The Raid: Serbuan Absurd

Berminggu lalu saya menemukan banyak komentar superpositif soal The Raid. Jadilah saya penasaran, berekspektasi tinggi, lalu kecewa.

Kesalahan utama menonton adalah berekspektasi. Saya melakukan kesalahan itu, maka tak ayal pasti kecewa.

Jalan cerita The Raid, mirip betul sama cerita pembuka salah satu film Jackie Chan yang entah apa judulnya saya lupa. Satu set polisi muda gagah, satuan khusus dengan skill khusus, menyerbu sebuah gedung. Lalu satu per satu mati mengenaskan. Bedanya di film Jackie Chan, yang selamat adalah sang ketua tim: Jackie Chan itu sendiri, si tokoh utama. Sedangkan dalam The Raid, survival of the fittest adalah dua orang anak buah.

Tapi yasudahlah, saya ga akan sampai pada kesimpulan siapa menyontek siapa. Apa sih yang betul-betul orisinil dalam dunia yang sudah jutaan tahun ini? Bahkan kloning saja sudah berhasil dilakukan pada banyak jenis hewan selain Dolly si domba.

Saya sadar betul, dalam film yang menjual aksi tarungnya, maka jangan terlalu berharap pada dialog, jalan cerita, atau hal-hal pendukung lainnya. Teruslah berkonsentrasi pada aksi laganya yang ciamik. Mungkin aksi terbaik dalam film Indonesia. Demi melihat aksi laganya, saya pikir Suzanna saja pasti beralih pada Iko Uwais dari pada Barry Prima.

Sayangnya saya sulit berkonsentrasi HANYA pada aksi laganya selama dialog mengingatkan saya pada Sutan Takdir Alisjahbana, Achdiat K. Mihardja, ataupun Ahmad Tohari yang belakangan terkenal di kalangan ABG karena Sang Penari. Dioalognya itu loooohhh...

Sangat sulit bagi saya berkonsentrasi HANYA pada kekejaman seorang preman menyeret mayat jika percakapan mereka tak ubahnya film CIntaku di kampus biru atau Gadis Marathon.

"Lo tau, mereka semua sedang mencari lo saat ini. Lo sudah tidak punya pilihan lagi. Lo harus mengikuti kami..."

Wew, sudah jutaan tahun rasanya sejak SUDAH, MENCARI, MENGIKUTI menjadi pilihan kosa kata percakapan sehari-hari orang Jakarta. Preman-preman ini seperti sedang berada dalam scene suatu sinetron.

Sekuens yang tidak detail juga sulit membuat saya HANYA berkonsentrasi pada ceceran darah serta lelucon yang ditampilkan. Bagaimana bisa mayat berlumuran darah tidak meninggalkan setetes pun darah saat diseret. Darah begitu saja muncul di depan lift, tapi tidak di sepanjang jalan.

Lalu, bagaimana saya bisa berkonsentrasi pada pertarungan ciamik jika saat 5 preman mengeroyok Iko Uwais, 4 preman lain hanya menonton Iko menghabisi temannya alih-alih mengeroyok. Man, ga perlu pake etika tarung satu-lawan satu. Kan ceritanya mereka preman, kerjanya apa lagi kalo bukan ngeroyok? Masa mereka cuma nonton saat Iko menghabisi nyawa temannya dan baru maju saat temannya ga berdaya. Kalaupun ada gaya preman seperti itu, saya rasa itu bukan gaya preman Indonesia, setidaknya bukan gaya preman Jakarta.

Terakhir, dari sekian banyak rekomendasi yang saya dapatkan, kata kunci untuk The Raid adalah sadis. Semua orang mengatakn film ini sadis sekali, beberapa mengatakan tidak berani memandang layar saking sadisnya.

Maka saya berangkat ke bioskop sambil menyiapkan mental untuk adegan yang akan membuat saya loncat dari kursi. Atau minimal jadi sok-sok memeluk lengan pacar. Lumayan, mbati.

Saya menantikan adegan sadis itu. Sampai akhirnya... tiba-tiba film selesai.

Lah, mana ini adegan sadisnyaaaaa?

Saat orang mengatakan sadis, saya langsung teringat Inglorious Basterd. Saya masih ingat betul adegan sadis saat tentara nazi menguliti batok kelapa manusia. Hoek. Membayangkannya saja masih bikin hati saya tak tenang lahir batin.

Maka pelajaran kali ini adalah masih soal ekspektasi.

Kosongkan hati dan pikiran saat menonton. Jangan berkespektasi apapun agar tidak kecewa. Tapi, kalau sudah mengosongkan kepala dan masih juga kecewa, ya emang filmnya aja yang jelek.




NB: Dari dulu sampe sekarang, Ray Sahetapy emang paling jago dah kalo jadi bajingan.

------------------------------------------------

Produser: Ario Sagantoro
Sutradara: Gareth H Evans
Penulis: Gareth H Evans
Pemeran: Iko Uwais, Pierre Gruno, Ray Sahetapy, Joe Taslim, Tegar Satria, Verdi Solaiman, Ananda George, Eka Rahmadia, R Iman Aji,Donny Alamsyah, Yayan Ruhian
Tanggal edar: Jumat, 23 Maret 2012
Warna: Warna

Comments

  1. hahaha, yoi banget, rasanya pengen noyor kepala dan mencabik2 mulutnya si ray yang tersenyum lebar itu. Wkwkkw
    well, secara keseluruhan ini film laga paling oke sih di tengah film2 indonesia saat ini, meski jalan ceritanya g jelas jg, krn terlalu meng eksplor adegan laganya.. Dan memang ada bbrp adegan yg g logis pas si donny nusuk si gondrong pake lampu, moso y bisa nembus gitu. Hmmm..

    ReplyDelete
  2. yoi benjet, mengingat neon adalah sejenis lampu yang senggol dikit pecah, agak geli juga ngeliat neon bisa nuncep di leher ampe jadi pipet pengalir darah begono -__-"

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Karena usia cuma deretan angka-angka!

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual