kartu point reward, dan cara masyarakat menangkap Tuhan di dalamnya

*catatan membunuh risau dan bosan pada halte dan stasiun



Siang itu kartu the bodyshop (TBS) people saya tidak bisa digunakan, lalu saya disarankan untuk membuat kartu baru. “Sekarang model kartunya baru loh mb. Kartu mba ini, keluaran lima tahun lalu ya? Sekarang modelnya sudah beda,” kata petugas TBS. Toh juga tidak rugi, maka saya mengiyakan sarannya.

Selanjutnya saya harus menulis data diri. Agak mengejutkan ketika agama menjadi salah satu yang harus dicantumkan. Sontak saya bertanya, apa hubungan antara agama saya dan sebuah kartu point reward. Tentu pertanyaan di dalam hati saja, karena saya yakin si petugas pun tidak berwenang mengenai apa yang harus dan tidak harus dicantumkan saat pengambilan keputusan. Pun keukeuh bertanya, saya tak yakin akan mendapat jawaban memuaskan.

Ini bukan soal saya beragama atau tidak, bukan soal apa agama saya, tentu juga bukan soal malu atau takut mengakui agama saya, tetapi saat pertanyaan mengenai berapa pendapatan anda sebulan, berat badan, atau umur saja bisa menjadi pertanyaan yang kurang sopan, mengapa pertanyaan mengenai agama dianggap lumrah?

Mungkin ini thesis yang salah, tapi di Indonesia, setidaknya di lingkungan yang pernah saya ketahui, banyak yang beragama sebagai bentuk melembagakan diri. Mencari orang-orang yang sama dan dapat membantu mengikis rasa keterpisahan diri atas dunia luar dengan cara mencari orang-orang yang sama.

Meminjam istilah Erich Fromm, manusia adalah kehidupan yang sadar akan dirinya. Kesadaran akan dirinya dan sekitarnya, serta keterpisahan akan asalnya (tentu umat beragama kebanyakan yang saya ketahui diajarkan hidup untuk mempersiapkan hidup sesudah mati, yaitu hidup asalnya) membuat disunited existance (eksistensi tak bersatunya, keterpisahan manusia) menjadi suatu bentuk yang mengerikan.

Kengerian akan keterpisahan itu membentuk budaya mengenal tuhan, pemujaan pada dewa, atau bentuk lainnya dalam ritual, mantra-mantra, gerakan-gerakan, hingga mencapai trance, keadaan di mana orgasme membawa pada hilangnya batasan penyebab keterpisahan pada dunia luar.

Kembali mengutip Fromm, orgasme semacam itu adalah menggelegak, berapi-api, dan cepat. Mungkin semacam trance menggunakan obat bius atau saat berhubungan seksual.

Mungkin hal inilah yang membuat hubungan personal dengan Tuhan (saja) tidak cukup bagi beberapa orang. Dibutuhkan adanya kesatuan di mana orang-orang yg tergabung di dalamnya berada pada situasi masokhistik, membiarkan diri untuk patuh pada suatu perintah atau mungkin siksaan yang sama, sehingga menanggung hal yang sama dan tak lagi ada keterpisahaan. Situasi yang lebih membutuhkan kesamaan ketimbang kesatuan. Situasi yang secara tak sadar membawa individu di dalamnya pada situasi terkonformitas.

Tentu “trance” dalam konformitas ini jauh lebih stabil ketimbang trance individu ketika menghadap tuhannya. “Trance” ini menjadi hal nyaman bagi individu sehingga mereka mencari dan mencari individu lain guna “mengamankan” kesempatan “trance” mereka itu.

Tak seperti kesatuan melalui hubungan personal dengan Tuhan maupun trance dalam hubungan seksual, kesatuan dalam konformitas lebih tenang dan rutin, tidak menggelegak. Semacam penyerahan diri pada tanya yang tak berjawab, tanpa ada perasaan salah karena ada banyak individu lain yang sepenanggungan.

Hal inilah yang kemudian (mungkin) melembaga, dan sering kali melupakan hubungan personal antara seseorang dengan Tuhannya.

Dalam konformitas ini, manusia adalah bentuk patuh, masokhisme, sementara tuhan dalam pandangan mereka adalah sosok sadisme, bentuk yang ingin mendominasi dan tidak memberi ruang bagi objeknya untuk berfikir. Hal ini membawa manusia dalam jerat seperangkat aturan yang tak terbantahkan.

(Tentu saya tak sepenuhnya sepakat, dalam agama yang saya pelajari 23 tahun belakangan, Tuhan adalah tokoh yang melepaskan, yang berkata bahwa ia tak akan mengubah nasib suatu kaum tanpa kaum itu mengusahakan, suatu zat yang berkata Iqra dan Fa'tabiru, bacalah dan berfikirlah! Tetapi tak bisa dipungkiri, bahkan banyak orang yang seagama dengan saya meletakkan Tuhan sebagai tokoh sadisme yang menuntut kepatuhan maksimal tanpa ruang untuk berfikir lebih jernih, bukan sekadar meniru budaya suatu wilayah di mana agama tersebut pertama-tama berdiri.)

Hal-hal mengerikan ini telah menghilangkan agama dan tuhan dalam bentuk personalnya di negara ini. Agama adalah lembaga mengerikan, yang jika kamu tidak memilih untuk berada di dalamnya maka kamu adalah pendosa yang tak terampunkan kesalahannya.

Saya tidak mumpuni untuk menyalahkan agama. Saya tidak sedang menyalahkan agama. Saya tidak sedang menyalahkan apapun. Hanya saja saya pikir Tuhan punya tempat yang jauh lebih berguna selain sebagai penanda di kartu-kartu identitas.

Lagi pula, begitu dia ada atau tiada di kartu identitas, apakah itu menjadi hal yang mengukuhkan ada atau tiadanya seseorang? Sama halnya dengan pertanyaan apakah keberadaan saya hanya meng-ada ketika saya memiliki kartu identitas?

Ahmadiyah misalnya, tak ada agama itu dalam kartu identitas, mungkin hal itukah yg menyebabkan pemerintah enggan peduli pada ke-ada-annya? Sehingga hanya bisa prihatin sambil membiarkan yang ‘tiada’ kembali menjadi tiada?

Saya bukan pembaca intense Erich Fromm. Bingung saya melihat cara-cara beragama di indonesia ini. Apakah ‘trance’ bagi kelompok Baasyir, FPI dan lain-lain bukan hanya pada konformitas mereka, tetapi juga akhirnya karena konformitas dan masokhisme itu semakin kental, mereka mulai memaksa orang-orang lain untuk masuk dalam lingkaran mereka sebagaimana yang (mereka pikir) dititahkan oleh Tuhan mereka?

Atau jangan-jangan segala yang mereka lakukan justru manifestasi dari segala ketakutan yang tidak tampak? Karena mereka belumlah merasa aman dengan hubungan keagamaan yang selama ini mereka bangun. Mereka justru terus mencari cara untuk menghilangkan keterpisahannya, mengira-ngira cara terbaik salah satunya melalui pembantaian-pembantaian yang mereka lakukan.

Seperti ketika seorang anak kecil yang dengan kejamnya mencari tahu mengenai capung dengan cara mempreteli sayap capung. Begitu juga cara mereka mencari cara mengatasi keterpisahan dan ketakutan yang tak tampak itu.

Comments

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual