Kematian yang dihembus angin jantan

Ini adalah tipe pengalaman yang akan membuat seseorang--ketika sudah nenek-nenek, beruban dan tak mampu ke toko eceran dengan kemampuan sendiri untuk sekadar membeli seikat sayur bayam--merasa bahagia pernah menjadi mahasiswa bodoh.

Kali pertama saya menuliskan pengalaman hampir mati, bahkan saya dan Johan Didik, aktor yang hampir mati bersama saya, tak pernah membicarakan kejadian ini. Kala itu kematian hanya berjarak 1 meter dari wajah kami, di antara aspal keras, moncong tronton dan ban-ban yang berlipat besarnya dari kepala manusia.

Sekitar 6 tahun lalu, saya dan seorang taman pegiat Teater Gajah Mada, Johan Didik, berangkat dari gelanggang UGM sekitar pukul 5 sore. Berdua saja, terus menuju ke Timur. Dua orang teman pegiat unit Selam UGM sudah berangkat terlebih dahulu.

Tujuan kami adalah Pantai Lempuyang yang berada di dalam kawasan konservasi alam, Taman Nasional Baluran, Jawa Timur.

saya dan Johan Didik dalam perjalanan pulang
Perjalanan begitu panjang, sepanjang setengah pulau Jawa, dari kumpulan rumah, jembatan, persawahan, hutan, sampailah padang rumput yang mana memberi saya ruang untuk melihat purnama merah saga sebesar rumah. Begitu besar.

Belakangan saya baca dalam sebuah artikel, pada kurun bulan di tahun tersebut satelit itu memang sedang dalam jarak terdekat dengan bumi. Mungkin itu pertama kalinya saya bisa melihat bulan sebesar rumah, begitu terang tanpa halangan.

Makin ke timur, makin sedikit persawahan, diganti pohon-pohon besar di kiri kanan, mobil jeep keluarga berganti truk pengangkut peti kemas, dan motor tak lagi melaju di jalan raya, melainkan diangkut oleh sebuah tronton besar.

Perjalanan malam serta persaingan memperebutkan jalan dengan kedaraan berukuran raksasa mengingatkan pada film imaji okupasi bangsa robot dari planet lain ke bumi.

Ketika saya bilang memperebutkan, sesungguhnya benar-benar memperebutkan.

Jadilah tengah malam di antara truk gandeng dan jalanan panjang serta hutan di kiri-kanan dan bulan purnama yang begitu besar. Kami berada di jalur yang benar, tetapi salah satu truk gandeng itu memutuskan untuk mengambil jalur kami.

Kesalahan kami adalah menerima kedatangan anugerah untuk mengantuk pada saat yang tidak tepat. Hingga saat ini saya tak pernah tahu apakah kala itu Johan Didik 100% terjaga, ataukah matanya hanya tinggal segaris saja, yang pasti kedamaian kami malam itu diganggu oleh kilatan cahaya.

Sebuah tronton yang besarnya dan beratnya ratusan kali lipat dari saya, Johan Didik, dan motor bebek yang kami tumpangi memutuskan untuk mendahului kendaraan di depannya, tanpa mempertimbangkan sepasang mahasiswa malang yang tengah membelah kelam.

Saya kira sinar lampu tronton itu adalah sinar pedang cahanya saint seiya yang sedang membelah tubuh musuhnya. Begitu pendek, cepat dan menyergap. Tiba-tiba saja Johan Didik, saya, dan motor bebek berada di jalur yang sama dengan kendaraan superbesar yang entah mengangkut apa.

cuma contoh jalan yg kami lalui, bukan yg sempat mengundang kematian kami
Saya kira saya akan terbangun tanpa nyawa, dan baru akan ditemukan esok harinya dalam bentuk jenazah yang memilukan. Saya pikirkan headline Jawa Pos keesokan harinya: sepasang mahasiswa UGM ditemukan tewas mengenaskan. Mungkin juga: Dua mayat tak dikenal ditemukan hancur. Ah, mengerikan.

Jika itu terjadi, maka yang sedang menulis cerita ini adalah hantu saya. Entah beruntung atau tidak, saya hidup hingga sekarang. Semesta alam membantu Johan  Didik untuk begitu sigap menggerakkan saraf motoriknya, dibuangnya moncong motor ke arah kiri. Sehingga kami terbebas dari tronton.

Ini ibarat keluar dari mulut macan, masuk ke mulut buaya. Siapa bilang kami selamat?

Jalanan aspal di tengah-tengah hutan, mungkin adalah jalan timbunan atau memang perbukitan kecil dibandingkan dataran di sekitarnya. Saya tak tahu pasti teknis terbentuknya jalanan aspal itu, yang pasti datarannya jauh lebih tinggi dibandingkan tanah di kiri kanannya, tempat pohon menyembul satu-persatu.

Saat itu roda si motor bebek sudah tak lagi berada di atas aspal, berpindah ke kerikil besar dan tajam. Mungkin kerakal namanya akalu dia besar-besar. Moncong motor oleng ke kiri-kanan. Saya tak merapal doa, Toh, kalau kau percaya Tuhan, tak ada doa apapun yang dapat menyelamatkan jika Tuhan sudah berkehandak. rapalan doa hanya satu-satunya cara untuk membuat manusia tenang.

Dan sangat tidak dipercaya, saya begitu tenang malam itu. Begitu tenangnya hingga saya masih ingat setiap detail kejadian tersebut, pada hari ini, 6 tahun kemudian.

Saya ingat, wajah kematian terbang dihembus angin jantan, mungkin 5 menit kemudian, kala tuas menghentikan perputaran roda, kerakal bergelotak terlempar dari kedua ban, dan bunyi decit serta debu tronton di aspal kanan melewati telinga kami.

dan kaki saya begitu lemas hingga tak dapat berdiri.

Comments

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual