Soal ayah dan masalah-masalah

Saat ayah masih ada, tidak pernah ada masalah yang cukup besar. Mungkin masalah-masalah itu takut pada ayah atau mungkin ayah membuatnya menjadi kecil. Sebagai anak ayah, seharusnya aku memiliki sikap tersebut.

Sayangnya tidak. Atau mungkin belum. Masalah-masalah sepele sering kali tampak menggelembung dan membuat raut wajah yang masam. Tak sedap dipandang. Reaksi berlebihan tidak hanya terjadi sekali-dua.

Ayah, harusnya kau jangan mati dulu, setidaknya sampai aku tahu bagaimana menghidupi hidup. Rapalku semalaman sembari jemari kanan terus merusak kutikula telunjuk kiri. Setidaknya kegiatan ini menunjukan ada yang diturunkan ayah kepadaku, meski bukan kegiatan yang baik.

Adikku yang satu ini, tengah berjuang untuk lulus dari sekolah ketiganya. Kita memang hanya punya 3 tahun masa bersekolah di SMA. Maka adikku ini menggenapinya menjadi 3 sekolah pula. Tentu kepindahan bukan karena alasan yang cukup baik.

Aku terus meratap. Jika ayah ada, tentu ini bukan tanggung jawabku. Namun tanggung jawab bukanlah pilihan mana-suka, sebab itu dia bernama tanggung jawab. Sesuatu yang tak terhindarkan. Dan keluarga bukanlah pilihan. Namun diam-diam aku bersyukur pada kenyataan bahwa tak ada pilihan.

Tak ada yang perlu disalahkan, bukan Ayah, bukan Ibu, bahkan juga bukan adikku itu. Meski Ibu terus-terusan mengutuk diri, merasa dialah yang menyebabkan segala kenakalan remaja di luar batas yang dilakukan adikku.

Ibu selalu merasa adikku yang satu itu kurang mendapat perhatian karena Ibu memiliki 2 bayi saat adikku masih terlalu kecil. Sementara ayah hanya bisa berkirim dana. Lalu aku, yang masih SMA, merasa tak ada yang lebih penting dari hidup kecuali diriku sendiri.

Aku egois, tak tahu diri. Aku marah pada ibu, berulang kukatakan tak ada gunanya menyalahkan diri. Masa lalu cuma spion, hanya perlu ditengok sesekali. Jalanan di depan tentu harus lebih sering ditatap dan dilalui. Berlama terpaku pada spion membuat kita tidak fokus pada jalanan dan dapat terjadi kecelakaan.

Aku merasa itu adalah ucapan yang benar. Sayang cara mengucapkannya mungkin tak benar. Alih-alih menyelesaikan masalah, justru bertambah 1 masalah: membuat Ibu sedih.


Terkadang rumit jadi anak pertama.

Ibu yang menua, adik-adik kecil yang beranjak dewasa, biaya sekolah yang luar biasa.

Laman-laman web masih menampilkan harga satu kampus dan lainnya. Harganya berlipat-lipat jika dibandingkan saat aku memasuki salah satunya.

Aku ingat betul, saat itu ayah tak mau aku berkuliah di situ. Tak ada biaya katanya.

Aku sering mendengar celetuk pedas tentang Jaksa. Main kasus, banyak uang, basah, jual-beli pasal. Aku yakin ayahku tidak. Kalau iya, mengapa ayah harus berutang di bank saat aku akan berkuliah?

Ah ayah, kau begitu setia pada pekerjaanmu. Bahkan akupun kau marahi saat kubilang tak mau jadi PNS. Menurutmu itu menghina. Padahal aku tak akan marah apabila ada yang mengatakan tak ingin jadi wartawan. Bahkan aku tak marah padamu saat kau katakan pekerjaanku adalah sebuah kemunduran.

"Wah, masa ayahnya jaksa, anaknya wartawan. Kemunduran dong itu!" ujarmu saat itu.


Ah ayah. Aku iri. 

Iri pada diriku sendiri. Aku masih punya ayah dan masih punya kakek sampai umurku dua-puluhan. Sayang adik-adik cuma bisa mengenangmu sampai mereka kelas 3 SD saja. Lalu anak-anak kami, tak akan pernah bisa mengenalmu.

Aku tahu kematianmu adalah kado terbaik darimu. Jika kau tak meninggalkan kami secepat itu, maka aku tak pernah belajar mengecilkan masalah. Masalah tak akan pernah takut padaku, melainkan hanya padamu. Dan aku akan selalu bergantung padamu. Aku tak akan mencari pekerjaan sendiri karena teman-temanmu terus menawari perusahaan mereka masing-masing.

Aku tahu aku tidak menjadi seperti yang kau inginkan. Namun aku yakin kau pasti bangga, bahwa masalah-masalah datang satu persatu ke hadapku langsung, tanpa dirimu sebagai tameng. Bahwa masalah-masalah juga yang membuatku semakin mirip denganmu: keras kepala dan galak. Akan tetapi masalah-masalah juga yang menegaskan kalau aku ini anakmu, yang tak akan menyerah pada masalah sebesar gunung sekalipun.

Comments

  1. Suatu keberuntungan menjadi anak kedua seperti saya ya mbak Rika

    ReplyDelete
  2. Juga keberuntungan menjadi anak pertama :D

    ReplyDelete
  3. gw suka bgt tulisan lo yg ini rik :)

    ReplyDelete
  4. gw suka bgt tulisan lo yg ini rik :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Karena usia cuma deretan angka-angka!

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual