Sajak Ibu



Kelak Ibu kan menjahit sajak-sajak lusuh
yang terlipat dalam lemari baju,
 hingga ia temukan ayahku.

"frasa-frasa yang subur menghambur,
tak akan pernah gugur," ujar ibu yakin.
Mungkin meyakinkan dirinya sendiri.

Sampai ia temukan aksara yang berlompatan,
kabur dari koran yang membaca ayah kala subuh reda.

Lalu ibu menunggu
Menyiangi pilu,
(karena waktu membuat anak-anak cukup dewasa
 untuk menjerang kata-kata mereka).
 dan rindu,
  yang terkumpul jadi satu.

Kami tahu tak ada yang lebih berharga dari bacot suci ibu.

Comments

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual