Posts

Showing posts from December, 2011

luka

Nafas ayah subuh itu, mungkin satu-satu, tipis-tipis. Tak pernah ku tahu. Aku hanya bisa memandang wajahnya saat sudah kaku, tak ada lagi nafas meski cuma satu-satu.

Aku tak pernah dekat dengan ayah, tapi setiap kematian pasti membawa luka. Luka yang tak pernah bisa diabaikan, betapapun berusaha. Seperti sakitku hari ini.

Aku bangun dengan tenggorokan tercekat, dan nafas yang tertahan, kulit panas dan kepala berat. Aku benci tubuhku. Tubuh pinjaman ini, sedikit menyusahkan. Sebentar-sebentar tak bisa dipakai, sebentar-sebentar menghabiskan uang. Jika sudah begitu, aku pasti teringat ayah. Nafasnya yang satu-satu dengan detak yang diraba layar dan suara.

Setiap kesakitan, membuatku mengenang ayah. Seperti hari ini, saat aku mengenangmu, meraba-raba bahagia, yang tak ada.

Agama kakak apa?

Jakarta panas luar biasa. Jakarta memang panas, tetapi hari ini lebih dari biasanya. Gelombang panas bergerak seperti kereta membelah Senen. Membawa bising gemuruh saat bergerak dibelakangku, di belakang rumah Yani lebih tepatnya.

Rumah Yani adalah 2,5 X 2,5 meter yang berjarak sekitar 1 meter saja dari rel kereta. Padahal peraturan PT KAI menyebutkan tidak boleh ada aktivitas dalam jarak 3 meter dari rel kereta.

Rem kereta ekonomi mengernyit bising saat berhenti tepat di hadapku, di depan batang hidungku saat aku membahas rapot Yani. Pengalaman luar biasa, berada kurang dari 1 meter dengan kereta bergerak yang tiba-tiba berhenti hingga memberi kesempatan bagi penumpangnya untuk memperhatikan kami.

Hari ini Yani mendapatkan rapot. Tidak mendapat ranking tak mengapa. Aku sudah gembira jika ia tak bolos sekolah dan mengerjakan tugas-tugas dari gurunya.

Nilai Yani cukup baik, semua di atas 7, kecuali 1 mata pelajaran, Pendidikan Agama Islam.

"Kakak agamanya apa sih kak? Yani kok ga …

Lelaki angin barat

Aku sedang memikirkanmu. Jalan jaksa dan gerombolan pria bermata biru selalu membuatku mengenangmu. Kulit lobak dan rambut pirang yang kontras dengan kulit cokelatku yang terbakar matahari gunung kidul. Daun mint dan air jeruk serta rhum di sisi kolam renang. Denting gitar yang diiringi paduan suara katak, dan sentuh jemarimu di indra perabaku. Serta pelangi sehabis hujan yang muncul dibalik jendela ruang kerja kita.

Kenangan yang masai dalam ribuan temali lainnya, jemari yang berbeda dan gemuruh nafas yang berbeda kusut menjadi satu.

Bayangmu dalam labirinku bergerak masuk ke peluk perempuan di sudut lorong itu. Berganti kata-kata mati rasa soal pria yang datang bersama angin barat, menyeruak saat kulupa mata birumu.

Lelaki angin barat dengan mata yang memelukku seperti ombak memeluk karang. Mengingatkanku pada pepohonan yang nyiurnya menantang laut, menantang langit.

Dia bersumpah aku kan merindunya, terjerat pada kelindan rasa yang hanya untuknya. Lalu aku pun bersumpah, alih-alih …

Hari Kebangkitan Perempuan Hari Ibu (bagian II dari II)

Menyambut hari ibu saya membuat 2 seri "Hari Kebangkitan Perempuan Hari Ibu". Tak ada niat saya menggugat hari ibu. Saya hanya ingin sejarah mengenai perempuan lebih banyak diceritakan, dan diungkapkan dengan gamblang, tanpa reduksi dan distorsi. Meski demikian reduksi dan distorsi memang tak terhindarkan dalam tulisan ini. Terutama karena saya tak berpengalaman dalam dunia tulis-menulis ilmiah kecuali pembuatan essay-essay masa kuliah.

------ klik di sini untuk membaca bagian I --------------------------------------
Paska pemberian ruang 1 hari bagi perempuan dalam kongres PKI, organisasi perempuan mulai merintis kongresnya sendiri.

Dua bulan setelah kongres pemuda dilaksanakan, Ibu Suwardi (Nyi Hajar Dewantara), Ni Suyantin (Pemimpin Puteri Indonesia dan Pamong Taman Siswa) dan Nyonya Sukonto (guru His, anggota Wanito Utomo) memprakarsai pelaksanaan Kongres Perempuan Indonesia pertama di Yogyakarta pada 22-25 Desember 1928.

Putri Indonesia, Wanito Tomo, Wanito Mulyo, Wani…

Hari Kebangkitan Perempuan Hari Ibu (bagian I dari II)

Menyambut hari ibu saya akan membuat seri "Hari Kebangkitan Perempuan Hari Ibu". Tak ada niat memarjinalkan ibu. Saya hanya ingin sejarah mengenai perempuan lebih banyak diceritakan, dan diungkapkan dengan gamblang, tanpa reduksi dan distorsi. Meski demikian reduksi dan distorsi memang tak terhindarkan dalam tulisan ini. Terutama karena saya tak berpengalaman dalam dunia tulis-menulis ilmiah kecuali pembuatan essay-essay masa kuliah.
-------------------------------------- Tak satupun pelajaran sejarah sejak SD hingga SMA menyinggung dengan detail peran perempuan dalam setiap masa pergreakan. Iya, kami diperkenalkan dengan Kartini atau Christina Martha Tiahahu, tetapi tak lebih dari 2 paragraf dalam buku PSPB kala itu. Bandingkan dengan lembaran Pattimura.

Sejarah Indonesia adalah sejarah soal perang, tak banyak yang menyinggung W.R Supratman dan guncangan biolanya. Tak pernah kita tahu bahwa poligami telah menjadi bahasan serius sejak kongres perempuan pertama pada 1928.

Me…

Berhentilah menggenggam jemariku

Jarum jam saling bertindihan di angka 1. Tengah malam. Baiklah, entah satu atau dua, aku sedang tak berkaca mata, dan kepalaku berat, penuh lindapan alkohol semalam. Mungkin bukan alkohol yang membuatnya berat. Itu lindap bayangmu dalam kerangka yang kukira cinta.

Saat jarum bertindihan di angka yang sama, dalam ribuan kilometer lalu, aku masih memelukmu. Tentu tidak dalam kerangka yang kukira cinta. Hanya kebetulan semata, semacam simbiosis mutualisme. Dan itu lebih melegakan.

Aku hanya ingin cinta yang sederhana.
Tanpa strategi, tanpa taktik, tanpa usaha-usaha manipulatif.

Aku hanya ingin mengatakan aku menyukaimu, semudah itu. Aku tak perlu, tak harus, membuatmu jatuh cinta padaku. Aku ingin cinta yang begitu mudah, semudah mengatakan aku suka padamu. Pun tak berbalas, yang penting aku sudah mencobanya. Jika kau tak menyukaiku, aku masih memiliki kesempatan pada 100 juta pria lain di Indonesia, atau sekitar 500 juta pria di dunia.

Mengapa tak semudah itu?

Seorang teman menceramahik…

cerita klasik gembel dan sekolah

Anak-anak ini, tidak mau belajar, sulit diajak belajar. Orang tuanya pun tak ingin mereka belajar. Tak menghasilkan uang, katanya.

Ah... mau jadi apa kau dik?

"Jadi gembel!" jawab mereka dengan lantang.

Orang-orang tua mereka selalu meyakinkan: "Kita ini gembel, ya uda jadi gembel aja. Buat apa sekolah, mendingan sana kamu ngamen, biar dapat uang."

Ini klasik.
Namun tetap berpotensi membuat frustrasi ketika mendengarnya.

Sekalipun uang diberikan cuma-cuma, kebutuhan sekolah dicukupi, setiap minggu aku datangi untuk sekadar mengajarkan "this is an apple", dan memastikan ulangan mereka baik-baik saja. Semangat tak juga menyala.

Mereka lebih butuh suntikan moral dari pada suntikan dana. Namun, moral yang seperti apa? Dari mana mereka bisa belajar?

Televisi di warteg depan rumah kardus mereka menyuguhkan penangkapan politisi berkedung louis vuitton, merek yang tak akan pernah terbayang oleh mereka bahwa satu syal itu cukup untuk mereka mudik 10 kali.

Artis-ar…

menelepon ibu

Biasanya aku jarang menelepon ibu. Namun sejak ayah tidak ada aku jadi sering menelepon ibu. Aku jadi galak kepada ibu. Seolah ibu tidak lebih mengerti dunia ini dari pada aku.

Ibu layaknya pemerintah, dan aku mahasiswa yang tidak bisa membedakan antara kritis dan nyinyir. Ada saja kebijakan ibu yang membuatku marah, lalu meneleponnya dengan nada galak. Padahal, apa yang aku tahu soal dunia ini? Aku baru saja menjadi 24 tahun dan 1 bulan, padahal Ibu sudah hampir setengah abad umurnya.

Aku selalu sok tahu, karena sok merasa lebih banyak baca, dan lebih mengerti perkembangan mutakhir dunia. Sementara perkembangan mutakhir yang ibu tahu “hanyalah” Adik laki-laki ku yang sialan itu mulai menggunakan obat-obatan terlarang.

Aku anak yang tidak berbakti. Aku kesal sekaligus lega berada jauh dari rumah. Aku kesal karena tidak dapat membantu adikku mengerjakan pekerjaan rumah, atau mengajarinya membuat pidato berbahasa inggris. Akan tetapi aku lega karena tidak perlu menghadapi kericuhan ruma…

through kaliurang-kemang and what i found there

you show me how to smoke sisha n how to make mojito.
how to smell the sea, how to sneak to your bed, and how to breath within your skin.
but you never show me how to deal with a bunch sense of lost when i can't reach you anymore.