Dokter kencing berdiri, pasien kencing berlari


Terakhir saya mengecek status HIV sekitar 3 tahun lalu. Tiga kali saya melakukan tes HIV gratis di sebuah klinik yang digawangi oleh lembaga swadaya masyarakat tempat saya bekerja.

Karena sudah lama tidak mengecek status HIV terbaru, pada tahun lalu saya berinisiatif untuk kembali mengecek. Kali ini saya mendatangi sebuah rumah sakit militer di bilangan Jakarta Pusat. Saya katakan kepada petugas di sana, saya ingin melakukan VCT (Voluntary Counseling and Test). VCT sebenarnya tidak melulu untuk mengetahui status HIV, tetapi seringkali digunakan untuk merujuk pada tes HIV.

Suster tampak kebingungan.Wah, saya jadi canggung, suster ini bukankah seharusnya lebih mengerti istilah medis dari pada saya? Maka saya ulangi permintaan tersebut, kali ini saya katakan ingin tes HIV, alih-alih memberi formulir pendaftaran, suster malah serta merta memanggil dokter.

Kembali saya katakan pada dokter bahwa saya ingin VCT. Tak disangka dokter malah balik bertanya: untuk apa? Loh, saya terdiam beberapa detik. Ini pertanyaan aneh yang belum pernah saya temui dalam 3 kali VCT. Untuk apa? Ya untuk mengetahui statsu HIV saya dok, gimana sih?

Dokter kembali bertanya, mengapa saya ingin mengetahui status saya, apakah saya sudah pernah berhubungan seksual, apakah saya pengguna narkoba suntik?

Saya mengernyitkan dahi, dan pada akhirnya menjawab: Dok, bukankah pertanyaan itu seharusnya ditanyakan pada saat konseling alih-alih pada saat pendaftaran pasien? Kalaupun saya belum pernah berhubungan seksual dan tidak menggunakan narkoba suntik, tetapi seorang suster teledor menggunakan jarum suntik bekas yang ternyata tercemar HIV pada saat saya donor darah, bukankah saya juga bisa terinfeksi?

Pada akhirnya saya memang tidak melakukan VCT di rumah sakit militer tersebut. Bukan karena mereka tidak menyediakan layanan VCT, tetapi karena saya tidak ingin ditangani oleh oknum yang bahkan tidak mengerti proses penularan HIV itu sendiri.

Saya memang belum juga khatam dalam isu HIV dan AIDS. Namun tak perlu khatam untuk memahami bahwa perlakuan dokter tersebut tidak benar.

Saya jadi teringat saat terakhir melakukan VCT di lembaga swadaya masyarakat tempat saya bekerja.

Kala itu saya melakukan tes untuk menemani seorang teman yang sangat khawatir soal statusnya. Dia begitu ketakutan sampai tidak berani melakukan tes sendirian. Saya tak mengerti bagaimana jadinya kalau teman saya itu datang ke rumah sakit militer yang saya datangi.

Sebelum sesi konseling, saya masih bersama teman mendengarkan penjelasan mengenai HIV dan AIDS. Termasuk apa saja yang mungkin terjadi jika tes darah menunjukan positif. Teman berkeringat hebat. Ah, kalau saja dia datang ke rumah sakit militer itu, dia pasti sudah pingsan ketakutan.

Seingat saya, pemerintah banyak berkampanye mengenai HIV dan AIDS ini. Setidaknya ada banyak spanduk, iklan, baligo serta program-program yang sering saya lihat di pinggir jalan. Dalam pikir saya, sebelum berkampanye kepada awam, sudah tentu kampanye kapada para profesional lebih dahulu dilaksanakan. Bukan begitu?

Baligo-baligo kampanye di sudut-sudut Jakarta kebanyakan menunjukan cara pencegahan dan penularan. Namun, bagi saya percuma saja pemerintah menggelontorkan dana kampanye untuk isu HIV dan AIDS apabila dalam kenyataannya rumah sakit sendiri tidak bisa memberi layanan dengan baik.

Seperti halnya kampanye KB, pemerintah terlalu fokus pada kampanye pencegahan dan melupakan cara-cara mitigasi apabila sudah terjadi hal yang tidak direncanakan. Dalam kasus KB, tak ada pembahasan mengenai kegagalan KB seperti terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan.

Kembali mengenai soal HIV dan AIDS, tak ada kampanye komprehensif mengenai apa yang terjadi apabila terinfeksi HIV. Pemerintah hanya mengatakan kita akan mati perlahan. Tanpa ada kampanye anjuran untuk melakukan tes HIV.

Tak banyak orang merasa perlu mengetahui status HIV-nya. Masih ada anggapan bahwa AIDS adalah penyakit kutukan. Kelompok pengguna narkoba suntik dan pekerja seks sering kali dianggap kelompok yang paling berisiko, padahal tak sekali dua saya bertemu penderita seorang ibu rumah tangga yang dinilai baik-baikd alam kerangka masayarakat Indonesia.

Isu HIV dan AIDS selalu saja dikaitkan dengan persoalan moral. Padahal moral dan segala turunan mitosnya menjadi persoalan tersendiri bagi pemberantasan HIV dan AIDS.

Moral membuat orang ragu mencari info yang benar mengenai HIV dan AIDS, bahkan moral membuat seseorang sulit mendapatkan info yang benar mengenai HIV dan AIDS. Moral membuat orang ragu mengetahui statusnya yang dalam keadaan terburuk justru dapat membuat virus itu makin tersebar.

Beberapa bulan lalu saya menyarankan seorang teman untuk mengecek status HIV-nya lantaran dia bercerita pernah berhubungan seksual tanpa menggunakan kondom. Mungkin penyampaian saya yang kurang baik, teman saya tersebut menganggap saya berlebihan. Dia bersikeras bahwa dia baru sekali berhubungan seksual. Loh, terus kenapa kalau baru sekali?

Ah, itu dia si mitos. Mau sampai kapan terperangkap di dalamnya?

Memang tidak ada jalan pintas, maka kita harus bicara, bersikap dan berperilaku tepat. Semakin banyak dibicarakan, setidaknya tabu semakin tersingkap dan tak ada lagu ragu mengakses informasi yang tepat.

Karena tak ada yang imun dari HIV, meski baru sekali atau belum sama sekali.

Comments

  1. Hai rika nova..
    Sy baca blog km yg ttg aid..
    Dikalimat terakhir sy tersentuh.
    Sy pernah sekali melakukan hub sex dan tanpa kondom
    Sampai skrg sy parno,dan butuh support.
    Dan sy ingin test vct seperti km.
    Klo km bersedia bantu saya,tolong bagi sharing pengalaman km soal vct

    Bisa hub sy di 0813 10552102
    Terimakasih rikanova

    ReplyDelete
    Replies
    1. sebelumnya, lokasi saat ini di mana? apakah di Jakarta? Kalau di Jakarta mungkin bisa menghubungi lembaga-lembaga ini:

      PKBI DKI: : (021) 8520371, Klinik (021) 8566535
      Yayasan Layak: (021) 7774735
      Yayasan Kapeta: (021) 73884823
      Yayasan Hidup Positif: (021) 91214792

      Delete
  2. Hai.
    Saya juga punya pengalaman seperti temanmu yg melakukan sex tanpa kondom.
    Saya baru sekali melakukan seperti itu dan rasanya menyesal sekali.
    Dan skrg sy sedang depresi.
    Sy ingin test.
    Klo tidak keberatan boleh kita sharing?

    Rika bs hub sy di 081310552102

    ReplyDelete
    Replies
    1. sebelumnya, lokasi saat ini di mana? apakah di Jakarta? Kalau di Jakarta mungkin bisa menghubungi lembaga-lembaga ini:

      PKBI DKI: : (021) 8520371, Klinik (021) 8566535
      Yayasan Layak: (021) 7774735
      Yayasan Kapeta: (021) 73884823
      Yayasan Hidup Positif: (021) 91214792

      Delete
  3. Hai Maxie dan Anonim, sebelumnya, lokasi saat ini di mana? apakah di Jakarta? Kalau di Jakarta mungkin bisa menghubungi lembaga-lembaga ini:

    PKBI DKI: : (021) 8520371, Klinik (021) 8566535
    Yayasan Layak: (021) 7774735
    Yayasan Kapeta: (021) 73884823
    Yayasan Hidup Positif: (021) 91214792

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Karena usia cuma deretan angka-angka!

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual