Saya sih setuju penghapusan subsidi, tapi...


Ada banyak alasan positif bagi saya untuk mendukung pengurangan subsidi bagi bahan bakar minyak (BBM). Saya bukan ahli ekonomi, tentu saya tak akan berbicara mengenai angka defisit maksimal 3% serta perhitungan ekonomi makro lainnya. Karena tanpa saya jabarkan pun sudah banyak penjelasan ahli bahwa pengurangan subsidi BBM sangat diperlukan dalam perhitungan ekonomi makro serta pertumbuhan perekonomian dalam skala yang lebih panjang dan lebih sustain.

Bagi saya, masalah utama bangsa kita ini bukan subsidi bahan bakar minyak (BBM), tapi korupsi dan persoalan infrastruktur. Kalau kedua soal itu sudah kelar, fluktuasi harga BBM mengikuti harga minyak mentah mungkin ga akan terlalu jadi masalah (meski, terbayang juga kenaikan harga, pertumbuhan inflasi, lalu jumlah masyarakat miskin yang bertambah).

Tentu korupsi masalah, sudah tidak perlu dibahas lagi. Saya yakin semua program pemerintah pasti akan dipercaya dan direspon lebih positif jika tidak ada penyelewengan. Tanpa korupsi, anggaran yang keluar dapat lebih efektif digunakan. Pembangunan mungkin lebih lancar.

Pokoknya Indonesia kolam susu, kail dan jala cukup menghidupi. Ga perlu itu impor beras, ga perlu ada pembantaian orang utan, karena semua berjalan wajar dan semestinya. Sayang itu mungkin cuma mimpi bahkan sampai 30 tahun dari sekarang.

Jadi, tidak ada hal yang bisa kita bahas lagi dari soal tanpa korupsi ini.

Perekonomian Indonesia memang tumbuh tinggi, relatif lebih tinggi dibanding negara kawasan, bahkan di seluruh dunia. Prediksi pemerintah kita akan tumbuh 6,3% tahun ini. Namun, saya yakin dalam pertumbuhan yang tinggi ini, pengusaha pasti tetap misuh-misuh, terutama soal tingginya biaya ekonomi (high cost economy).

Korupsi memang jadi salah satu penyebab tingginya biaya ekonomi. Akan tetapi tadi kita sudah bersepakat tidak akan membahas itu. Penyebab utama lain bagi ongkos ekonomi yang tinggi ini tentu saja soal anggaran infrastruktur.

Utilisasi pabrik-pabrik di Indonesia masih lebih sedikit dari pada produksi sumber daya. Belum lagi jalanan yang rusak, daya tampung pelabuhan yang kurang, transportasi publik tidak memadai... Saya rasa sudah cukup penjabaran kekurangannya. Kalau harus dijabarkan semua, mungkin 3 jam dari sekarang saya sudah membuat 10 halaman penuh dengan keluhan infrastruktur.

Dengan berbagai masalah yang tak kunjung usai soal infrastruktur Indonesia ini, anggaran infrastruktur kalau tidak salah hanya Rp160 triliun. Jadi jangan heran kalau masih ada anak sekolah yang harus berenang menyebrangi sungai setiap pagi, atau simbah pedagang sayur harus ke pasar pada dini hari karena jalanan yang rusak menambah waktu tempuh.

Sementara itu, anggaran kita untuk subsidi BBM mencapai Rp178 triliun, lebih banyak dari anggaran infrastruktur. Tak heran kalau mobil bertambah, jalannya tetap segitu saja, sehingga meningkatkan daya macet. Orang tak takut beli mobil, DP mudah, bahan bakar murah.


Are you smarter than 3rd grader?

Persoalannya adalah, tidakkah kita semua belajar saat kelas 3 SD mengenai sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui?

Sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui adalah sumber yang jumlahnya terbatas karena penggunaanya lebih cepat daripada proses pembentukannya dan apabila digunakan secara terus-menerus akan habis.

Minyak bumi, emas, besi, dan berbagai bahan tambang lainnya pada umumnya memerlukan waktu dan proses yang sangat panjang untuk kembali terbentuk sehingga jumlahnya sangat terbatas; minyak bumi dan gas alam pada umumnya berasal dari sisa-sisa hewan dan tumbuhan yang hidup jutaan tahun lalu.

Begitu kata buku IPA salah satu murid saya.

Dari penjelasan tersebut, jelas bahwa proses pembentukannya sulit. Selain itu, proses penggalian dan pemrosesannya juga bukan soal mudah. Jauh lebih mudah membuat mobil dari pada membuat bensin. Kita tidak bisa membuat populasi hewan jutaanpurba di masa peleolithikum ato bahkan masa jurasic bertambah agar cadangan minyak bertambah, kan?

Maka, kalau mobil adalah barang mewah, sudah barang tentu BBM menjadi barang mewah.

Pola pikir ini yang tidak ada dalam masyarakat sekarang. Kita biasa dimanja dengan harga BBM yang murah sehingga melahirkan mentalitas menganggap BBM adalah barang murah yang bisa didapat kapan saja, dengan harga seenak udel.

BBM adalah barang mewah, yang harusnya dihargai mahal. Bukan hanya proses pembentukannya saja yang membuat dia mahal, tetapi juga proses setelahnya.

Polusi asap di udara, polusi minyak di perairan, juga polusi oli di tanah. Saya pikir ini adalah kejahatan terhadap ibu pertiwi, a crime to mother nature. Segala polusi ini, tidak ada obatnya.

Lalu, kesadaran atas berbagai macam polusi itu, membawa manusia kepada solusi energi hijau terbarukan: energi matahari, energi angin, energi air, juga minyak yang berasal dari tumbuh-tumbuhan.

Energi baru ini, sampai kapanpun tidak akan bisa menyaingi popularitas premium, selama premium masih disubsidi. Dengan membiarkan subsidi kepada premium, maka kita mematikan kesempatan untuk energi lain, sekaligus mematikan kesempatan bagi transportasi publik yang lebih baik (walaupun saya ragu, misalnya subsidi premium dicabut apakah ada jaminan transportasi publik akan lebih digenjot, atau korupsinya yang digenjot?).

Saya pikir sangat penting untuk energi lain berkembang, biodiesel, gas bumi energi matahari. Energi-energi ini tentu akan menjadi lebih murah ketika sudah diproduksi lebih massal. Sayangnya, bagaimana mau diprosuksi massal kalau semua orang masih memakai premium lantaran harganya murah, padahal ongkos sebenarnya sudah sangat mahal, termasuk ongkos paska penggunaan: polusi.

Maka, otak awam saya pikir benahi sajalah itu masalah infrastruktur, dan pengangkutan, baik barang maupun orang. Kalau kita punya MRT seperti di Singapura, saya pikir pengguna mobil juga menjadi berkurang, subsidi ga perlu membengkak karena pengguna premium juga berkurang dengan sendirinya.

Comments

  1. Mantap, Rik... Aku sependapat banget (aku juga tadinya berencana nulis dengan alur pemikiran yang sama, tapi belum sempet ajah...hehehe). Aku juga punya kebingungan yang sama, kenapa orang kok panik banget harga BBM naik, padahal sudah sewajarnya harga minyak dunia akan terus naik karena memang merupakan energi yang terbatas/tidak terbarukan. Yang namanya suatu barang akan menjadi langka, nilainya akan lebih mahal ke depannya. Apalagi, kita sudah jadi net importir minyak dan bukan lagi net eksportir. Sip lah, ditunggu tulisan selanjutnya...

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual