Soal Residivis dan Sekolah Kami

Guru dihadapku ini tentu bukan tipe guru teladan. Peluh yang membanjiri pelipisnya juga bukan patokan untuk mengatakan ia penuh dedikasi.

"Saya sedikit terlambat," ujarnya sambil menyeka peluh. "Tadi habis urus KTP di Bekasi."

Saat itu hampir pukul 3 sore(!), si Ibu guru yang "sedikit" terlambat itu baru saja datang, dan akan segera pergi lagi dalam waktu kurang dari satu jam. Murid-murid pun akan pulang lebih cepat. Jika formalnya pulang sekolah adalah pukul 5 sore, hari ini murid-murid akan pulang pukul 3 sore, termasuk Anita.

Alasan memulangkan murid membuat keningku berkernyit.

"Ada guru agama yang bikin hajatan di sana, guru-guru mau kondangan dulu. jadi hari ini pulang cepat," jelasnya sambil menunjuk sudut di ujung jalan..

Aih, hatiku mencelos.Seumur hidup 12 tahun bersekolah, tak pernah aku dihadapkan pada keadaan seperti ini, guru-guru yang mengorbankan kelas karena akan pergi kondangan bersama-sama.

Ruang guru adalah kubus 5 x 8 meter yang hampir meledak karena terlalu penuh dengan barang-barang. Meja guru berhimpitan membentuk persegi dengan dikawal almari di tiap belakang kursi. Ketika Ibu Guru dihadapku meminta aku duduk, aku pun harus mencari kursi sendiri.

Ah, bandingkan dengan ruang guru berkeramik dengan karpet lembut dan sofa empuk yang dialiri udara segar dari AC, di sekolah adikku--puluhan ribu kilometer dari sini. Belum lagi guru yang santun menawarkan minum dengan senyum-yang-entah-tulus-entah-autopilot.

Kedatanganku kali ini bukan untuk mengambil laporan hasil belajar. Ujian kenaikan kelas baru akan dilaksanakan paling cepat bulan depan. Sama sekali bukan urusan itu.

"Kak, tolong ke sekolah. Soalnya aku diusir sama anak-anak, enggak boleh sekolah di Johar lagi. Kalau masih sekolah, aku mau dikeroyok sampai babak belur," pesan singkat dari Anita inilah yang membuatku bergegas ke sekolah.

Ancaman itu bermula dari kepintaran Anita. Beberapa teman yang panik dan tidak belajar saat menyambut ulangan, memaksa agar dipasok contekan. Tentu Anita menolak. Lalu terjadilah peristiwa ancaman itu. Mengingatkanku pada Ibu Siami di Jawa Timur yang terusir dari rumahnya karena persoalan contek-mencontek.

Ibu di depanku masih tergopoh menuju kursi sambil tak henti bercerita. "Saya tahu ini anak-anaknya. Anak-anak ini memang kelakuannya sudah seperti inang-inang di Pasar Senen sana. Reman mereka itu. Kalau saya tidak tangan besi menghadapi mereka, sudah jadi sindikat mereka itu,".

Logat bataknya yang kental menggelegar di sela almari, loker, dan debu-debu di ruang guru. Guru kelas 3 itu dengan lancar menyebut nama-nama anak yang menurutnya berbakat menjadi sindikat pelaku kejahatan. 4 anak perempuan disebutnya, 2 diantaranya kakak-beradik. Keempatnya sudah biasa diciduk Polisi atau Satpol PP.

Dan keempatnya baru kelas 3 SD!

80% Murid SD Johar Baru 16 Petang, Kelurahan Senen adalah pengamen. Mereka butuh terdaftar di sekolah supaya ketika tertangkap Satpol PP mereka bisa menunjukan surat pengantar yang menyatakan bahwa mereka bersekolah.  Sebab itu mereka harus dibebaskan: karena masih menimba ilmu di sekolah yang diakui pemerintah. Semacam Alibi. Beginilah politik kaum rumah kardus.

Ibu dihadapku sudah meraih kursinya, saat aku dengan susah payah mengeluarkan salah satu kursi dari celah meja guru yang bersisian.

"Ayahnya ini, mati dia dipenjara, kasus narkoba. Ibunya residivis. Makanya itu Ibunya tidak pernah mau datang kalau saya panggil ke sekolah. Dia pelarian, kalau saya bisa bawa dia ke polisi, dapat saya Rp300.000," tambahnya.

Proyeksi gambar pada layar putih yang aku lihat di bioskop, selalu menayangkan upah jutaan dolar bagi siapapun yang berhasil menangkap residivis. Baru kali ini aku mendengar kisah residivis kacangan macam ini.

Cerita residivis cuma bagian superkecil dari SD Johar Baru 16 Petang. Murid SD yang tertanggap menonton video porno atau membaca majalah berisi perempuan bugil, juga bukan hal yang aneh.

Suatu ketika, seorang Ibu Wali Murid memaksa meminta surat keterangan sekolah untuk ketiga kalinya. Anaknya sedang "dikandangin", begitu istilah mereka. Kepala Sekolah menolak, karena tiga kali mengeluarkan surat untuk anak yang sama memberi kesan bahwa sekolah tidak dapat mendidik. Namun Wali Murid mendesak.

"Ibu sih enak punya gaji. Kami ini gak makan bu, kalau gak ngamen. Saya saja baru keluar, kemarin dikandangin, disangka perempuan gak bener," tegas si Wali Murid yang datang dengan daster kumalnya.

Kepala Sekolah akhirnya mengeluakan surat agar si anak bebas. Dengan catatan, anak tersebut harus mencari sekolah baru.

Selang 2 bulan, terjadi pergantian Kepala Sekolah. Dengan frustrasi, Ibu Guru dihadapku berkata: "Kembali lagi dia ke sekolah ini! Kepala Sekolah baru memang tidak tahu kelakuan anak itu. Tetapi seminggu kemudian, sudah tidak sekolah lagi dia itu. Dikandangin lagi. Buat saya ngamen tidak apa-apa kalau emang untuk makan, tapi harusnya ngamen itu saat tidak sekolah. Jangan sampai seminggu tidak sekolah buat ngamen saja!" nadanya mulai geram.

Ah, Ibu berlipstik merah menyala dengan sisa bedak yang tak teratur ini memang bukan guru teladan, mungkin juga tidak memiliki kualifikasi dedikasi seperti yang diceritakan dalam penganugerahan piala yang disorot lampu kilat. Namun, siapa yang  bisa berdedikasi lebih dari dia? Aku mungkin tidak akan bertahan lebih dari satu bulan menghadapi anak-anak yang dalam undang-undang disebutkan seharusnya dipelihara oleh negara ini.

Comments

  1. gemes bacanya ya, pengen ngapain gitu.. #apaan sih?

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual