Jam Sembilan Pagi

Jam sembilan pagi, aku baru bangun dari tidurku. Ada yang lindap dalam darah, entah alkohol yang kuminum semalam, entah jilat liar di dadaku.

Entahlah… yang pasti kepalaku terasa lebih ringan. Alkohol menghapus semua ekses tentangmu dari labirin di dalamnya. Seperti melongok perigi di halaman belakang: gelap dan sepi. Hanya ada sedikit gelombang aneh tak menentu, kadang lunak, kadang terasa menusuk.

Strawberry caramel dan sedikit rhum mengundang siapa saja untuk tak menahan diri. Ditambah botol-botol vodka yang kuminum tanpa gelas, setiap kemabukan membuatku menyingkirkan apa saja tentang mu dari jangkauku.

Tiap tetes vodka meluruhkan imaji memorri akan hangatmu. Bahkan juga bekas kecupmu di dadaku yang kita abadikan bersama lewat rajah mawar merah. Sekilas mawar itu lenyap, layu barangkali, atau mungkin ada yang memetiknya dari dadaku.

Masih jam sembilan pagi. Matahari masih belum menyentuh dinding kamar. Kalah oleh gemuruh hujan. Hujan yang membuatku ingat pada binar matamu. Hujan yang membuatku melupakanmu.

Jendela masih rapat. Pintu masih terkunci. Tak ada secuil sinar yang sanggup menyingkirkan bau mu dari kamar ini. Bahkan bau alkohol saja tidak, apalagi bau hujan.

Jam sembilan pagi. Sepertinya dunia di luar sana mati. Tak ada setitik pagi. Yang ada hanya sketsa tinta merah serupa goresan tak berbentuk pada kertas berserak. Barangkali semalam aku membuatnya, ketika mabuk melanda dan perlahan kulupakan juga tetek bengek soal dirimu. Yakinlah, karena tak sedikitpun kertas itu memiliki hubungan denganmu.

Ah… tadi malam tak sempat kulihat bintang.

Namun sempat kumelihat serial imaji yang diperbincangkan seluruh dunia. Kekonyolan lain dari kotak bernama televisi. Apalagi kalau bukan cinta yang dijadikan komoditi.

Juga semalam sempat kutelanjangi diri sebelum benar-benar di ambang kemabukan. Awalnya hanya ingin merasakan aliran air dalam genggan jari. Namun kumandi juga dengannya. Entah apa bisa disebut mandi jika yang kulakukan hanyalah berdiri di bawah pancur air. Lima belas menit mungkin. Menikmati setiap alirnya di sela rambut masai ku.

Jam sembilan pagi. Dari mana sebenarnya hitungan pagi? Dari tepatnya kedua jarum berebut menindih angka dua belas? Dari kokok parau ayam jantan tetangga di kampung? Atau dari rayap sinar jingga di sudut kota? Entahlah, mungkin sepagi ini seharusnya aku tak peduli pada hitungan pagi.

Jam sembilan pagi. Aroma alkohol masih kental di kamar ini, seperti sisa kecupmu di sini.

Comments

Popular posts from this blog

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Aku tumbuh sembari membenci payudara

keterbiasaan pada pelecehan seksual