Transformers 1 Vs Transformers 3, direbut sipil tapi kembali ke militer

Saya adalah penonton tak setia Transformers: sangat terlambat menonton yang pertama, tak menonton yang kedua, dan jadi salah satu gelombang pertama yang menonton di Indonesia dalam film yang ketiga.

Film pertama saya nilai sebagai film militer yang tidak menonjolkan superioritas militer atas sipil (yang tak bersenjata), walaupun di scene-scene awal, dan banyak scene di dalamnya menunjukan kemiliteran, dinas-dinas rahasia, pertempuran, serta wilayah-wilayah khusus milik militer the states.

Konteksnya, film pertama diturunkan sekitar pertengahan 2007, saat perang Irak dan Afghanistan tak kunjung berkesudahan dan masyarakat mulai mempertanyakan anggaran militer yang begitu besar. Masyarakat muak. (Walau demikian, agaknya film ini tetep jadi sarana promosi kendaraan perang militer AS. hehe... Seolah mau bilang, "ini loh, kita punya peralatan sebegini canggih, siapa berani lawan?").

Jika dalam film janur kuning, enam djam di joga, dan serangan fajar--atau mungkin ada film film lainnya?--sipil hanya ditampilkan sebagai pelengkap derita, maka di film The Transformes ini sipil lah yang ditampilkan lebih patriotik dari pada militer. Dalam kebanyakan film indonesia, sipil melulu ditampilkan sebagai pribadi yang lambat, tidak dapat mengambil keputusan dengan cepat, licik, atau bahkan penghianat. Sedangkan militer ditampilkan sebagai sosok yang patriot, berjiwa besar, cepat mengambil keputusan, sigap, dan bijak (Baca Irawanto, Budi: film ideologi dan militer).

Tidak demikian dalam The Transformers. Sipil (yang juga Yahudi. hehe...) ditampilkan sebagai sosok pahlawan, dan kalaupun ada kemampuan militer yang berhasil mengalahkan Decepticons, maka itu adalah karena bantuan sipil. Sipil lebih banyak tampil sebagai pengambil keputusan, pemilik informasi (yang tetap rendah hati), baik hati, sekaligus juga tokoh kunci yang dapat menyelamatkan dunia dengan kemampuannya yang nampak terbatas, karena sipil memiliki sesuatu yang disebut "More Than Meets the Eye" oleh para Autobots. Bagi mereka manusia (sipil) memiliki banyak kelebihan yang tak kasat mata. Kelebihan itu bukanlah kemampuan tempur fisik seperti yang dimiliki militer, namun apapun yang dimiliki oleh Sam Witwicky.

Dalam The Transformers, seluruh Autobots bertransformasi dari kendaraan roda empat yang biasa digunakan oleh sipil. Mulai dari Chevrolet, hingga Porsche. Dengan kendaraan tanpa kemampuan tempur itulah Autobots berhasil mengalahkan megatron. Sedangkan Decepticons secara keseluruhan memilih untuk menggunakan kendaraan kendaraan "dinas" negara, mulai dari kendaraan polisi, hingga kendaraan tempur militer. Hanya satu decepticons yang mentransformasi dirinya menjadi mini compo, dan tak ada satupun decepticons yang menggunakan "kendaraan sipil". dengan demikian perang pun berubah menjadi perang militer melawan sipil. Hanya segelintir militer yang ditampilkan membela para sipil: beberapa orang (satu grup) yang berhasil selamat dari penyerangan di padang pasir.

Hal tersebut seolah menunjukan bahwa polisi serta militer dalam keadaan damai di States memiliki mental yang penghianat, licik, serta tidak patriotik. Sedangkan militer yang bekerja di luar States, di wilayah konflik misalnya (dalam film ini yang ditampilkana dalah Qatar), selalu ditampilkan sebagai sosok patriotik dan heroik. Selalu seperti itu sejak Rambo 1 hingga 4. Militer juga ditampilkan sebagai sosok sok tahu yang terburu-buru mengambil keputusan, ditampilkan ketika kelompok militer menahan Maggie Madsen karena membawa salinan rekaman sinyal dari para Decepticons. Padahal pada saat itu Maggie Madsen justru hampir menemukan jalan keluar dari permasalahan mereka.

Dari seluruh militer yang ada dalam film ini, tak ada satupun yang dapat menyelamatkan the cubes/ all star dari Megatron. Hanya Sam Witwicky yang berjuang mati matian membawa cubes sendirian dengan back up dari para Autobots. Begitu juga ketika Bumblebee mengalami kerusakan, tak ada satupun anggota militer yang berusaha menolong. Justru Mikaela Banes lah yang akhirnya memiliki ide untuk membantu Bumblebee. Juga berkat Mikaela Banes, Bumblebee dapat melumpuhkan Decepticons.

Di akhir cerita, tak ada satupun yang dapat mengalahkan Megatron, pemimpin dari Decepticons. Jangankan militer, pahlawan sekaliber Optimus Prime saja tak mampu. hanya satu manusia yang akhirnya mengalahkan Megatron: ya, siapa lagi kalau bukan sam witwicky. Seolah berkata: militer minggir dulu, sipil sedang beraksi!

Lain dulu lain sekarang, Transformers: Dark of The Moon justru menonjolkan kemiliterannya. Pasal 1: Militer selalu menang, jika militer kalah, kembali ke pasal 1.

Pertempuran kali ini adalah milik para pasukan tempur. Militer dan polisi Amerika, pesukan Autobots serta geng tempur Decepticon. Ini adalah pertempuran militer. Mungkin Amerika sedang rindu kejayaan Militer. Mereka muak pada kejayaan "teroris" dari Timur Tengah, mereka lelah mendengarkan presiden sipilnya (siapapun presidennya, apapun kebijakan, pasti selalu aja dianggap salah).

Sam Witwicky cuma liason, penghubung, yang tugasnya menghubungkan. Menghubungkan setiap tokoh, menghubungkan Seymour Simmons dengan Autobots dan pangkalan Militer, juga menghubungkan tiap fakta yang tercecer. Sam tetap menjadi kunci, tetapi Sam bukan pelaku. Misi utamanya kali ini adalah menyelamatkan Carly Spencer, alih-alih menyelamatkan bumi.

Pelumpuh Megatron adalah Militer, penghancur Pilar Utama juga pasukan Autobots (rusak tertimpa kapal yang disabotase Wheelie dan Brain), pembunuh Megatron adalah Optimus Prime, begitu pula penghancur Sentinel prime. Juga tidak ada tanda-penanda mengenai kemiliteran dan kesipilan. Semua petarung dan prajurit bisa menggunakan mesin apapun, mercedes, ataupun kapal perang. Ini adalah pertempuran mereka. Sipil cuma pelengkap derita penuh menye-menye cinta.

Dan negosiasi kembali ke habitatnya seperti film-film perang lainnya: tindakan sia-sia yang menghabiskan energi. Toh semua solusi adalah tindak kekerasan. Sam sendiri bahkan tidak bisa berbuat apa-apa, tidak mengerti kumpulan fakta yang dimaksud, jika tidak didampingi Seymour Simmons, mantan anggota CIA (atau apalah satuannya).

Michael Bay seolah ingin menunjukan, sipil memang boleh tertawa pertama, tetapi pemenang tetaplah mereka yang tertawa terakhir. The one who last laugh is the winner, and they are the military of US with the patriot of Autobots.



Nb,
Anyway, penata rias Carly Spencer pasti superlabil, dan itu GANGGU ABIS. Dalam pertempuran, rambut Carly terus menerus berubah, kadang keriting gelombang besar, tiba-tiba super lurus, lalu berubah lagi jadi keriting gelombang kecil, jeans Carly kadang-kadang item, kadang-kadang biru, sepatu Carly emang ga berubah warna, tapi dalam satu scene dia flat, dan dalam scene lain dia ada heelsnya, anting-antingnya juga, dari 3 anting-anting dengan panjang bervariasi, jadi anting-anting bulet -_-"

Comments

  1. mpok, aye ga ngartiii mo ngomen apa, sama sekali ga nonton transformer soalnya :D

    tapi seneng aja baca tulisanmu lagi, terutama karena nemu kutipan dr Mas budi ir:D

    ReplyDelete
  2. menarik baca ulasanmu tentang transformer ini, ak malah ra mikir tekan semono.. ket mbiyen transformer ki tak anggap film dengan special effect super dahsyat ro adegan hancur2an sing edan2an. haha..

    tapi cen tipikal film amerika ki ngono kan?! propaganda sebagai negara yg super power, penyelamat dunia dan semua tindakan mereka adalah yang paling bener. *ning nek urusan utang tetep wae ngrepoti kancane*

    delok wae film2 armagedon, 2012, war of the world, independen day (di film ini, pas sebelum pasukan amerika mau nyerang alien, ada dialog diantara sipil: "okay every one let's us pray," "but i'm not jewish," "that's okay.. no body perfect" *kira2 gitulah dialognya*) lak yo fak tenan tho kui?!!

    dan film2 tipikal sing koyo ngono kui akeh bgt.. nyebahine dewe wis tergantung bgt karo film2 kui.
    lha dadi standar je.. film2 selain seko hollywood dianggepe ra ono sing apek terusan...

    aku nek gawe JIF yo tetep wae referensine film2 kui.. tapi bedane ak ra ndue tendensi proaganda. sopo juga sing terpengaruh ndelok rupaku ro semar kan?! nek muntah mkn malah iyo.. haha

    durung ngomongke masalah budaya sing di tularke lewat film2 kui dsb.. dsb..

    ah mboh ah.. ak ngantuk.. ngeloni bojoku waelah.. dadi mumet malahan..

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual