I'm a happy psycho!

Beberapa hari yang lalu saya mengeruhkan keadaan dengan mengirim pesan singkat kepada seorang yang tak ingin dan tak terbayang mendapat pesan singkat dari saya. Pesan singkat saya tidak berisi ancaman, bahkan isinya adalah permintaan maaf. Namun si penerima agaknya ketakutan karena mengira saya seperti psikopat dalam film-film Amerika.

Saya bukan penggemar thriller. 1000 kali lebih baik bagi saya menonton tree of life atau stolen summer. Saya tidak agamis, tapi film-film relijius selalu menyenangkan. Oya, kembali ke psikopat a la film Amerika, saya pernah menonton secret window--sampai mati saya penggemar Johnny Depp.

Tentu mengkhawatirkan jika menerima pesan singkat dari tokoh seperti Mort Rainey yang dalam secret window digambarkan sebagai seorang penulis yang baru saja bercerai, berhalusinasi mengenai orang-orang sembari melakukan pembunuhan. Saya akan khawatir sampai terkencing-kencing.

Masalah psycho ini sebenarnya sederhana, dalam keadaan yang tidak menyenangkan seseorang akan mencari jalan pintas untuk keluar. Maka keluar juga penjelasan bahwa saya adalah seorang psikopat, sebaiknya tidak diladeni.

Saya marah?
Tidak, saya tertawa sampai tulang pipi saya sakit. Ini menggelikan. Pertama kalinya saya dituduh psikopat, oleh pasangan pula. Cuma karena dia enggan menjelaskan, enggan berbicara detil.

Saya sering lupa mencoba sepatu orang lain. My feet won't fit with anyone else's shoes. But I'll never know till I have tried.

Bagi saya yang suka bercerita, malas menjelaskan adalah hal yang tidak mungkin. Saya akan menjelaskan sedetil mungkin sampai saya yakin orang di hadap saya mengerti maksud ucapan saya hingga titik-koma. Namun bagi orang lain, merangkai kalimat di kepala, lalu mengartikulasikan lewat udara yang keluar dengan bentuk tertentu melalui celah lidah, dan geligi bukanlah hal yang mudah.

Maka mengatakan "dia psycho" diharapkan dapat menjadi jalan keluar termudah.

Ah, kasihan betul. Pikir saya malam tadi. Mengapa berbicara menjadi hal yang begitu sulit.

Saya lupa mencoba sepatunya.

Tidak semua orang bisa bicara tiga kalimat dalam sekali pikir seperti saya. Banyak orang yang jauh lebih bijak, berpikir tiga kali untuk setiap kata yang akan keluar. Kata gandhi, if you can't speak good words, remain silent (kutip bebas).

Namun, masalah juga semakin rumit akibat kegiatan mencari jalan pintas dan malas menjelaskan ini.

Tanpa bertanya, saya dinilai tidak menyukai keadaan tertentu sehingga beberapa hal dinilai tidak perlu diceritakan. Keadaan-keadaan ini membuat saya banyak berasumsi yang tak kunjung diberi penjelasan, dan berakhir dengan kiriman pesan singkat. Padahal saya juga tidak akan mengirim pesan singkat jika tidak terpancing pada kata psycho yang terpaku di kedua mata saya.

Saya pikir, jika dia kira saya psycho, ayo kita lakukan saja.

Saya tak pernah menyesali apa-apa yang telah terjadi, juga yang telah saya lakukan. Masih ada hidup di depan yang harus dipikirkan. Membuang energi jika harus menyesali juga yang sudah lewat. Kata pepatah yang ada di sampul cokelat buku tulis saya saat SD: belajarlah dari masa lalu. Pepatah itu mengatakan belajarlah, bukan menyesallah. Maka saya belajar.

Tidak ada jalan pintas dalam hidup ini.
Saya tidak akan bisa menyamai level Ashadi Siregar dalam waktu 24 tahun saja. Semua perlu langkah, pijakan yang tidak boleh kita loncati. Seperti orang obsesif kompulsif, setiap batu yang ada harus diinjak dengan persisten dan tidak boleh terlewat, maka kau akan hebat.

Cara-cara mencari jalan pintas mungkin kurang baik. Akan tetapi, saat mencoba sepatu orang lain, mungkin kita akan tahu alasan yang paling mungkin untuk melakukan itu, meski dirasakan dengan hati yang berbeda.

Ah, saya terlalu lama memakai sepatu sendiri dan berdiri di kursi yang sama. Saya lupa mencoba sepatu lain, lupa berdiri di kursi yang lain untuk melihat melalui sudut lain, bahkan juga lupa kalau kursi sebenarnya bisa digunakan untuk duduk sambil melihat langit-langit dari jarak yang lebh jauh.

Saya mungkin dianggap psycho karena telah membuat dunia lelah melihat tingkah saya. Saya seperti seorang psikopat yang sering kali hanya melihat biru dan merah, lupa kalau keduanya menjelma ungu saat bersatu. Psikopat yang hanya melihat air bening tanpa melihat bias mejikuhibiniu saat dia tertimpa cahaya.

Kita semua mungkin pernah bertindak menjurus psycho tanpa kita sadari. Satu hal, entah psycho, OCD, atau apapun jurusan gangguan kejiwaan yang dituduhkan pada kita, tersenyum dan mencoba sepatu serta kursi-kursi lain akan membuat kita melihat lebih banyak kebahagiaan.

Silahkan kembali kapanpun pada jurusan gangguan jiwa favorit kita, tapi jangan lupa luangkan waktu intens untuk melihat lebih banyak kebahagiaan.

Sayangnya, hidup memang tidak semudah bacot suci Mario Teguh, apalagi bacot keji saya.





Hey kamu, kucoba juga sepatumu, kunaiki kursi lain, bahkan meja. Sayangnya, mungkin cinta juga memiliki masa berlaku, dan sekarang ia hampir kadaluarsa.

Comments

  1. SUKA INI : "Sayangnya, hidup memang tidak semudah bacot suci Mario Teguh"

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual