Putri Impian Vs Dewi Sartika

Makan malam saya kali ini disambut oleh video klip dari penyanyi cilik yang liriknya kurang lebih begini:

"Aku lah putri impian, cantik seperti bidadari"

Saya melongo mendengar dan melihatnya. Video klip tersebut juga menyertakan acara kontes dengan tag line:

"Jadilah putri Tercantik!"

Betapa menyedihkan anak zaman sekarang. Sejak begitu dini sudah dicuci otak bahwa hal penting dalam menjadi perempuan adalah menjadi cantik, mengenakan gaun dan perhiasan. (dalam video klip tersebut ketiga anak berdan-dan dengan gaun a la kerajaan abad pertengahan lengkap dengan make up dan perhiasan).

Tidak heran kalau angka anorexia, bulimia, operasi wajah dan suntik putih pada remaja akan meningkat. Dari kecil saja penekanan yang mereka dapat adalah kecantikan fisik, bukan kecantikan hati.

Blah... Ga perlu ya saya bicarakan soal kecantikan hati, nanti malah membawa pada perdebatan kepentingan otak, hati dan fisik.

Siti Walidah
Saya hanya mau membandingkan, dengan album anak-anak waktu saya kecil. Saya ingat betul kaset pertama saya adalah kaset hadiah dari produk susu. Salah satu lirik lagu anak-anak yang saya dengarkan dari kaset itu membahas soal perjuangan Siti Walidah Ahmad Dahlan.

Tolong dong, angkat tangan yang merasa kenal dengan Nyi Ahmad Dahlan ini.
Tidak banyak saya kira.

Lagu itu tidak hanya menyebut Siti Walidah Ahmad Dahlan, tapi juga Maria Walanda Maramis (omong-omong, ada yang masih ingat siapa dia?) , Dewi Sartika, serta beberapa pejuang perempuan lain.

Siti Walidah Ahmad Dahlan(1872-1946) adalah ketua pertama Aisyah, gerakan perempuan di bawah Muhammadiyah. Meski tidak bersekolah formal dia dikenal cerdas, pintar. Bukan sekadar dakwah agama Islam ke daerah-daerah, Nyai Ahmad dahlan aktif mendirikan dapur umum pada awal masa revolusi.

Maria Maramis
Maria Walanda Maramis atau Maria Josephine Catherine Maramis (1872-1924) dikenal mendobrak adat dengan memperjuangkan keadaan perempuan pada masa itu tidak hanya dibidang pendidikan, tetapi juga politik. Maria menulis mengenai pentingnya peran ibu dalam koran harian Tjahaja Siang. Dia mendirikan organisasi perempuan (yang diperhalus melalui organisasi keibuan: PIKAT-Percintaan Ibu Kepada Anak Turunannya) serta memperjuangkan hak memilih bagi perempuan pada tahun 1919.

Dewi Sartika
Dewi Sartika (1884-1947) sudah jauh lebih dikenal dibandingkan kedua perempuan yang saya sebut sebelumnya. Dia pendiri Sakola Istri yang berubah nama menjadi Sakola Kautamaan Istri terakhir berganti menjadi Sakola Raden Dewi. Sekolah tersebut didirikan menggunakan tabungan pribadinya. Belakangan perempuan lain di wilayah Pasundan dan Bukittingi pun menyebarkan semangat ini melalui sekolah-sekolah serupa yang mereka dirikan.

Lirik lagunya saya sudah tidak ingat. Tetapi lirik lagu yang saya kenal sejak usia 3 tahun itu sudah menginjeksi satu nilai yang begitu saya percaya hingga saat ini: perempuan dan laki-laki adalah berbeda tetapi setara. Saya sudah diajarkan feminisme sejak dini. Feminisme yang bukan mengagungkan perempuan, tetapi feminism as a radical notion that women are HUMAN.

Saat baru mendengar lirik lagu itu 20 tahun yang lalu, saya yakin saya tidak mengerti maksudnya. Bahkan mungkin saat itu saya tidak tahu bahwa laki-laki dan perempuan punya alat pipis yang berbeda (according to how 3 years old girl thinking, vagina is merely alat pipis). Namun lagu itu sudah membawa saya menjadi saya yang sekarang ini.

Bukan soal lebih baik atau tidak, tapi semua yang didengar, lihat dan rasakan sejak dini adalah apa yang akan berkembang hingga suatu entitas menjadi dewasa. Ini soal bagaimana nilai-nilai diinjeksi sejak dini.

Lalu, apa yang bisa kita harapkan kalau lagu yang diperkenalkan sejak dini bertitik tekan HANYA pada kecantikan fisik saja?

Comments

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

orang tua Indonesia lebih suka liat anaknya kawin dari pada bahagia