Soal kebohongan dan sekadar tidak-menceritakan-seluruh-detail

Rasanya seperti menemukan buah durian yang menyesak di antara rerimbunan apel. Pohon apel tidak akan sanggup menahan berat durian. Namun durian itu ada di sana, bergelayut pada ranting apel yang kurus.

Aku tahu masalah ini adalah soal bahwa aku menganggap kau berbohong, saat kau yakin ini bukan kebohongan melainkan sekadar tidak menceritakan keseluruhan detail.

Aku melihat kebohongan karena kau tidak menceritakan soal ini pada titik awal. Kau mengaku khawatir aku akan marah kalau kau ceritakan, dan kau belum menemukan waktu yang tepat untuk menceritakan.

Pada akhirnya memang kau ceritakan, tetapi aku sudah terlanjur mengetahui sendiri, atau aku sudah sampai pada titik menjadi murung karena intuisiku mengatakan ada yang tidak pada tempatnya.

Tentu kau merasa tidak ada kebohongan karena pada akhirnya kau mengatakannya. Ya, pada akhirnya. Pada akhirnya.

Bercerita memang bukan prioritas utamamu. Apapun soalnya. Ketidaksukaan pada sikapku, atau ketidaksukaan pada hal yang kita jalani, kau juga tidak pernah mengatakannya. Hingga suatu masalah meledak, lalu kau tidak fokus pada masalah itu. Kau akan berlari ke masa lalu. Membawa lebih banyak koper untuk dibongkar.

Ah, patah hati pertamaku di Jakarta.

Kau tahu, ini bukan soal kau ke gereja atau makan malam bersama orang lain, saat kau selalu menampik ajakanku menemanimu ke gereja 2 tahun belakangan ini. Ini bukan soal itu. Tentu saja kau boleh pergi dengan siapapun tanpa aku harus marah. Bukankah kau juga melakukan itu sebelumnya? Namun persoalan kau-tidak-berbohong-hanya-saja-tidak-bercerita-dengan-detail ini sangat menyakitkan buatku.

Mungkin aku egois. Karena aku percaya hal paling penting dalam hubungan adalah kejujuran dan kepercayaan. Yang satu tidak dapat berdiri tanpa lainnya. Bagaimana aku bisa percaya jika kau tidak bercerita dengan detail, padahal aku selalu melakukan semacam itu?

Lalu kau mulai menyerangku dengan koper-koper yang kau angkut dari masa lalu. Ah, aku yang sudah 2 tahun bersamamu, ternyata tak sebanding dengan perempuan 2 minggu ini. Perempuan yang menurutmu baru kau akrabi 2 minggu belakangan. Aku percaya pada ucapanmu, sebab itu aku makin tidak habis pikir. Karena baru 2 minggu, lalu kau memutuskan membiarkanku menangis semalaman.

Terakhir, menurutmu aku merusak jaring pertemananmu. Ah, aku selalu tidak punya teman, dan selalu dituduh. Tidak masalah bagiku. Namun benarkah masalah aku-tidak-berbohong-hanya-saja-tidak-bercerita-dengan-detail ini sekadar soal jaring pertemanan?

Lalu yang kau khawatirkan adalah lini masamu, dan ketakutan kehilangan jejaring pertemanan. Ketakutan akan anggapan orang soal dirimu. Ah, ternyata hubungan ini memang tak penting lagi buatmu.

Mataku masih sembab. Kutiduri juga kasurku tadi malam. Jam 4 mungkin saat aku terakhir memandang langing-langit. Lalu jam 7 saat aku mulai merangkak ke kamar mandi. Kumuntahkan juga rasa tercekat di kerongkongan. Kumuntahkan lagi air mata di antaranya.

Kau tiba-tiba merasa bermasalah pada cerita-ceritaku, pada perjalananku dengan laki-laki lain yang aku ceritakan gamblang padamu. Namun semua itu terjadi beberapa bulan lalu. Dan kau tidak pernah mengatakan hal yang seperti itu, bahwa kau sakit hati pada ceritaku. Mengapa koper-koper masa lalu itu baru kau buka sekarang? Kalau kau tidak suka, mengapa tidak kau bongkar pada saat kejadian.

Lagi pula, apa yang bisa aku lakukan? Berulang aku ingin berada dalam hubungan, berulang kau katakan kita tidak perlu pelabelan, dan kau tidak akan ke mana-mana. “Punya hubungan atau tidak itu hanya pelabelan, toh kita sudah seperti orang pacaran meski tidak dilabeli demikian,” tegasmu.

Maka aku lakukan juga seperti maumu. Tak pernah kusebut kau pasanganku, meski semua orang bertanya. Kukenalkan juga kau pada temanku. Aku tahu kita tidak akan ke mana-mana, lalu aku berharap kau akan lebih cerah. Tentu aku tidak marah, tidak ada yang ditutupi saat itu. Ternyata ada hal lain yang bukan-kebohongan-hanya-saja-kau-tidak-bercerita-detail. Mungkin aku saja yang bodoh. Toh durian juga yang kudapat dari pohon apel.

Ah, aku tahu, ini cuma soal KTP kita yang menerakan agama berbeda. Lalu kau tidak tahu mau ke mana. Kau juga tidak tegas mau bagaimana saat kau temukan perempuan ber-KTP sama. Lalu kau akan marah dan mengatakan ini semua asumsiku. Bagaimana caranya agar aku tidak berasumsi sementara kau juga tidak mau berbicara baik? Aku tahu tidak ada hubungan, atau belum ada hubungan di antara kalian. Tentu saja pilihan belum ada semakin menguat karena sikap aku tidak-bohong-hanya-saja-tidak-bercerita-detail-mu itu.

Dengan sikapmu, aku tahu kau tidak mau ke mana-mana bersamaku. Namun aku pikir, hal seperti itu seharusnya diutarakan saja. Kau bisa memulai hubungan lain dengan menyelesaikan hubungan tak jelas ini, secara baik.

Sayangnya yang kudapat adalah anggapan bahwa aku manipulatif, penuh drama, dan mengarang cerita negatif sehingga pantas kalau kau sebegitu marahnya. Marahlah, maka aku tahu harus bagaimana. Karena apel tidak akan pernah berbuah durian.

Comments

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual