Lelaki angin barat

Aku sedang memikirkanmu. Jalan jaksa dan gerombolan pria bermata biru selalu membuatku mengenangmu. Kulit lobak dan rambut pirang yang kontras dengan kulit cokelatku yang terbakar matahari gunung kidul. Daun mint dan air jeruk serta rhum di sisi kolam renang. Denting gitar yang diiringi paduan suara katak, dan sentuh jemarimu di indra perabaku. Serta pelangi sehabis hujan yang muncul dibalik jendela ruang kerja kita.

Kenangan yang masai dalam ribuan temali lainnya, jemari yang berbeda dan gemuruh nafas yang berbeda kusut menjadi satu.

Bayangmu dalam labirinku bergerak masuk ke peluk perempuan di sudut lorong itu. Berganti kata-kata mati rasa soal pria yang datang bersama angin barat, menyeruak saat kulupa mata birumu.

Lelaki angin barat dengan mata yang memelukku seperti ombak memeluk karang. Mengingatkanku pada pepohonan yang nyiurnya menantang laut, menantang langit.

Dia bersumpah aku kan merindunya, terjerat pada kelindan rasa yang hanya untuknya. Lalu aku pun bersumpah, alih-alih terjadi padaku, dia yang akan terperangkap pada rasa yang tumbuh tak terkira.

Aku masih terpana pada imaji lelaki angin barat ini, masih memikirkan perkataannya, bertanya-tanya pada hati, rindukah ini atau sekadar penasaran tak bertepi? Belum juga kutemukan jawabnya saat gelombang suara menembus botol-botol kosong berwarna hijau di hadapku.

"R, mengapa tak kau kirim pesan padanya, katakan kau rindu."

R, sepasang bibir dihadapku memanggilku R. Entah bagaimana awalnya, tapi kini dia memanggilku R. Dia bilang, jika aku ingin segalanya sederhana, harusnya ketika rindu datang tiba-tiba, katakan saja padanya.

"Katakan? Apa yang harus aku katakan? Rindu, begitu? Lalu apa gunanya ia tahu?" tegas-tegas kukatakan usai menghembuskan asap putih yang berputar ke udara.

Tubuh dihadapku hanya mengangkat bahu, menghela nafas.

"Aku menikahi istriku karena aku mencintainya. Kita hidup hanya sekali, lalu kuputuskan untuk pindah agama. Aku rasa masalahmu tidak lebih rumit dari itu," tambahnya saat botol ketiga kami datang.

Aku hanya menghela nafas, kembali memeluk bayang lelaki angin barat, tak menyangka akan serumit ini.

Tentu lelaki angin barat bukan yang pertama dan kemungkinan besar tidak akan menjadi yang terakhir. Namun siapa yang bisa menolak saat rasa yang lebih personal menyeruak masuk. Rasa yang terkadang lembut, lalu tiba-tiba meledak. Ada sensasi yang menyenangkan dari setiap sakitanya setelah bertahun-tahun dengan sangat hati-hati berusaha menghindari segala hal personal.

"Mungkin aku kan tunggu 1 bulan, jika aku masih merasa-rasa maka ini bukan sekadar rasa-rasanya," tegas jawaban bodohku yang membuat sepasang mata dan bibir itu tertawa.

"R, apa lagi yang harus kau cari tahu? Kau jatuh cinta!"

Tentu, tentu jatuh cinta, tapi aku percaya ketika seorang teman dengan berapi-api mengatakan cinta itu soal hormon, dan hormon akan terus direproduksi.

Comments

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual