memilih

Saat SMU cita-cita saya hanya dua, menjadi wartawan, dan bekerja di LSM yang bergerak di isu perempuan, kesehatan reproduksi, LGBTIQ, ataupun lingkungan. Ayah menganggap semua itu omong kosong siswa SMU.

Dulu, ayah meminta saya berkuliah di fakultas hukum. Saat itu saya tidak ada gambaran, bahkan tidak tahu ingin berkuliah di mana, satu hal saya tahu adalah saya tidak ingin di fakultas hukum.

Keadaan bertambah pelik ketika sekolah mengajukan formulir PMDK. Sesuai arahan ayah, saya tulis juga hukum di kolom-kolom formulir PMDK. Diterima juga saya di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret. Sekolah juga mendesak untuk berkuliah di sana. Katanya, kalau ada siswa yang diterima tetapi menampik, maka sekolah akan masuk daftar hitam.

Saya teguh pendirian. Waktu itu kesombongan saya meyakini saya bisa diterima di perguruan tinggi seperti UI atau UGM. Bukan berarti menjadi mahasiswa UNS tidak lebih baik, tapi semua siswa SMU pasti mengalami masa cuci otak yang sama. Universitas-universitas dan jurusan-jurusan terbaik adalah yang telah melewati grade tertentu. Iya, saya telah tercuci otak.

Saat itu ayah bersikeras agar saya berkuliah saja di Universitas Sriwijaya, Fakultas Hukum. Entah malang entah untung, diterima juga saya di universitas tersebut. Bahkan beliau mengiming-imingi mobil baru untuk moda transportasi saya selama berkuliah, dengan catatan, berkuliah di Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya.

Persis seperti ayah, saya sangat keras kepala. Saya abai atas semua himbauan ayah dan sekolah. Syukurlah keyakinan atas pilihan-pilihan saya membawa pada hal-hal yang selama ini saya tuju. Berkuliah juga saya di UGM. Lulus juga saya dari universitas tua itu. Sempat juga saya berkegiatan di PKBI, LSM yang bergerak mengenai kesetaraan gender, LGBTIQ dan kesehatan reproduksi. Bergabung juga saya dengan Greenpeace dan mempelajari isu lingkungan. Sekarang, jadi wartawan juga saya.

Bahagia?
Tentu saja, ini mimpi masa SMU saya. Saya tidak terbayang kalau harus berkuliah di tempat yang tidak saya yakini saya ingin berada, apalagi kalau sampai harus menjalani profesi yang tidak saya yakini bisa saya lalui.

Beberapa hari yang lalu, Grha Sabha Pramana kembali dipenuhi toga hitam, entah untuk keberapa ribu kalinya. Ah, selamat teman-teman. Berpegangteguhlah pada keyakinan. Yakin bahwa kita bisa memegang teguh dan mempertahankan apa-apa yang sudah kita pilih, tanpa penyesalan.

Comments

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual