mawar merah muda dalam keranda

Lima hari di rumah sakit, aku dilarang, juga tidak dapat berbuat apapun. Jangankan duduk, menoleh ke kiri dan ke kanan saja baru dapat aku lakukan dengan sempurna setelah tiga kali fisioterapi. Tertawa juga berdampak buruk buatku. Hambar hidupku lima hari ini. Maka, dalam lima hari ini, kerjaanku selain berak dan kencing adalah makan dan berpikir.

Kadang aku kira aku ini kaisar jepang, tapi ternyata ayahku seorang Palembang. Lain waktu aku yakin aku adalah tuhan yang menyamar menjadi yahudi, atau bikhuni. Kalau pikiranku sedang demikian, aku bisa saja memikirkan hidup sekaligus mati. Terlebih, lima hari sebelum lima hari di rumah sakit, aku baru saja menghadiri pemakaman mewah seorang deputi Gubernur Bank Indonesia. Lalu juga kuhadiri perjamuan sarapan para petinggi: perayaan hidup.

Begitulah. Selalu ada dua sisi dalam kemungkinan. Dan doa terlalu gaib untuk menjawabnya, atau mungkin terlalu kosong.

Aku juga berfikir soal doa-doa. Merapal doa adalah kegiatan yang terlalu gaib buat dipercaya. Misalnya, merapal doa apapun, sebanyak apapun, bagaimanapun caranya, tak akan membuat ayahku terjaga. Saat petinya tiba di jakarta, aku tak ingat untuk merapal doa, meminta supaya lebih awal di berada di sana, saat hangat masih ada.

Kucium keningnya, dingin.

Subuh itu aku terjaga, meronta. Siang sebelumnya aku telepon ibu. Untuk hal ini aku bersepakat dengan The Upstair, terima kasih tuhan sudah menciptakan Alexander Graham Bell. Saat itu aku mengatakan dengan bimbang akan segera pulang, tapi ibu bilang ayah membaik. Ayah sudah bisa berjalan-jalan keliling komplek perumahan, bahkan ikut menyontreng (sudah tidak ada lagi coblos-mencoblos) pada Pemilu kali itu.

Dia juga minta diajak ke tukang cukur.

Beliau memang begitu taat pada negara. Bahkan diakhir hayatnya pun hal terakhir yang dilakukan adalah menggunakan hak pilihnya dalam pemilu.

Dan aku, sebagai anak yang tidak peka, senang saja ketika ibu mengatakan hal itu. Senang karena ayah membaik. Senang karena tidak perlu mengambil keputusan sulit, pulang di tengah pengerjaan skripsi bukanlah hal yang menarik.

Entah purnama, entah sabit, entah tanpa keduanya saat ibu menghubungiku tengah malam itu. Ayah tak lagi ada katanya. Ah sial, ini bukan jenis berita yang ingin kudengar di tengah bab 4 skripsiku. Saat itu aku pikir aku mendengar kata kematian dari iklan Prabowo Subianto atau Wiranto. Atau jangan-jangan kata kematian itu berasal dari buku karangan Barthez yang sedang menjelaskan kegiatan minum wine sebagai kultur Eropa itu. Namun kematian ternyata menggantung di corong telepon. Baiklah, berlebihan, aku menggunakan telepon genggam. Jelas tak bercorong.

Air mata memburamkan pandang ke monitor. Jelas tampak Prabowo Subianto sedang melintasi sawah. Aku berharap yang mati adalah Prabowo, bukan ayahku. Skripsi yang bahkan tidak mendapat nilai A ini adalah salah satu faktor yg menyebabkan ayahku hanya bisa berucap “jaga adikmu” melalui telepon genggam saat siangnya. Bisa-bisanya aku menunda pulang karena skripsi sialan yang akhirnya menggelendotiku hingga pemakaman.

Kubawa buku-buku referensiku ke Tangerang. Buku-buku itu hanya berada beberapa jengkal saat peti kayu dibuka, dan ayah dikeluarkan dari dalamnya. Tak sekedar menggunakan kafan, tapi juga terbungkus plastik, prosedur standar menerbangkan jenazah dengan pesawat, kata ibu.

Andai tangan kananku tak melarat pada kesibukan fatamorgana, maka bukan hanya melalui gambar kamera kulihat sosok terakhirmu. Kuingat pintamu tuk menjaga adik-adik, menjaga adik, bukan tugas mudah, lalu kau tinggalkan mereka begitu saja, seperti kumpulan mawar merah muda yang harus kulindungi dari sengatan matahari agar tidak layu.

Mataku berkedip tapi hatiku tidak, bahkan tak tahu harus apa.

Ketika bapak-bapak dan anak muda yg semuanya pria mulai menyolatinya, aku bahkan tak lagi peduli pada rapalan doa-doa. Doa sekadar cara menenangkan diri. Dan doa apapun tak akan membuatku tenang, tak akan membuatku berhenti mengutuki adik laki-laki ku yang tak mau menyolati ayahnya.

Belakangan benar-benar kutengkari dia. Atas berbagai sikapnya, karena ayah bersabda harus kujaga mereka. Aku pikir ribut-ribut kecil adalah salah satu cara menjaga. Meski bukan cara terbaik. Namun apa lagi yang diharapkan dari remaja duapuluhan yang harus menjaga 4 adiknya. Maka aku memaklumi diriku sendiri.

Aku bukan jenis manusia yang mengutuki tuhan. Juga bukan jenis manusia yang merapal doa. Biar saja dia ada atau tidak. Toh doa terlalu gaib, atau terlalu kosong, apalagi jika ditambahi usaha yg tak ada. Maka kubiarkan saja semua berjalan. Mati atau tidak matinya seseorang, aku tetap harus bersegera menyelesaikan analisa semiotikku mengenai pencitraan Prabowo lewat iklan politiknya.

Ayah selalu mengenalkan Prabowo sebagai seseorang yg lulus bersamanya di akademi hukum militer. Katanya, mereka diwisuda oleh Try Sutrisno. Tentu saja dapat dimengerti bahwa ayahku bukan penyuka PKI.

Sekali perbincangan kami mengenai komunis, kukatakan pembantaian yang diklaim orde suharto sebagai perbuatan komunis, tidak ada hubungannya dengan pemikiran asli komunis atau sosialis dari pria berjanggut keriting yang belakangan kuketahui bernama Karl Marx. Tapi ayah terlanjur membenci komunis. Maka jawabannya kala itu adalah: “jangan berisik, suara tv nya ga kedengeran”, ujarnya seraya menekan tombol volume di remote control.

Ayahku tentu tak pernah bersepakat kalau wartawan adalah jenis pekerjaan yang pantas dicita-citakan. Apalagi aktivis, terlebih aktivis lingkungan. Keduanya adalah pekerjaan sia-sia.Kalau punya uang berlebih, tentu saja aku tak ingin bekerja macam ini. Jika uangku berlebih, aku akan menjadi pengusaha media yang menyerukan isu-isu lingkungan. Maka akan kunamakan pengusaha media lingkungan. Agar jauh-jauh dari kata wartawan dan aktivis yang dibenci ayah tanpa harus meninggalkan keduanya.

Sesaat malam gelap gulita, aku teringat ayahku. Dia yang membelaku jika adik tak mau sejenak mematikan tv dengan tayangannya, audisi manusia yang paling tidak takut hantu. Acara bodoh yang sia-sia. Aku yang ketakutan setiap melihat acara itu, tentu lebih tinggi kadar kebodohannya.

Ayahku juga yang memarahiku jika Sailormoon diputar di Indosiar, sehingga aku tak mau mengerjakan PR matematika. Kala itu, aku langsung merapal doa–masih kupercaya gaib doa yang tak terlalu gaib hingga bisa mencapai keinginan kecilku. Aku berdoa dengan khusuk kepada tuhan yg kukenal sebagai tuhan yg kesepian, sendirian, agar besok pagi sekolah roboh saja, agar tak ada lagi PR matematika. Namun kukerjakan juga PRnya sambil bersimbah air mata, membayangkan Usagi Tsukino yang sedang melayangkan bulan sabit kembar.

Sayangnya yang kali ini kudapati adalah ayahku yg terbujur kaku, seperti baru saja terkena mawar merah Tuxedo Bertopeng. Dipanggul menuju lubang menganga di antara gundukan tanah merah. Tak pernah kusangka kalau aku kan menabur bunga melati di pemakaman ayahku seperti saat kulihat anak-anak Soeharto menyiramkan berton-ton bunga melati ke makam mewah Bu Tien melalui televisi. Meski tak mewah, tetapi makam ayahku juga harum melati, dicampur daun pandan, kenanga, dan sedap malam.

Lagi-lagi aku kembali berfikir, apakah yang sudah mati, di alam sana akan saling memamerkan betapa indahnya liang akhir mereka.Seperti kebanggaan mereka akan tempat tinggalnya di dunia. Kalau begitu mungkin ayahku akan jauh dari Soeharto, karena makam mereka tak setara mewahnya, sehingga kemungkinan ayah kehilangan doktrin orde baru mengenai PKI akan semakin tinggi kansnya.

Aku tak yakin apa ada alam barzah itu, ataukah reinkarnasi. Tak akan juga pernah tahu hingga ku mati. Karena doa terlalu kosong atau terlalu gaib untuk menjawabnya. Maka biarlah ayah terbaring kaku, karena doa dan segala lelayu tak membantu, setidaknya sudah kuhadiahkan toga hitam pada hari jadinya yang ke lima puluh, November dua tahun lalu.

Comments

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual