dan akhirnya saya memutuskan menyerah

"Makanya jangan kasih tahu rika kalau perginya sama aku. Bilang aja sama teman kantor."

Terus terang saya tidak bisa mengerti logika kalimat tersebut. Saya tidak mengerti logika perempuan ini. Mengapa pasangan saya (kala itu) tidak boleh memberi tahu saya dengan siapa dia pergi? Mengapa dia menyarankan hal demikian pada pasangan saya?

Kalau hal itu dilakukan untuk menjaga perasaan, jujur saya tidak mengerti. Lie won't save anybody's heart. Lie just make things complicated.

Saya bukan perempuan pencemburu. Pasangan sudah cukup dewasa untuk memutuskan akan pergi makan atau ke gereja dengan siapa. Kami punya dunia masing-masing dan tidak perlu selalu saling menemani.

Hubungan tentu tidak akan mengubah pertemanan yang sudah ada. Namun kebohongan adalah hal yang tidak tertoleransi.

Setiap pasangan pasti akan mendapat firasat saat pasangannya menyimpan sesuatu. Saat pasangan menyimpan sesuatu, tentu saya menjadi murung karena firasat memberi sinyal ada yang tidak beres, entah apa itu. Saya percaya momen tidak ditunggu, tapi diciptakan. Maka saya menghargai ketika pasangan bercerita, meski sekaligus kesal karena saya menjadi yang terakhir tahu, rencana itu disimpan dari saya. Tidak juga berbohong, hanya bercerita parsial.

Ya sudahlah, yang penting sudah diceritakan.

Namun kemudian saya mendengar kalimat di luar logika saya itu. Mengapa perempuan ini begitu takut saya mengetahui bahwa mereka akan ke gereja bersama? Masalahnya apa kalau ke gereja bersama?

Saya pikir sama-sama sudah dewasa. Tidak ada alasan menutupi kejadian apalagi menyuruh berbohong untuk menjaga perasaan. Katanya sudah dewasa.

Tidakkah perempuan ini punya empati? Tidakkah dia merasa saran membohongi pasangan adalah sangat tidak sopan?

Jelas saya tidak paham. Apa masalahnya pergi ke gereja bersama-sama sampai-sampai pasangan sebaiknya tidak memberi tahu saya? Saya rasa tidak ada masalah dengan siapapun pasangan pergi.

Saran itu tentu menyakitkan untuk saya. (1) Seolah saya punya masalah terhadap perempuan itu. (2) Seolah saya tidak toleran. (3) Seolah ada sesuatu di antara mereka. Ah, terlalu banyak seolah, terlalu banyak asumsi.

Sudahlah. Saya sudah menyerah pada hubungan ini. Karena saya tidak percaya things are better left unspoken. Buat saya, semua hal harus apa adanya.

Comments

  1. cup.. cup.. sabar ya, nak..
    btw, itu kenapa blog saya masih yang jadul, udah pindahan nih ke galinkholic.blogspot.com

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual