meraji rindu berarus pendek

Aku rindu merindu.
Ada banyak hal untuk dirindu sebenarnya.

7 tahun belakangan, ibu tak lagi tinggal serumah denganku, tak sekota, bahkan tak sepulau. Otomatis 7 tahun belakangan pun tak tinggal dengan adik-adikku yang 4 orang itu. Kalau adikku yang paling kecil saat ini baru berusia 10 tahun, maka lebih dari separuh hidupnya, dia tak mengenalku.

Pun 11 tahun belakangan hanya sesekali kutemui ayah. Tidak hanya 11 tahun. Selama tahun-tahun kami di Jakarta pun, ayah hanya kukenal sebagai kelebat pria senja. Lebih dari itu, ayah juga pernah tinggal di Papua selama 2 atau tiga tahun saat aku masih berseragam merah. Maka sebagian besar hidup, tak juga kukenal ayah.

Ayah adalah pria yang memeriksa semua pekerjaan rumah, matematika atau bahasa Indonesia. Hanya tiga pelajaran yang tak pernah ia periksa: bahasa Arab, Bahasa Sunda dan Bahasa Inggris. Ayah adalah pria gagah yang mengambil rapot di sekolah. Pria keras yang tak segan memukul dan menyundut wajah anaknya dengan rokok. Pria yang selalu jadi ayah nomor satu di dunia dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Ayah meninggal dua tahun lalu, tanpa pernah aku berada di sisinya. Hanya seminggu aku merasai tinggal di RS. Itupun masih disertakan diam-diam bertandang ke rumah teman pria di tengah malam.

Aku tak pernah menyangka sakitnya separah itu. Tak pernah terpikir untuk berinteraksi intens sebelum Ayah meninggal. Bahkan interaksi paska kepergiannya masih jauh lebih intens, lewat mimpi.

Maka besar sekali alasan tepat untuk mencurahkan perasaan ingin merindu itu.
Banyak sekali subjek untuk dirindukan.

Tapi ini rindu yang belum lagi lahir, janin tanpa garba, yang ingin terlahir tanpa alasan. Tak teraba wujudnya. Rindu yang dihamilkan bau hujan. Rindu yang dibawa semerbak pantai.

Rindu ini memilih yang lain. Seperti kata-kata yang memilih penyairnya, rindu memilih perajinya.
Rindu membutuhkan rajim untuk dilempari hingga mati. Tak peduli jika rajim sebenarnya telah membela diri saat dizinahi. Rindu tak mau tahu.

Peraji dan rajim rindu adalah dua entitas yang sama sialnya. Makin sial saat rindu memilih orang yang sama. Rindu macam itu adalah kethek ongkleng, tak pernah berjalan seimbang, seperti ingin menjadi tontonan. Ia tampak lucu, tapi sesungguhnya tak pernah ada yang peduli pada sakitnya. Sakit si kethek ongleng. Dirantai, dipaksa mencari dan mencuri perhatian. Maka si Peraji dan Rajim adalah kethek ongkleng itu sendiri. Hidup diatur rindu.

Aku rindu merindu.
Harus kulampiaskan si rindu.
Rindu yang tak berbau, tak terlihat, tak teraba.
Rindu ini tak bertuan.
Rindu yang tak tahu harus kuapakan.

Rindu ini membuat judek, seperti juek yang tak juga berhasil mengusir burung gereja yang hanya pergi ketika perutnya kenyang, hasil mencuri bulir padi yang telah kuning, atau menguning.

Rindu ini seperti tangan kosong yang menyentuh kabel listrik telanjang, mengantarkan arus pendek, memberi rasa menggelegak. Namun hanya sesaat.

Rindu ini seperti aku dan kamu tempo hari.
Aku pikir aku merindumu. Aku pikir itu baumu yang kuharap menyentuhku.
Namun tiba-tiba rindu pergi. Meninggalkan sisa gelegak arus pendek perasaan bahwa aku merindumu.
Mencerabut hingar bingar kesunyian rinduku padamu.
Seperti blencong yang ditiup habis, tak menyisakan bayang utuh, gelap seluruh bentang kelir.

Mungkin esok rindu kan datang lagi. Entah sebagai alap-alap, atau mewujud muktisari.
Tapi aku tahu ia tetap tak bertuan. Karena tak lagi ada baumu di sini.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual