Monster saya

Denk dir ein großes Tier und denk es dir noch schlimmer.
Kannst du mein Monster halten?


Saya percaya semua orang punya monster dalam dirinya. Saya juga percaya bahwa kita tidak bisa selalu menghindari monster kita masing-masing. Pada akhirnya yang terbaik adalah mengenali monster itu, lalu berteman. Membunuh monster dalam diri kita mungkin sulit, karena kita adalah monster itu snediri. Namun kalau sudah kenal, bukankah kita bisa lebih mudah untuk saling mengendalikan?

Maka saya putuskan untuk mengenali dan menganalisa monster saya. Monster saya adalah penolakan. Saya sangat sensitif dan emosional terhadap penolakan. Imbasnya, saya takut berinisiatif dalam mengajukan ajakan.

Saya rasa monster penolakan ini sudah ada sejak saya masih berbentuk fetus.

Meski tak pernah ada yang menceritakan secara gamblang, tetapi saya tahu bahwa orang tua sudah memiliki saya sebelum mereka menikah. Di Indonesia, akhir 80an--bahkan hingga saat ini--orang tidak membicarakan dengan terbuka masalah seksualitas dan kesehatan reproduksi.

Saya lahir sebagai hasil "kecelakaan". Parahnya lagi, saya lahir begitu cepat, prematur, mempercepat kedatangan saya yang sama sekali tidak ditunggu.

Saya baru menyadari hal ini ketika sudah berkuliah, dalam fakta yang saya temukan sendiri. Lalu hanya mendapat cerita sepintas yang tak tuntas dalam konfirmasi ringkas. Namun perasaan tidak diharapkan, sendirian, dan harus meninju dunia sudah saya rasakan sejak sekolah dasar.

Kelas 3 SD, saya memiliki tas sekolah yang begitu penuh. Disesaki oleh buku dan baju-baju. Kelas 3 SD, pertama kalinya keinginan untuk kabur dari rumah muncul. Bahkan saat itu saya merasa saya harus jadi anak kelas 3 SD yang paling kuat di seluruh dunia karena tak ada yang menginginkan saya.

Mungkin saat itu ibu masih terlalu muda untuk hamil muda. Emosinya meledak-ledak. Alih-alih menenangkan saya yang sedang ketakutan dan menangis seperti orang gila, Ibu hanya akan membanting pintu, membiarkan saya sendirian sampai ketiduran karena lelah menangis.

Kekerasan fisik saya kira tidak ada rasanya dibandingkan "kekerasan" mental yang saya rasakan sebagai orang yang tidak diharapkan. Tentu ada banyak masa indah sepanjang masa kecil saya. Namun tak ada satupun kenangan yang menunjukan kedekatan saya pada keluarga. Saya adalah si anak yang datang tiba-tiba.

Saya tidak pernah berani meminta apapun pada orang tua. Sejak mengerti arti kata beban, saya juga mengerti bahwa kelahiran saya adalah beban. Maka saya selalu takut mengajukan permintaan. Jika ingin meminta sesuatu, saya selalu mulai dengan "Mama, mama punya uang ga? Kalau mama punya, teteh kepingin beli ini, tapi kalo ga punya juga gapapa kok ma, nanti aja," saya hapal di luar kepala "mantra" itu.

Bahkan secara tak sadar hingga saat ini saya masih menggunakan mantra tersebut saat mengajukan permintaan. "Mas, mas capek ga? Kalau ga capek, aku mau ajak ke sini, tapi kalau capek gapapa, aku sendiri gapapa sih sebenarnya," itu kalimat defensif saya.

Kalimat itu ditujukan untuk melindungi harga diri saya. Mengantisipasi penolakan. Misalpun saya ditolak, toh saya sendiri telah memberi opsi untuk jawaban negatif tersebut, sehingga saya tak perlu terlalu dalam merasa dibuang.

Setelah mengenali monster tersebut, mengakuinya adalah hal lain lagi. Saya kenal dia sejak lama, bukan berarti semudah itu mengakuinya. Maka inilah cara saya mengakuinya. ya, ini monster saya. Dia ada, saya tuliskan pula dia di sini. Saya mengakuinya.

Bukan hal memalukan memiliki monster, semua orang pasti punya monster. Saya tidak percaya ada orang sempurna. Monster itu bisa berupa berbohong untuk melindungi diri meski tidak diperlukan sekalipun, menutup diri karena tidak suka pada diri sendiri, atau bisa juga kebiasaan cari perhatian berlebih.

Jadi, apa monstermu?

Comments

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual