kemerdekaan kita atas diri kita sendiri

New York Times edisi 3 Juli menuliskan tajuk yang menurut saya ciamik. tajuk tersebut membicarakan hari kemerdekaan Amerika Serikat yang jatuh pada 4 Juli. Tak berbeda dengan Sidang BPUPKI yang mengesahkan kemerdekaan Indonesia pada 16 Agustus tetapi baru dideklarasikan pada 17 Agustus, Amerika menaglami hal serupa. Mosi kemerdekaan sudah dilancarkan pada 2 Juli, namun deklarasi kemerdekaan baru diucapkan pada 4 Juli.

Lebih dari sekadar persoalan tanggal, kemerdekaan adalah suatu yang diresapi dan didefinisi ulang, bukan sekadar dinikmati. Deklarasi sebagai pernyataan secara sadar mengenai keadaan kita, adalah pembentukan sendi. Klise, tapi apa iya kita sudah melakukan hal demikian?

Berikut tajuk tersebut setelah saya terjemahkan secara bebas ke dalam bahasa Indonesia:
-----------------------------------------------

4 Juli, suatu hari dalam satu tahun
(disadur dari Tajuk New York Times 3 Juli 2011)


Tiba-tiba saja kita sudah berada pada pertengahan 2011, meski sedikit terlawat. 2 Juli agaknya sekadar hari biasa dalam sebuah tahun yang biasa, tetapi tidak dengan 4 Juli. Bagaimana 4 Juli dirasakan dalam sebuah kebijaksanaan waktu sebenarnya sekadar persoalan perangai. Bolehkah dikatakan bahwa 4 Juli layaknya pelopor sebuah peranan dalam satu tahun? Ataukah sebuah batas untuk meloncat pada bidang wewenang selanjutnya di dalam penanggalan? Bisa juga kita membayangkan sebuah ledakan kembang api sebagai perayaan setengah dari tahun baru.

Kegempitaan hari keempat di bulan Juli memang tak terelakan. Akan tetapi resolusi yang menyatakan keberadaan sebuah “negara yang bebas dan merdeka” justru disahkan oleh Kongres Kontinental II pada 2 Juli. Hari tersebut dapat saja menjadi hari di mana kami (Bangsa Amerika, red.) merayakan hari kemerdekaan. Namun demikian, pada 4 Juli, alih-alih merayakan resolusi kemerdekaan, kami justru merayakan artikulasi kemerdekaan, yaitu hari di mana suatu bangsa menelurkan kemampuan untuk menjelaskan dan menalarkan tujuan kelahiran mereka, kepada Inggris, terlebih kepada dunia. Mosi memang melahirkan fakta kemerdekaan, lebih dari itu, deklarasi telah menjadi sendi berdirinya sebuah bangsa dan negara.

Persoalannya adalah, sebagai sebuah bangsa yang tumbuh atas kaidah bahasanya sendiri, pada akhirnya harus menelan kenyataan bahwa sebuah deklarasi kemerdekaan adalah sebuah gagasan radikal. Pada satu sisi deklarasi kemerdakaan tidaklah lebih dari satu langkah dalam sebuah cerita panjang untuk mendirikan bangsa yang terbebas dari koloni Inggris. Langkah yang tidak dapat ditarik kembali. Hal ini membawa kita pada ingatan masa lalu, saat pemukim-pemukim pertama asal Inggris mendarat di Amerika pada abad ke-17. Sebuah penemuan atas daratan baru yang tak pernah diduga-duga. Penemuan yang mau tak mau harus diakui berujung pada terbentuknya koloni Amerika pada 4 Juli 1776. Sebuah nasib atas percobaan-percobaan yang juga menemukan ketidakpastian yang serupa dengan para pemukim pertama yang melintasi Samudera Atlantik itu.

Mereka adalah perempuan maupun laki-laki yang pertama-tama mendengar gagasan kemerdekaan. Ironisnya, saat ini bahkan kita tidak memiliki gagasan di manakah kita berpijak—pada sebuah tengah hari yang biasa, atau mungkin dalam suatu tempat di negara ini.

Titik tekan dari kembang api yang selama ini kita pandangi adalah untuk mengumandangkan dan membuat kita meresapi kembali bahwa sebuah awal yang hangat dan belum pernah terdengar sebelumnya adalah jantung dari alam kita.

-------------------------------

Kemerdekaan, bukan sekadar menajdi merdeka, tetapi bagaimana mendefinisikan kemerdekaan tersebut. Lalu, sebagai pribadi, sudahkah kita merdeka?

Saya tidak mau membawa tulisan ini pada pembahasan politis mengenai kemerdekaan tubuh dari entitas agama, politik, negara dan hal-hal lain. Pertanyaan sudahkan kita merdeka murni pertanyaan kita pada diri kita sendiri, sudahkah kita memerdekakan diri kita sendiri? Melahirkan penalaran, menjelaskan tujuan atas kehidupan kita, dan berlari menuju tujuan yang kita pilih secara merdeka.

Namun kemudian saya kembali bertanya, adakah sebuah kemerdekaan diri yang benar-benar merdeka?

Bukankah sejak lahir kita sudah dilahirkan menuju perangkat nilai dan aturan yang sampai matipun tidak akan membuat satu manusia pun di dunia ini dapat berfikir objektif 100%?

Tulisan saya sebelum ini misalnya, saya tidak pernah menganggap sesuatu lebih benar dari lainnya. Katakanlah saya menggungat kecantikan sebagai banalitas pemenuhan kebutuhan pasar, toh kemampuan akademis pada akhirnya juga tidak lebih dari sebuah pemenuhan kebutuhan pasar yang sama banalnya. Kecantikan dan kepintaran adalah dua hal yang terus diasah. Saat kecantikan fisik kalah oleh keriput dan kemunduran kolagen dalam kulit, maka kepintaran akan dibinasakan oleh pikun serta berbagai kemunduran kemampuan otak.

Lalu kita semua adalah produk dari sebuah strukturasi fisik, maupun mental. Apakah itu bisa dihilangkan? Saya pikir tidak mungkin. Meski saya mati-matian mengatakan berbeda adalah sebuah nature dan kecantikan maupun kejelekan sekadar perbedaan tanpa ada tendensi positif maupun negatif, hal itu sekadar batas nature dan culture kita.

Karena saya percaya kemerdekaan adalah sebuah perayaan kebebasan dalam pikiran perkataan dan perbuatan. Seperti yang dikatakan dasa darma pramuka, dan yang diamini Pramoedya Ananta Toer dalam konteks yang berbeda.

Ah, sudahkan kita merdeka?

Comments

  1. leave a comment ... xixixixi ... nih bukti aku mampir ke sini.

    ReplyDelete
  2. rika, ni gw juga dah mampir ke sini. Akhirnya gw baca tulisan lw (bukan cuma ini saja) sampai selesai, di waktu lengang. Heheh.
    Komen awal : tulisan lw oke punya cynn.. Komen konteks : manusia sulit untuk benar2 lepas dari segala budaya dan aturan yang telah dibuat karena kita terlempar dalam budaya tersebut (ada dalam dunia) menjadi manusia massa..
    Menjadi benar2 merdeka (dari kehidupan) ketika telah mati.. :p

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual