selalu ada yang harus diyakini

Saya sudah mendusta pada tubuh dan pikir saya sedemikian rupa, berulang kali.

Saya pernah berjanji, untuk menulis setiap hari. Menulis dengan hati. Meluapkan pikiran memuntahkan ide-ide. Namun saya gagal memenuhi janji tersebut.

Saya juga berjanji, untuk belajar bahasa lebih banyak lagi. Namun les Jerman saya terhenti di tengah jalan, saat saya coba untuk mulai lagi, saya sudah tidak punya cukup waktu.

Janji lain, adalah untuk banyak membaca buku. Janji yang juga tak saya tepati pada akhirnya. Saya selalu pulang dalam keadaan terlalu lelah, atau terlalu malas untuk membaca. Buku terakhir yang saya baca, saya habiskan dalam waktu sekitar 6 bulan. rekor terburuk sepanjang hidup.

Banyak janji-janji lain yang juga tak saya tepati. Terlalu banyak untuk dapat dijabarkan satu persatu. Janji untuk lebih banyak berenang dan tread mill juga tinggal janji. Janji untuk giat bermain tennis juga hilang di tengah angin. Belum lagi janji untuk mengurangi polusi dengan cara mengurangi menggunakan taksi, kurangi membeli barang impor, kurangi makan daging, diet sampah, semuanya menguap.

Lalu saya mulai menyalahkan Jakarta. Jakarta telah memerkosa saya. Menghisap seluruh energi saya. Menghabiskan waktu saya. Menguras emosi saya. Saya tak bisa menyalahkan Tuhan, maka saya menyalahkan Jakarta. Tidak adil.

Seluruh hidup saya mungkin berisi ketidakadilan. Ketidakadilan saya terhadap diri dan lingkungan. Ketidakadilan karena telah menjadikan hidup disekeliling saya komoditas. Ayam-ayam ditetaskan, lalu dibesarkan, digemukan dengan tujuan untuk menjadi panganan saya. Saya merasa begitu superior terhadap seluruh alam. Juga terhadap diri sendiri.

Tubuh dan pikiran saya selalu berusaha menjadikan satu sama lain komoditas yang ditumbuhkan untuk memenuhi kebutuhan lainnya. Yang satu selalu memiliki saat untuk merasa superior dibanding lainnya.

Mungkin ini tidak benar. Tetapi selalu ada yang mesti kita yakini. Apa yang kita lihat dan tidak kita lihat. Meyakini dan tidak meyakini. Meyakini tubuh-tubuh atau pikiran-pikiran. Menjadikan kenyataan sekadar pilihan, lalu hidup adalah komoditas yang kita bentuk untuk meyakini pilihan-pilihan kita.

Pilihan-pilihan soal nyata-maya, tepat-ingkar, keputusan untuk marah atau tidak terhadap tubuh dan pikiran yang saling mendusta satu sama lain.

Comments

Popular posts from this blog

Karena usia cuma deretan angka-angka!

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual