Agama kakak apa?

Jakarta panas luar biasa. Jakarta memang panas, tetapi hari ini lebih dari biasanya. Gelombang panas bergerak seperti kereta membelah Senen. Membawa bising gemuruh saat bergerak dibelakangku, di belakang rumah Yani lebih tepatnya.

Rumah Yani adalah 2,5 X 2,5 meter yang berjarak sekitar 1 meter saja dari rel kereta. Padahal peraturan PT KAI menyebutkan tidak boleh ada aktivitas dalam jarak 3 meter dari rel kereta.

Rem kereta ekonomi mengernyit bising saat berhenti tepat di hadapku, di depan batang hidungku saat aku membahas rapot Yani. Pengalaman luar biasa, berada kurang dari 1 meter dengan kereta bergerak yang tiba-tiba berhenti hingga memberi kesempatan bagi penumpangnya untuk memperhatikan kami.

Hari ini Yani mendapatkan rapot. Tidak mendapat ranking tak mengapa. Aku sudah gembira jika ia tak bolos sekolah dan mengerjakan tugas-tugas dari gurunya.

Nilai Yani cukup baik, semua di atas 7, kecuali 1 mata pelajaran, Pendidikan Agama Islam.

"Kakak agamanya apa sih kak? Yani kok ga pernah tahu ya?" ujarnya sambil mengernyitkan dahi, seperti setiap kali kami membuat tabel matematika.

Ah, agama. Ia ingin aku tak hanya mengajarinya matematika atau bahasa, dia ingin aku mengajar pelajaran agama. Agama, apa yang bisa kuajarkan soal agama?

Yani masih menunggu jawaban dan aku masih berfikir jawaban apa yang bisa kuberi.

"Yani, kakak bisa ajarkan cara membaca Al-Quran atau mengajarkan tarikh Islam, tetapi kakak tidak bisa mengajarkan agama," ingin aku ucapkan kalimat ini. Namun kedengarannya rumit dan membutuhkan penjelasan panjang.

"Kakak Islam kan?" tegas Yani masih penasaran, sedang aku masih membolak-balik halaman buku Bahasa Inggrisnya.

Saat kututup buku itu, Yani masih meneruskan kalimatnya "Yani ga bisa ngerti hurufnya, gimana Yani bisa ngerjain ulangan."

Ah, sekolah. Kali ini aku membolak-balik soal ulangannya. Bagaimana mungkin Yani bisa mengerjakan ini semua, mengambil arti dari teks-tekspanjang, menangkap makna apa yang diinginkan dari pembuat soal jika dia tak mengerti soal itu sendiri.

Tempo hari, pertama kali aku mengajarkan Bahasa Inggris, Yani bahkan tak tahu bagaimana membaca ABC dalam Bahasa Inggris. Dan guru tak peduli asalkan nilai mereka tetap baik.

"Yani, ini dikerjakan sendiri?"

Malu-malu Yani mengaku, "Sebagian Yani nyontek temen."

Slogan anti korupsi ada di mana-mana, tetapi cikal bakal korupsi tak juga dihilangkan. Guru tak peduli jika muridnya tak mengerti dan hanya peduli pada nilai di rapotnya. Aku tak menyalahkan guru, mengajar satu saja sudah sulit, apalagi puluhan dalam satu kelas. Namun bukankah itu pekerjaan mereka yang begitu mulia?

"Kak, besok Yani bawa buku agama juga ya?" desaknya tak mempedulikan aku yang menyuruhnya menghapal beberapa kata.

Baiklah, kuputuskan, apa susahnya mengajar agama? Sebagai literatur, alat untuk menyelesaikan sekolahnya.

Comments

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual