hujan milik angin jantan

Selalu ada masa dan orang-orang yang membuat hidup nampak tak berguna. Dalam beberapa saat kita akan bereaksi berlebihan, tetapi selanjutnya kita akan merasa bahwa tindakan yang sudah kita lakukan itu bodoh. Lalu kita pun tertawa sambil mengutuki diri, terutama jika kita mencoba merasionalkan segala hal.

Dan saya sedang dalam tahap reaksi berlebihan itu.

Dalam setiap fase hidup saya, selalu ada masa di mana kekerasan menjadi hal yang seolah layak saya terima.

Ayah suka memukul, dengan gagang sapu, dengan ikat pinggang, dengan kursi plastik, juga menyundut bibir saya dengan rokok yg menyala. Saat itu, saya tidak pernah tahu bahwa hal tersebut adalah kriminal. Tapi sudahlah, ayah sudah tiada, dan saya tak berniat memperkarakan apapun.

Sayangnya, setiap kekerasan yang saya terima, agaknya membuat saya terbiasa, mati rasa. Saya selalu berusaha bertahan dalam berbagai hubungan yang melibatkan kekerasan. Tak melulu fisik, tetapi juga kekerasan psikologis dan intelektual.

Ini memalukan. Padahal saya selalu lantang menyeru hilangkan kekerasan dalam pacaran, maupun dalam rumah tangga.

Ini mengerikan. Saya terus menyeru agar tak ada orang lain yang seperti saya, saat saya masih dalam lingkaran setan tersebut.

Hal-hal semacam ini, membuat saya kurang menganggap hidup adalah sesuatu yang berharga. Sejak sekolah dasar, setiap kali punya masalah, dengan mudahnya saya berfikir bahwa bunuh diri adalah solusi. Tentu bukan solusi. Hal ini membuat saya tidak menghargai tubuh dalam waktu yang lama.

Jika tidak ada yg melakukan kekerasan fisik terhadap diri saya, maka saya yang akan melakukannya. Dan jika sudah lelah, saya akan bersembunyi di dalam lemari pakaian. Duduk, menunduk sampai tak lagi merasai bahwa saya masih punya kaki.

Lalu hujan.
menanti belai angin jantan-angin perempuan dalam wajan.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual