Fynn tak lagi datang

(--Tribute to Janin-Hasan Aspahani--)

Hari ini Fynn tak datang. Seperti kemarin. Seperti kemarinnya lagi. Kemarin dan kemarin dulu. Harusnya tak lagi ada yang menunggu. Tapi tetap saja, saat senja, dan layung muncul di barat kota, sebongkah keyakinan memaksa bahwa Fynn akan tiba. Keyakinan yang sia-sia. Fynn tetap tak ada.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------

Di pantai ada peringatan: DILARANG BERENANG. Tulisan itu menyembul bersama tiang putih di antara rerimbunan pandan laut. Tiang putihnya tak seberapa tinggi. Paling hanya 15 centi lebih tinggi dari tubuhku. Dengan tulisan besar-besar berwarna merah darah, dan papan putih yang lebar, harusnya tulisan ini menarik perhatian. Namun belukar pandan laut memeluknya erat. Membuat tiang nampak berkerut, tak dapat beringsut.

Tak seorang pun memperhatikan tulisan itu kupikir. Lagi pula laut begini indah, ombak begitu tenang. Bongkahan karang yang tingginya lima kali tubuhku pun tak lagi tampak garang. Ia memayungi ku dari sinar mentari pagi. Padahal tak juga perlu sebenarnya, matahari hangat hari ini. Tapi, DILARANG BERENANG katanya. Laut sedang surut memang. Mungkin orang pun tak ingin berenang. Namun, jika pun iya pasang, bukankah itu gunanya pantai?

Pantai amatlah sepi pagi ini. Baru kuingat kalau pantai ini selalu begini sepi, sangat tenang. Bahkan tak ada orang pacaran, hanya ombak berkejaran. Mungkin mereka yang memadu kasih takut akan kutukan pantai terlarang. Hei, tapi bukankah pantai terlarang itu lebih ke selatan? Atau mungkin pantai ini memang tak terkenal?

Hamparan pasir putih, seperti bukan pasir. Ini bukan sekadar pasir berwarna putih. Tahu kan, pasir putih itu seperti pasir hitam yang albino sehingga ia berwarna putih? Tapi pasir di pantai ini bukanlah sekadar pasir putih. Pantai ini tak memiliki pasir. Yang ada hanya bulir pasir. Ia lebih besar dari pasir, dan kalau diinjak rasanya lebih empuk dari pasir. Kakimu kan tenggelam di dalamnya. Itu dia yang kumaksud dengan bulir pasir. Membawa kelembutan yang menjalar dari telapak kaki sampai ujung kepala.

Karang di pantai ini, sebesar kastil abad pertengahan. Dengan bentuk yang lebih menarik buatku. Kastil tampak seperti ruang pengekangan agar kelompok tertentu nampak garang juga terkucilkan. Namun karang, adalah kekuatan. Karang di belakangku adalah yang paling besar. Mmm… sebenarnya karang di belakang ku ini ada di samping kananku jika aku memandang pada pantai. Namun, ia ada di belakangku jika aku berjalan menyusuri pantai.

Lagi pula, matahari masih hangat. Rasanya seperti dipeluk erat. Dan diusap oleh angin lembut yang membawa bau pantai. Pantai ini tidak memiliki bau amis seperti pantai yang diujung sana. Pantai diujung sana memang indah. Perahu nelayan terkadang membawa pemandangan indah yang berbeda. Namun perahu nelayan datang dan pergi dengan bau ikan. Karena itulah bau pantai yang diujung sana tak ubahnya seperti bau dapur di restaurant Thailand mewah di dekat rumah.

Bau pantai dengan tulisan DILARANG BERENANG ini seperti bau laut yang tercampur dengan hujan dan rumput tetangga yang baru dipotong. Bau pantai ini membuat udara pekat di paruku berubah cerah. Lebih segar dari udara dalam tabung oksigen rumah sakit tentunya. Bau pantai ini, membuat seorang anak teringat akan ibunya. Rasanya seperti ingin menelanjangi diri ketika angin membawa bau pantai menyentuh kulit ari.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------

Ia merogoh saku jaket. Ia teringat di sanalah dirinya menyimpan dompet. Di dompet itulah Ia menjadi ada. atau karena segala isi di dalam dompet itu Ia kemudian merasa ada? Ia pun mengingat-ingat isi dompet yang membuatnya ada, sambil menatap ombak dan menciumi bau pantai.

Ia ingat pasti ada beberapa kartu debet atas nama beberapa bank di dalam dompetnya. Dengan kartu-kartu ini hidupnya menjadi ada. Menabung di bank mana? Mau mengambil uang di atm bank apa? Atau terkadang kasir-kasir toko bertanya mau membayar dengan kartu apa? Apakah Ia tetap sama adanya tanpa kartu-kartu debet nya?

Ia Juga dapat menemukan kartu asuransi di bagian lain. Termasuk kartu berobat sebuah rumah sakit swasta. Tak lupa beberapa kartu keanggotaan; kartu salon, kartu fitness center, kartu perpustakaan. Mengapa hidup ini dipenuhi dengan berbagai macam kartu? Siapa yang menemukan bahwa kartu-kartu semacam ini adalah bentuk paling tepat untuk menentukan diri seseorang seperti yang terjadi sekarang?

Kartu Tanda Penduduk dan surat izin mengemudi pun tersimpan rapi, beserta nama dan alamat tentunya. Ia juga dapat melihat status dirinya. Pun dapat berkaca pada foto dirinya di masing-masing kartu itu. Meski tak ada gambar camat, tetapi ia dapat mengingat ada tanda tangan camat di kartu tanda penduduknya. Atas nama pemerintah, atas nama negara. Yang membuat dirinya seolah ada.

Di negara ini, jika seseorang tidak memiliki kartu-kartu, maka ia menjadi tidak ada. Tanpa kartu tanda penduduk, tak bisa bersekolah, tak bisa mencari kerja, tak bisa mendapatkan layanan di rumah sakit. Maka orang itu pun dianggap tidak ada.

Ia membuang dompet itu. dilemparnya jauh agar lautan menerima segala yang membuatnya merasa ada. Biarlah dompet itu menjadi bagian dari lautan. Sekarang, Ia ingin sekali mempercayai bahwa sebenarnya dirinya tak pernah ada. Negara itu tak ada, pemerintahan pun tak ada. Hanya dirinya, dan bau laut. Serta sentuh pasir dan kecup angin yang membuatnya ingin bertelanjang bersama semuanya itu.
***

Hei…

Ada puntung rokok di pantai itu. Serta abunya. Ia menghirup dalam-dalam bau kretek yang tersisa, juga bau tembakau, dalam satu hela nafas. Ia tak mengenal aroma rokok itu. Hummm… rokok apa ya itu? tak pernah Ia temukan yang seperti itu. ia menghirup kembali bau kretek itu. ia mengingat-ingat, apakah ini bau kelembak? Ataukah mungkin bau menyan. Tapi rasa-rasanya, ia tak mengingat apapun yang berbau seperti itu.

Jadi, siapa yang merokok tadi? Siapa yang merokok di pantai begini? Ah, tiba-tiba Ia jadi ingin sekali merokok. Ia berfikir, adakah yang ingin menemaninya merokok?

Ia mendekat pada rokok itu. Aneh, batinnya, rokok itu seperti terbakar sendiri. Filternya seperti baru, tak ada perubahan sedikit pun. Tak ada bekas gigitan, tak ada basah diujungnya, apalagi sisa warna pemulas bibir. Rokok itu seperti dikeluarkan dari kotaknya dan terbakar sendiri. Bara diujungnya merambat sendiri menuju filternya.

Atau, adakah yang ingin ditemani merokok? Apakah ini semacam undangan untuk merokok bersama?
Sekarang ia merasa tak sia-sia ada. Agaknya seseorang menunggunya dengan asbak, sekotak rokok dan korek api. Orang yang tak peduli ia mengidap impotensi atau hipertensi. Orang yang hanya ingin ditemani merokok. Sungguh membuatnya tak lagi merasa sia-sia ada.
***

Jika rokok itu tiba-tiba ada di sini. Mungkin ia juga bisa saja tiba-tiba berada di sini. Jika tidak, lalu, apa yang menyebabkan ia ada di pantai itu? Apakah itu kakinya yang menyebabkan ia ada di sana? Ataukah tangannya? Atau justru ia lah yang membuat kaki dan tangannya berada di sana. Tapi ia mengenali jejak-jejak kakinya. Apakah karena ia menjejak maka ia ada di sana? Tapi jejak-jejak yang tertinggal di pasir itu bisa jadi jejak siapa saja kan? Tak melulu jejaknya. Mungkin ia sudah lupa apakah ini jejaknya atau jejak orang lain yang dipikirnya adalah jejaknya. Ah, tiba-tiba ia teringat bahwa ia tak ingin ada.

Akhirnya ia memutuskan untuk terus saja berjalan tanpa mempedulikan bahwa ia berjalan. Ia berjalan meninggalkan jejak. Meski ia tak ingin ada jejak. Karena jejak menandakan bahwa ia ada. Padahal ia ingin sekali meyakini bahwa tak ada yang menyebabkan dia ada dan kelak tak ada. Dia tak ingin percaya sangkan paraning dumadi. Dia ingin percaya bahwa ia tak ada, dan kelak juga tak ada. Tanpa penyebab yang membuat ia ada dan kelak tiada.

Ia tiba-tiba saja telanjang. Tak ia rasakan apa-apa. Rasanya seperti sudah lama telanjang. Seperti sejak dilahirkan. Bukankah memang kita lahir telanjang? pikirnya. Dia merasa tak pernah punya pakaian.
Cahaya masih begitu hangat menyentuh setiap ketelanjangan. Pantai yang telanjang. Laut yang telanjang. Karang besar di samping kanannya yang telanjang. Bulir pasir pun bertelanjang merayakan ketelanjangan. Rasanya Ia ingin bersetubuhan dengan semua yang telanjang itu.

Dan angin datang lagi. Menyentuh ketelanjangannya dengan sentuhan yang telanjang. Lalu ombak pun ada. Bergeliatan di permukaan. Sekali lagi angin datang. Menyentuh dingin geliat permukaan laut. Menyentuh dingin ketelanjangan pada kulitnya. Lalu tiba-tiba, ia rasakan ketelanjangan tubuhnya itu. Ia hanya merasakan ketelanjangan.

Ia masih tak ingin merasa ada. Namun dingin angin terlanjur menyentuhnya dan membuatnya merasa ada. Hanya dingin anginkah yang membuatnya ada? Bagaimana kalau dihiraukan? Toh tak terlihat. Apakah itu dapat membuatnya tiada?

Ia pun memutuskan melanjutkan perjalanan. Bukan perjalanan menyusuri pantai. Tapi perjalanan ke lautan. Lautan yang telanjang. Ia berjalan seperti pulang. Setelah singkat masa tualang. Dihadapnya adalah rahim yang mengembang, membuka, meminta Ia datang.

Ah, ia ingat itu. Ia ingat bau rokok itu. Baunya seperti saat-saat ia dihamilkan, dalam sebuah rahim yang sangat ia kenal. Bau rokok itu, seperti bau lautan. Bau rahim yang mengembang. Ia ingat betul di sana ia belajar menendang. Menunggui tumbuhnya jantung, mata, paru-paru, juga kelaminnya. Termasuk menunggui tumbuhnya jari. Jari yang kan ia hisap sendiri.

Ia meciumi rahim lautan. Ia ingin diselubungi bau itu. Bau yang selalu membuatnya rindu.

Sekarang ia rasakan dirinya bersenang di rahim lautan. Tempat di mana ia datang dan menghilang. Tempat dimana ia ada dan kelak menjadi tiada. Tempat yang menyadarkan bahwa ia memang tak pernah ada. Ia bersenang bersama tembuni lautan, dalam ketuban lautan. Ia bersenang, dalam detak lautan. Pulang, pada rahim lautan.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------

Matahari sudah lebih dari hangat. Bayang karang pun tak lagi memayungi. Enggan barangkali. Namun bulir pasir tetap lembut di sela jari kaki. Dan angin tetap menyentuh lembut kulit ari. Masih mambuatku ingin bertelanjang dengannya, berdua saja.

Tiba-tiba aku teringat akan larangan berenang di pantai itu. setelah beberapa jam, Aku tiba-tiba sanksi atas apa yang kulihat tadi. Apakah benar tertulis DILARANG BERENANG, ataukah DILARANG BERSENANG? Benarkah tadi Aku membaca peringatan itu disela rerimbunan pandan laut, atau aku fikir aku melihatnya?

Betulkan peringatan itu tertulis semacam itu? DILARANG BERENANG maksudku. Bisa jadi tertulis PENGUNJUNG DILARANG BERENANG. Atau BERENANG TIDAK DIPERBOLEHKAN. Bisa juga tertulis DILARANG BERSENANG. Tahu kan maksudku? Terkadang suatu peringatan tertulis dengan kalimat-kalimat lain, namun karena maknanya sama terkadang kita pikir peringatan tersebut tertulis seperti yang kita pikir. Jadi, mungkin saja tidak benar-benar tertulis DILARANG BERENANG.

Haruskah aku kembali pada rerimbunan pandan laut tadi? Sekadar memastikan apakah aku benar melihatnya atau aku pikir aku melihatnya. Jangan-jangan papan tulisan itu memang tak ada. Tapi aku sudah jauh berjalan. Pentingkah mengetahui isi tulisan tersebut? Lagi pula aku sudah lupa rerimbunan yang mana. Di pantai begini ada banyak rerimbunan.

Aku menoleh kebelakang. Masih sebegitu sepi. Hanya ada jejak aki. Kakiku seorang diri. Hey, bukankah dengan mengikuti jejak kakiku aku bisa menelusuri letak papan DILARANG BERENANG tadi. (Atau mungkin juga DILARANG BERSENANG, ah… bisa jadi PENGUNJUNG DILARANG BERENANG, atau apapun lah. Aku tidak pasti sebelum melihatnya)

Aku heran, seperti ada kangker ingatan ganas yang merusak memoriku. Aku hidup. Mengalami banyak hal. Mengingat banyak hal. Namun juga melupakan lebih banyak lagi. Kenapa sesuatu hal menetap dalam ingatanku, namun lainnya harus tersingkirkan? Ini tak seperti menyingkirkan masyarakat kecil yang (dianggap) tidak penting (oleh pemerintahan). Karena banyak ingatan penting yang juga terlupa.

Barusan pun aku melupakan soal penelusuran jejak langkah. Namun di pasir sepanjang pantai ini, jejak ku pun sudah hilang. Tersapu angin dan ombak. Akhirnya aku lupa pada jejakku. Tapi, kenapa ada peringatan itu? Aku senang berenang. Namun, ada peringatan DILARANG BERENANG di pantai ini. Tunggu, aku ingat. Bukan DILARANG BERENANG, tulisan itu tertulis DILARANG BERSENANG. Aku ingat betul. Ya, DILARANG BERSENANG. Namun mengapa DILARANG BERSENANG? Aku suka berenang senang. Di kolam ataupun pantai. Mengapa DILARANG BERSENANG di pantai ini? Apakah jika aku merokok pun menjadi terlarang karena tak boleh bersenang di pantai ini? padahal rokok adalah juga salah satu kesenanganku.

Bagaimana jika kesenanganku adalah memandangi ombak? Apa gunanya aku ke pantai ini jika kemudian aku tak dapat memandangi ombak sesukaku? Larangan bersenang itu begitu aneh. Lagi pula tak ada apa-apa di pantai ini selain keindahan sebuah pantai. Tak ada pelabuhan. Tak ada perahu. Tak ada pohon cemara ataupun kelapa (hanya rimbun pandan laut). Pun malam datang, tak ada bocah yang menatap bintang-bintang.

Sekarang aku meraba pada kelaminku. Rasanya seperti meraba lengan halus Fynn. Ada sesuatu di otakku yang membuat kelaminku ada. Terkadang aku lupa pada kelaminku. Seperti aku melupakan bagian-bagian tubuhku yang lain. Misalnya pada hati, paru, atau ginjalku. Tapi kelupaanku itu tidak menjadikan mereka tak ada. Seperti kelupaanku pada Fynn.

Aku tahu terkadang terjadi sesuatu pada kelaminku yang membuat jantungku berdetak lebih cepat. Seperti ketika aku bersentuhan dengan kulit ari Fynn. Sesuatu pada kulitnya meyakinkanku bahwa jantungku ada. Sesuatu pada kulit Fynn meninggalkan jejak di kulitku seperti jejak kakiku di pasir sepanjang pantai.

Tapi Fynn, memutuskan bersenang pada lautan.
Apakah ini semacam gangguan pada ketiadaan?
Ya, mungkin ini semacam gangguan karena ketiadaan.

Comments

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual