racauan soal kematian

Setelah kematian kakek, kematian ayah, kematian nenek, kematian kakek angkat saya, saya pikir tidak akan banyak lagi kematian yang akan terlalu mengejutkan saya. Setidaknya tidak dalam waktu dekat.

Namun ada dua kematian dalam tiga bulan belakangan ini. Bukan orang dekat saya. Hanya sekadar kenal. Hanya sekadar hai hai. Hanya karena dia teman si anu dan saya teman si itu lalu si anu dan si itu berteman. Hanya karena kami berada di lingkungan perkuliahan yang sama. Hanya karena dia suka menonton film, mendirikan komunitas bagi yang suka nonton film dan aku kadang-kadang menghabiskan waktu yang berharga dengan menonton film.

Kematian ini, datang menjemput dua perempuan muda yang tak saya kenal baik. Akan tetapi, kematian manapun selalu menyentak dan berbekas.

Kematian yang satu diawali oleh penjambretan tas, aspal keras, simbahan darah lalu bau rumah sakit. Saya tak tahu persis kejadiannya. Saya juga tak bertanya mengenai kejadian tersebut. Saya hanya tahu dari catatan-catatan kecil di facebook. Lalu komentar-komentar kesedihan bertumpuk di akun Sandya Finnia. Sebelumnya, saya bahkan tak tahu nama panjangnya, saya hanya mengenal sebagai Finni.

Kematian kedua, saya pikir menjemput orang lain. Lebih tepatnya, saya harap menjemput orang lain. Status di facebook seorang teman menyatakan kematian. Status yang tak saya berani pertegas, yang tak berani saya tanyakan. Sampai pada akhirnya seorang teman lain tegas-tegas menulis di dinding facebook saya, dan teman lain lagi menyapa lewat chatt room. Pesannya sama: Rik, Elida meninggal. Elida Tamalagi.

Keduanya tak saya kenal dekat. Saya pun tak mau sok kenal. Tapi setiap kematian selalu membawa bekas tersendiri.

Saat SD kelas 3, saya pernah bertanya. Kalau kita mati nanti, lalu dibangkitkan usai sangkakala berbunyi, apakah kita akan bangun dalam tubuh kita, seperti halnya saat masih menjadi manusia, apakah kita bangun sebagai berkas cahaya penanda jiwa, apakah kita akan terbangun sebagai hantu, ataukah sekadar bayangan?

Saat kelas 3 SD, saya percaya akan ada orang dewasa yang bisa menjawab pertanyaan itu. Tapi saat ini saya rasa saya cukup dewasa untuk menyadari bahwa pertanyaan tersebut di luar jangkau saya, dan saya tak akan mendapat jawaban yang cukup memuaskan.

Saat kelas 3 SD, setiap kali sujud dalam solat, saya selalu membayangkan berada di dalam ruang kosong, gelap, sendirian, lalu di depan saya adalah sebuah singgasana begitu besar, tetapi sendirian, dan itulah tempat Tuhan.

Maka saat kelas 3 SD, saya yakin bahwa Tuhan adalah entitas yang kesepian. Mungkin dia memanggil manusia hidup untuk mati karena butuh teman.

Saat itu saya hanya kelas 3 SD. Saya masih punya lebih banyak hak untuk berfikir konyol dan surealis. Namun saat ini saya berada pada usia dan lingkungan orang dewasa yang mempercayai berbagai hal dalam bentuk data-data dan angka-angka. Singgasana begitu besar dan ruang kosong yang begitu gelap dianggap tidak realistis dan tidak terukur. Seberapa besar sebegitu besar?

Saya tak bisa mengatakan baru saja bertemu dengan seorang anak perempuan dengan cara bersendawa yang lucu. Orang dewasa tidak akan mengerti. Akan tetapi mereka akan mengerti kalau saya katakan bahwa saya bertemu anak perempuan berusia SEPULUH tahun, berkuncir DUA, serta punya seorang ayah yang penghasilannya Rp240 juta dalam satu tahun. Semua angka tersebut akan meyakinkan orang dewasa.

Sebab itu orang dewasa tak mengerti bahwa tak semua bisa terukur dengan angka, kematian adalah salah satunya.


*Good and Lucky people die young. Long live Elida & Finni, in our memory.

Comments

  1. "Maka saat kelas 3 SD, saya yakin bahwa Tuhan adalah entitas yang kesepian. Mungkin dia memanggil manusia hidup untuk mati karena butuh teman."

    wah, saya suka sekali dengan kalimat itu Mbak...
    ya, saya juga cukup terhenyak dengan kepergian Elida....

    vanie

    ReplyDelete
  2. I think I'll never get used to deaths. That's why i prefer to die young, well not so young but not too old either. The curse of long live is that you outlived most people around you, especially the one matters to you..

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual