si tubuh yang bersetubuh

Tubuh. Perempuan. Membayangkan sesuatu atas keduanya?

Aliran darah, keratan daging yang melekat pada rangka yang digerakan urat? Seorang Channel Iman? Sebentuk bokong, payudara, bibir? Bokong Jennifer Lopez, payudara Dolly Parton, bibir Angelina Jolie? Maria Ozawa yang diproduseri ayahnya dan terkenal sebagai produk pornografi dengan label Miyabi? Sedot lemak dan bedah plastik berharap tubuh “ideal” selayak Barbie atau mannequin? Anorexia yang telah berkontribusi atas 0,56% kematian tubuh-tubuh (yang hampir seluruhnya) perempuan di Amerika?

Kesucian Perawan Maria yang absolut hingga kematiannya? Pergulatan batin manusia, layaknya Frankenstein yang bertanya milik siapakah dirinya, tubuhnya? Pangkal dari segala kekotorankah ia hingga kelahirannya harus disertai dengan kematian, pembunuhan atas tubuhnya? Sekadar tanah yang kan kembali ke kodratnya, dikubur hanya dengan selembar kain, ditutupi tanah, atau justru sangat suci dan berharga hingga harus diaben dengan biaya berpuluh juta, dimumi, dibuatkan Piramida atau dibangunkan Taj Mahal nan megah?

Kuasa mana yang boleh mendominasi tubuh, perempuan, tubuh perempuan? Negara? Agama? Mengapa seseorang tak diberi hak untuk menolak hidup dalam tubuh sakitnya? Mengapa euthanasia dianggap sama dengan bunuh diri, atau membunuh? Jika tubuh itu adalah tubuh janin, siapa yang berkuasa atas janin tersebut? Si Ibu, Ayah, Agama, Negara? Mengapa perempuan tak diberi kebebasan untuk menolak benda asing dalam rahimnya melalui penghentian kehamilan?

Kemarin dulu negara muncul dengan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi yang mengusung tubuh manusia sebagai bahasan utama. Melindungi perempuan dan anak-anak, katanya, tubuh sosial harus diatur agar tak memicu degradasi moral. Mengingatkanku pada Eropa abad pertengahan yang memenjara Sade karena menulis dengan erotis. Meski sudah sah, banyak juga yang terus menolak, tubuh adalah arena privat yang tak boleh didominasi oleh kekuasaan manapun kata mereka yang kontra. Busukkah tubuh sosial hingga harus ditahan-tahan keberadaannya?

Lokus agama tak mau kalah. Tubuh begitu dijaga keberadaannya, ditutupi sebegitu rapat, dibuat lapar, disiksa agar kesucian jiwa dapat menyelimuti tubuh yang kotor. Asketisme menuntut penyangkalan atas tubuh. Pandangan harus dijaga dari tubuh-tubuh seronok karena akan merusak jiwa di dalam tubuh. Kebutuhan seksual dinegasikan, persetubuhan menjadi dosa. Burukkah tubuh, mengganggu jiwakah ia?

Comments

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual