lagi?

Bukankah dia bilang Tuhan punya skenario? Jangan-jangan dia lupa bahwa Tuhan yang dia percayai skenarionya itu, pasti punya banyak jenis skenario. Skenario-skenario yang tidak bisa dipukul rata. Tidak bisa dijeneralisasi.

5 menit sesudah pelatihan, saya sudah di atas motor. 20 menit di atas motor, saya masih memikirkan soal skenario Tuhan. Dia menyebutnya sebagai calling, panggilan. Sesuatu yang berada di atas manusia yang melihat pekerjaan sebagai tugas yang dapat menyambung hidup, juga di atas manusia yang melihatnya sebagai karir. Ini adalah panggilan hati.

Ah, motivator ini rumit sekali, dan tidak memotivasi.

Kalau dia bilang skenario Tuhan ini seperti panggilan diri untuk melakukan pekerjaan, bagaimana kalau kita menyebutnya sebagai passion, hasrat, kesukaan atas sesuatu.

Lalu skenario Tuhan yang dia maksud, ternyata bukan berarti kita  mengikuti saja, tetapi juga kita harus memiliki titik-titik peningkatan diri seperti yang kita lakukan saat melihat pekerjaan sebagai karir.

Hemat saya, hal rumit yang disebut sebagai skenario tuhan oleh sang motivator semata adalah karir yang kita jalankan dengan passion. Karir yang kita besarkan dengan sepenuh hati. Pekerjaan yang sama menyenangkannya dengan hobi. Sehingga kita bisa tenggelam didalamnya dan merasa sangat bahagia.

Ah, Pak Motivator, gitu aja kok repot!

Comments

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual