warisan jalan menikung*

kubiarkan cahaya ufuk timur merenggutmu,
angin yang gelisah rupanya isyarat tuk memilikimu,
kabut terasa membakar cahaya,
langit begitu pilu,
cahayanya ngilu,
hanya aku yang menjelma suara.


kau mungkin lelah dengan desah udara di jalan menikung itu,
yang kini kutempuh tanpa nafasmu merengkuh pundakku.
subuh telah tuntas,
dengan warna yang tak kan terkelupas.

sungguh, jika tak lagi dapat berteduh, di manakah harus kucari atap baru?


*teruntuk ayah

Comments

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual