Detak senja

Cintakah ini? Meski malam-malamku penuh dengan lindapan bayangmu, tak juga dapat kukatan cinta. Ini hanya satu dari tali temali yang masai.

Metro TV masih saja memutar debut wawancara Ibas Yudhoyono, sudah tiga hari belakangan. Kuingat jelas gerak-geriknya, mata yang tak berani menatap kamera, gerakan yang perlahan, seperti kloning ayahnya dengan segala gerak yang tertata.

Kalau sudah begini, aku jadi merindukan pertandingan sepak bola yang tak pernah kusuka itu. Betatpapun tidak sukanya, pertandingan sepakbola selalu lebih menyenangkan jika dibandingkan dengan wajah Ibas dan Ruhut yang muncul sehari tiga kali di layar kaca.

Pertandingan sepak bola selalu dapat membuat tetangga berkumpul. Masih kuingat gempita menyoraki kemenangan dan mencemooh tiap kekalahan. Selalu menyenangkan melihat kumpulan orang yang berbahagia, meski aku tak pernah bisa mengerti apa yang bisa dirayakan dari 22 lelaki berlarian mengejar gelinding bola. Mungkin akan kupertimbangkan untuk mengikuti perayaan tersebut apabila selama jalan pertandingan ke-22 lelaki itu telanjang.

Seperti ketelanjanganku di hadapmu. Hingga dapat kau pandangi tiap lekuk tubuhku. Hingga ku rasai jemarimu di dadaku dan detak jantungmu menjadi nafas bagi paruku.

Malam itu, aku masih tak mengerti, mengapa detakmu begitu cepat, begitu keras. Hingga kurasai sampai ke jantungku. Awalnya kukira detak itu milikku, detak yang dipompa oleh darah dari hatiku. Pelukmu membuatku tersadar bahwa detak itu ada di balik mata biru. Mata yang memandangiku. Mata yang berbinar meski berceloteh datar. Seperti lautan tanpa ombak yang memeluk karang.

Sungguhkan biru itu benar-benar dalam mata yang kutatap dalam-dalam ini? Saat sinar matahari menimpa dan pupilmu mengecil, aku seperti melihat abu-abu dlam matamu. Namun kala senja, rasanya seperti cokelat terang. Atau mungkin hijau? Belum pernah aku begitu peduli pada bola mata seseorang, pada warnanya, pada cara pupilnya membesar dan mengecil. Mata yang selalu tertawa bersama dengan tarikan bibir tipis itu.

Mungkin memang buka cinta. Namun aku memikirkanmu.

Kudapati mimpi semalam. Inginnya nyata selayak detakmu dalam pelukku. Benarkah itu malam? Benarkah itu kau, di dalam mimpiku? Mimpikah itu?

Masih kurasai kecupmu di leherku. Meninggalkan bekas kemerahan. Entah kapan kau membuatnya. Aku baru menemukan tiga titik merah keesokan paginya. Mengapa tak kurasai kecup itu? Mabukkah aku semalam? Rasanya tidak. Konyol jika ada yang mabuk lantaran bir rasa strawberry. Bukan jenis minuman yang kan kurekomendasikan.

Aku juga bukan penikmat minuman yang baik. Jus jeruk dengan rhum saja sudah cukup. Aku suka yg kasual, tanpa kerumita detail. Lebih mudah dinikmati.

Juga untuk hubungan.

Tak juga perlu ada cinta.

Kali ini aku yakin malam. Ya, malam. Malam itu dingin menggesermu hingga hadapku. Dingin yang entah sejak kapan tergantung di dinding kamarmu. Dingin yang tak pernah kita pedulikan.

Kau tahan getar udara yang melingkar, bergoyang. Aku rasa kau agak sedikit gugup. Aku yakin dari detak mu. Pendek, cepat, dan keras. Akui saja. Lagi pula, aku tak berkepentingan apapun. Tak kupedulikan gugupmu. Ayo usap kepalaku. Sampai kau memiliki sedikit alasan untuk mengusap sisa tubuhku.

Jika tak juga kau temukan alasan, sebaiknya kita terus saja berceloteh. Celoteh kecil kita. Sok tahu. Soal pemerintahanku dan pemerintahanmu. Perang. Demokrasi. Sanitasi. Tembok berlin. komunisme. Hitler. Stalingard. Budak. Okupasi. Toleransi. Celoteh sok tahu. Meski kita selalu berbantah, tetapi diam-diam aku jatuh hati pada tiap argumenmu. Argumen yang selalu menarik untuk dibantah.

Bantahan-bantahan itukah yg mengurangi gugupmu? Atau debat konyol kita soal apakah hitler tetap akan membunuhi Yahudi jika ia dapat mengokupasi Rusia?

Tak pernah kutahu alasannya, tetapi aku yakin kau merasa sudah memiliki alasan tepat untuk mulai sampai ke punggungku. Seperti air yang mengalir berkelok-kelok di genting ketika penghujan. Sebentar lembut, sebentar deras. Hingga sampai di tubirnya, menetes sederas magrib. Ah, magrib, senjakah itu?

Kala itu, aku masih bersetia menunggumu hingga memiliki alasan lain untuk bagian tubuh selanjutnya. Seperti siang yang bersetia menunggui malam, meski ia tahu hanya senja yang dapat ditemui.

Comments

Popular posts from this blog

Karena usia cuma deretan angka-angka!

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual